Sinopsis
Kata sebagian orang tidak ada yang namanya dua
sahabat antara laki-laki dan perempuan, yang ada hanyalah cinta yang bertepuk
sebelah tangan atau perasaan keduanya yang sedang bermetafosis menjadi sesuatu
yang berbeda, benarkah?
1
"VANILLAAAA KIARAAAA BANGUUUNNN!"
Suara bencong milik Vandy kakak laki-lakiku memekakkan telingaku di pagi hari
yang cerah ini. Aku tidak tahu sebenarnya dia laki-laki atau perempuan karena
jika dia teriak suaranya benar-benar seperti perempuan.
"IH MAMA VANILLA GAMAU BANGUN TUH MA!"
Kali ini suara milik Vika kakak perempuanku memekakkan telinga. Ya Tuhan,
pagi-pagi saja sudah seperti ini.
"MAA VANILLA TUH MAA!" teriak mereka berdua.
Aku menggeliat di atas kasurku dan mencoba untuk membuka mata. Sejenak
mengerjap-ngerjapkan mata untuk menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang
masuk melalui jendela kamar.
"Pada bacot-bacot banget tau ga," ujarku datar masih merem melek.
"Ya jelas bacot lah kita! Tuh liat jam berapa sekarang!" pekik Vika
sambil menunjuk ke arah jam weker di meja samping tempat tidurku.
Aku menoleh ke arah jam weker dan, "DEMI APA JAM TUJUH KURANG DUA PULUH
MENIT?!" sekarang aku yang histeris.
"DEMI TU-HAAAAN," teriak Vandy meninggalkan kamarku seraya
cengengesan. Virus eyang subur memang sudah membabi buta.
"Cepetan sana mandi! Tuh Rega udah nungguin daritadi di bawah!" Vika
melempar sebuah handuk kepadaku dan dengan tangkas aku menangkapnya. Buru-buru
aku lari ke kamar mandi lalu mandi ala kadarnya serta gosok gigi.
Tidak sampai 10 menit aku telah siap berangkat ke sekolah. Ini sungguh rekor
dunia! Bagaimana bisa seorang murid berseragam putih abu-abu bersiap-siap ke
sekolah hanya dalam waktu 10 menit? Hanya aku yang bisa, dunia. Ingat itu!
Mama, Papa, Vika, Vandy, dan Rega tengah duduk di meja makan. Vika dan Vandy
masih sibuk berebut selai kacang. Sedangkan Rega asyik melahap rotinya.
"Iss apaan sih Rega cepetan berangkat malah asik makan lagi lu!"
ujarku saat sampai pada tangga terakhir. Bergegas cepat ke meja makan dan
mengambil selembar roti tanpa selai dan langsung menyambar tangan Rega yang
sedang memegang roti.
"Woy mandi apa mandi tuh cepet banget gila," sahut Vandy.
"Diem lu ah - CEPETAN REGA BE-RANG-KAT!"
"Vanilla, jangan teriak-teriak gitu dong," sela Mama.
"Iya maap Ma - Reg-"
"Iye bentar,"
"BERANGKAT DULU YA SEMUAAA - JANGAN RINDU PADAKUUU!" teriakku di
ambang pintu. Membuat Mama dan Papa hanya geleng-geleng kepala melihat
tingkahku.
Pada akhirnya aku berangkat juga dengan Rega. Dengan motor gede berwarna
hitamnya seperti biasa. Rega sahabatku dari SD. Lebih jelasnya nanti saja deh,
nanti juga tahu sih sebenarnya.
"Lo mandi apa mandi sih tadi?"
"Hah? Apaan?" suaraku jadi samar-samar karena mulutku di penuhi oleh
kunyahan roti. Lagipula suara Rega tidak terdengar karena jalanan ramai sekali.
"Lo mandi apa mandi tadi, budek!"
"Kurangajar lo!" ku tempeleng helm nya dari belakang.
"Kebiasaan lo nempeleng-nempeleng. Lo gatau itu bahaya? Bisa aja gue
tiba-tiba oleng terus gue ga bisa ngendaliin diri terus-"
"OW OW OW I REALLY DON'T CARE! EVEN IF THE STAAARSSS-"
"Berisik! Suara lo fals,"
"HAA BODO,"
Buru-buru aku turun dari motor Rega dan berlari-lari sebisaku. Akibat dateng
hampir-hampir terakhir motor Rega kebagian parkiran yang lumayan jauh dari pintu
gerbang untuk para siswa-siswi masuk.
"Tungguin woy!" kata Rega di belakangku dan berusaha mengejarku.
"Ih mampus lu gue balap!" dan sekarang posisinya Rega berada di
depanku.
"Ngeselin banget sih! Tungguin woooyyy!"
"Boam," Rega malah melambai-lambaikan tangan ke atas sambil berlari.
Membuatku kesal karena ulahnya.
Tepat sekali Bu Siska, sang guru BP hendak menutup gerbang aku dan Rega masuk.
Kami hanya cengar-cengir kuda kepadanya dan di balas dengan delikan maut oleh
Bu Siska. Aku dan Rega beda kelas. Namun, kelas kami bersebelahan. Aku masuk ke
dalam XI IPS 2, sudah ramai oleh anak-anak yang tengah sibuk dengan urusan
masing-masing.
"Gaasik lo ga telat," kata Bagas.
"Maksud looo?"
"Ya kan kalo lo telat seengganya ada hiburan gitu buat kita," tambah
Ifa.
"Emang lo ya pada temen macem apaan sih,"
****
Pelajaran sosiologi memang paling membosankan seluruh dunia. Sepanjang
pelajaran aku hanya mengetuk-ngetukkan pulpenku ke atas meja sambil beberapa
kali menguap. Kulihat sekeliling kelas sama bosannya denganku.
"Karena hari ini ada rapat guru-"
"Kita free nih pak?" sambut Bagas antusias.
"Ya, sebagai gantinya kerjakan hal-"
"ASIK GILAAA!" teriak satu kelas.
Pak Rusdi selaku guru sosiologi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah
laku anak didiknya. Ia keluar dari kelas dan kami pun merdeka.
"Eh, main yuk main," ajak Bagas, siap dengan kesepuluh jari
tangannya.
"Yuk, yuk," sambutku dengan Ifa.
"A B C lima daaaaasar! A, B, C, D ---- M!"
"Gue gue gue," kata Ifa. "Apa yang di lakuin Pak Rusdi pas rapat
guru?"
"Emmh, mewek!" Bagas menggebrak meja dan membuat jari-jari tangan
kirinya membentuk pistol.
"M - M - Ah, gue tau! Macarin Bu Siska! Huahahaha," kataku sambil
tertawa-tawa.
"Gue, gue, ya jelas dia lagi menikah lah sama Bu Siska!"
"HAHAHAHA ANJIR!"
"Lagi lagi, A B C lima daaaaasar! A, B, C, D, ---- L tuh L!"
Tanpa permisi Rega masuk ke dalam kelasku. Tampangnya sama kesenengannya
denganku dan lain-lain. Pasti kelasnya juga tidak ada guru.
"Ke bawah kek lo semua kelas gue mau maen basket nih sama kelas
ujung," kata Rega.
"Ikut dong gue," kata Fadli, ketua kelas. Dan semuanya menjadi riuh
kembali. Apalagi yang cewek-ceweknya.
"Gue ya gue," kataku tak menghiraukan suasana kelas. "Iss Ifa!
Bagas! Dengerin gue!"
"Iya iya maap bos,"
"Apa yang di lakuin Rega kalo abis main basket?"
"Apaan tadi? L ya? Jelas lompat-lompat lah, pendinginan gitu
ceritanya,"
"Ha bego,"
"Gue gue gue! Emm, liatin bokep!" sontak kami bertiga tertawa keras.
"Dih ngomongin gua lu pada ya!" tiba-tiba Rega sudah berada di antara
kami.
"BUBAR BUBAR," teriakku.
2
By. MRs.M dan Lisha
Pulang sekolah aku menunggu Rega di parkiran di temani oleh Ifa dan Bagas.
Selain Rega, mereka berdua juga termasuk sahabatku sejak awal aku menginjakkan
kaki di SMA Pelita Harapan. Kami bertiga duduk-duduk di motor orang sambil
ngobrol ngalor ngidul.
“Alah lama banget dah si Rega,” kata Bagas.
“Ya lo kan tau die kalo jalan kaya putri keraton,” jawabku.
Dari arah samping Rega berjalan ke arahku dan seketika menoyor kepalaku dari samping.
“Bilang apa tadi?” ujarnya berkacak pinggang.
“Lo kaya putri keraton,” aku melipat kedua tanganku di depan. “Apa lo?”
“Cie elah berantem mulu macem tikus dan gajah,” Ifa berdehem-dehem tidak jelas.
“Jadi maksud lo Rega gajahnya? HuahaHAHAHAha,” membayangkan Rega berbadan
gendut, besar, seperti gajah yang siap menginjak-nginjak orang. Aku tertawa
lebar, mungkin lalat bisa saja tiba-tiba masuk ke dalam mulutku.
“Yeh songong,” tunjuk Rega ke arah aku dan Ifa.
“Canda teman!” Ifa menepuk bahu kiri Rega dan berpaling ke arah Bagas yang
sibuk dengan ponselnya.. “Gas, gue nebeng yak!”
“Sok basa-basi lo, biasa juga langsung duduk mingkem di jok belakang,” Bagas
mengalihkan perhatiannya pada ponselnya yang di sambut dengan cengiran lebar
Ifa.
“Dari kemaren lo megangin hape terus sih, Gas?” tanyaku.
“Bagas lagi jatuh cinta sepertinya,” sambung Rega.
“Apaan dah lo pada,” Bagas sewot. Namun, mukanya menunjukkan raut wajah
senyam-senyumnya.
“Bagas kan lagi ngegebet Dita anak IPA 5,” sahut Ifa sambil melirik-lirik ke
arah Bagas. Yang di lirik hanya memasang wajah seakan-akan berkata, “Diem si
lu!” sambil memelotot-melototkan matanya.
“OH DITA YANG ITU?!” kataku sengaja ku teriak-teriakkan agar semua orang tahu.
Dan benar saja hampir semua orang yang sedang lewat menoleh sebentar kepadaku.
“Ck, kebiasaan ah lu ngumbar-ngumbar rahasia,”
“Ups, jadi itu rahasia? Jadi itu bener? Cie Bagas cie, CIEEEE!”
“Cek dulu gih Gas, si Dita udah punya monyet apa belom,” kata Rega.
“Setelah observasi selama tujuh hari tujuh malam. Riset menunjukkan bahwa Dita
belom punya monyet,”
“Aduh bahasa lo kawan,”
Lama kami saling meledek Bagas yang baru ketahuan sedang ngebet orang. Memang
bahaya jika sudah ketahuan rahasianya oleh kami ber-empat. Aku dan Rega pulang
karena hari selasa jadwal aku bimbel.
“Males bimbel niiiihhh,” kataku duduk di jok belakang motor Rega yang tengah
melaju membelah jalan.
“Ya gausah bimbel lah ribet,” sahut Rega. “Lagian gegayaan banget pake
bimbel-bimbel segala kalo ujung-ujungnya sering bolos,”
Aku memukul belakang helmnya seperti biasa, “GUE JARANG BOLOS SIH YEE,”
“Nyantai kali mbak,”
“UDAH PALING NYANTAI KALEE,”
“Jadi mau bimbel apa ngga?” tanya Rega.
“Gak. Gue ke rumah lo aja,”
****
Motor gede Rega masuk ke dalam kediaman keluarga Mahardika. Satpam di depan
yang bernama Pak Mukhlisin tersenyum sumringah kepadaku. Memang sudah dua
minggu yang lalu aku tidak ke rumah Rega karena sibuk ujian-ujian yang hampir
menenggelamkan diri ini.
“Eh si gentong kok udeh pulang?” Rega berjalan ke arah adik nya yang tengah
bermain ps sambil memakan cemilan beijibunnya. “Makan mulu lu gentong!”
“MAA BANG REGA TUH GANGGUIN AKU MULU,” seketika langsung di bekap oleh Rega.
“Eh, berisik tau gak tong?”
“Hmmphhh,” Galih, adik Rega yang baru tahun kemarin mengikuti masa orientasi
sekolah menengah pertama. Sekarang suaranya hanyalah seperti redaman bom yang
siap meluncur jika di lepaskan. “AAAA MAMAAAA,”
“Anjir gapake gigit berapa sih gentong!” Rega melepaskan tangannya karena di
gigit oleh Galih.
“Gigit lagi Gal yang kenceng!” seruku pada Galih dan duduk di sofa.
“Sialan lo!” sembur Rega.
“Kak Vani kok mau-mau an aja sih temenan sama bang Rega? Dia kan kaya gembel,”
komentar Galih.
“Buat aku jadiin supir lah lumayan nganterin pulang pergi ke sekolah,”
“HAHAHA,” Galih hanya tertawa melihat Rega yang mendelik ke arahku.
“Ke atas aja Van – eh iya, mama dimana sih tong?” kata Rega sebelum naik ke
anak tangga.
“Pergi arisan,”
“Oh, jadi lo ngibulin gue tadi? Pake segala sok sok an ngadu ke mama – awas aja
jatah cemilan lo gue abisin!”
“Ambil aja sono! Galih bisa minta beliin lagi kali ke mama,”
****
Aku tiduran di kasur Rega sambil menunggu Rega mandi. Suara shower masih bisa
ku dengar dari sini. Rega bukan laki-laki yang cuek dalam merawat dirinya.
Kamarnya bersih dan harum melebihi kamarku yang sudah seperti piring pecah.
Jika Rega sedang main di kamarku komentarnya pasti selalu sama.
“Anak cewek gini amat si lo,”
Dan aku hanya bisa menjawab.
“Bodo amat,”
Kenyamanan yang di berikan oleh kasurnya membuatku perlahan memejamkan mata.
Ngantuk. Hingga aku benar-benar memejamkan mataku beneran. Samar-samar masih
bisa ku dengar suara pintu kamar mandi di buka dan suara Rega yang mendekat ke
arahku.
“Van?”
Aku masih bisa mendengar suara Rega. Namun, mataku seperti tidak mau
berkompromi untuk sekedar membuka mata barang hanya sedikit. Otakku dan mulutku
sepertinya sedang korslet dan mempunyai
“Suka-suka gue kali. Gue tau kok gue cakep,”
Sesungguhnya aku tidak sadar mengatakan kalimat tadi. Seratus bahkan sejuta
persen itu mutlak refleks dari alam bawah sadarku. Aku membetulkan posisi agar
lebih nyaman serta menarik selimut yang berada di paha.
“Dasar goblok,” gumam Rega melihat tingkahku. Mau tidak mau Rega tersenyum juga
melihat pemandangan di depannya sekarang.
***
3
Sedari tadi aku sibuk mondar-mandir ke segala penjuru kamar mencari sesuatu
yang hilang. kamarku sekarang sudah tidak lazim lagi untuk disebut sebagai
kamar.
“Mati nih gue kalo ampe beneran ilang,” sungutku. “Besok harus siap dengerin
gorila ngamuk nih kayanya,”
Aku meminjam catatan Ekonomi Rega kemarin dan bego nya Rega catatan sama
latihan di gabung menjadi satu buku. Sebenarnya Rega tidak bisa di bilang bego
juga sih, karena ya emang itu kebiasaannya dia. Dan sekarang buku catatan itu
hilang tenggelam di telan bumi. Dan katanya latihan 20 soal yang di jadikan PR
harus di berikan pada Pak Rusdi besok. Dan walaupun Pak Rusdi bukan termasuk
guru killer, tapi --- kalo marah menyeramkan juga.
Dan, aku bingung harus mengatakan apa.
Aku mengambil ponselku yang tergeletak di ujung kasur dan membuka twitter.
Segera ku ketikkan sebuah huruf-huruf untuk Rega.
@VanillaKiara hai @RegaMhrdk apa kabar?
Aku mengirim sebuah mention untuknya di twitter. Tidak sampai 5 menit Rega
membalasnya. Dia juga sedang online karena kulihat ia sedang membalas mention
beberapa dari teman kelasnya dan lainnya. Biasalah, Rega gitu anak eksis.
@RegaMhrdk kesambet apalu nanya begituan
@VanillaKiara ngga jadi deh nanyanya
@RegaMhrdk Bawa buku ekonomi gua besok!
Tuhkan, mampus gue. Dia inget lagi!
Sekali lagi aku mencoba mencari ke seluruh penjuru kamar. Namun hasilnya tetap
sama, nihil. Aku keluar dari kamar dan turun dari tangga dengan terburu-buru.
Bisa saja buku catatan Rega tertinggal di ruang tv atau meja makan.
“Minggir, minggir!” kataku pada Vandy yang sedang menonton bola.
“Apaan si,” Vandy yang merasa terganggu melempas sebuah kulit kacang. Aku tidak
membalasnya karena sibuk dengan pencarianku. Vandy yang bingung karena tidak
biasanya aku tidak membalas bertanya padaku. “Ngapain si lo?”
“Nyari buku catetan,” jawabku di sela-sela kesibukan melempar-lempar bantal
sofa.
“Catetan apaan?”
“Cateten ekonomi nya Rega,”
“Di sampul gak?”
“Rega mana pernah nyampul buku,”
“Gambarnya dragon ball?”
“Iya – ih ngapain juga lagi gue jawab pertanyaan lu. Elah, berisik!” aku
seperti mendumel-dumel pada diri sendiri. “Ck gimana nih nasip gue besok,”
“Bukunya sedeng apa kecil?”
“SEDENG ELAH BERISIK LU KAK,”
“YAELAH GUE CUMA MAU MASTIIN KALI ITU DI SAMPING TV BUKU SIAPA!” refleks aku
menoleh ke samping tv dan buku catatan Rega ada disana.
“Huwaaa akhirnya setelah sekian lama aku menunggu!” aku mengambil buku Rega
dengan cepat dan berjalan menuju Vandy lalu mencium pipinya. “Love you banget
deh ah, mwah!” sebelum kena sambit oleh Vandy aku sudah ngacir ke atas.
“WOY,” suara Vandy menggema sampai ke atas. Aku hanya tertawa cekikikan
mendengar Vandy misuh-misuh sendiri.
***
Aku sedang asyik bermain subway surf di iPad seraya menunggu Rega kembali dalam
kamar mandi. Sore ini kami berdua makan di Bebek Setan pak Slamet, tempat makan
favorit kami berdua. Selain harganya cukup buat kantong anak sekolahan,
bebeknya demi Tuhan enaknya tiada tara. Disini bisa memesan sambalnya untuk level
semaumu. Level satu adalah satu sendok sambal dan seterusnya.
Rega tidak pernah memesan selain level dua, karena dia tidak terlalu suka
sambal. Sedangkan aku selalu memesan level lima. Rega cupu, aku tidak. Rega
jelek, aku cantik. Oke abaikan.
“Bulan depan gue ada turnamen,” Rega menghabiskan suapan terakhirnya.
“Hm,” jawabku singkat.
“Lo dateng ya. Awas aja kaya taun kemaren, lo malah seenak-enaknya tidur!”
“Iya,”
“Serius Vanilla!”
“Iya Rega,”
“Gue pokonya bakal ngambek sama lo tujuh turunan kalo lo gak dateng, serius.”
“Hm,”
“Dengerin gue ga sih?”
“Denger,”
Karena kesal mendengar jawabanku yang super singkat, Rega mencoba meraih iPad
yang sedang ku pegang. Terjadilah tarik-tarikan di antara kami.
“Tuh kan elah gue jadi kalah! Ahelah udah hampir satu juta juga ngeselin banget
si lo Ga, bodo gatemen gue gamau dateng ke turnamen lo,” cerocosku. “Ha! Jangan
harap besok gue mau ngomong sama lo, ga akan.”
“Vanilla cantik—“
“Emang,”
“Ya Tuhan cewek modelnya gini amat si,”
“Masbulo?”
“Dasar lo alay bahasanya di singkat-singkat,”
“Es-ka es-ka ge-we ka-el,”
“Ribet – gue cabut ah, lo lagi gamau ngomong sama gue kan? Jangan harap gue
kasih tebengan!” dengan satu tarikan ia menyambar tas nya dan berjalan cepat
keluar tempat makan.
“NGGA JADIIIIIII! TUNGGUUUUIIINNN!” aku gelagapan untuk berdiri dan mengejar
langkahnya. “Batal deh batal, gue tarik omongan gue tadi – nanti gue pulang
sama siapa kalo bukan sama lo?”
“Bilang dulu,” Rega sudah senyum-senyum minta di tabok. “Kakak Rega yang
ganteng, boncengin aku pulang dooongggg,” kata Rega dengan suara yang di
menye-menyekan.
“OGAH DEMI TU—HAAN!” gara-gara Vandy suka ngomong seperti itu aku jadi
terbawa-bawa kan.
“Yaudah kalo gamau sih,” Rega mengambil helmnya yang tersampir di spion
kanannya bersiap untuk memakainya.
“Eh, eh, mau kemana? Iya iya elah tunggu,”
“Cepetan,”
Aku menarik nafas panjang lalu perlahan menghembuskannya. Kulakukan itu selama
kurang lebih tiga kali.
“Lama banget dah berasa lagi nunggu kopaja,” sindir Rega.
“Sabar dong lagi nguatin iman nih!”
“El-be-ye,”
“Sekarang lo yang alay di singkat-singkat,”
“Boam, cepetan elah bilang. Gue pen cepet pulang nih,”
Aku menarik nafas sekali lagi, “Kakak Rega yang—“
“Ga kedengeran bro,”
Aku mengerucutkan bibirku, sialan padaha itu sudah lumayan keras menurutku.
“Kakak Reg—“
“Gue pulang aja deh sekarang – byee,”
“KAKAK REGA YANG GANTENG ANTERIN AKU PULANG DOOONGG!”
“Huahahaha – oke adik, ayo sini sini naik ke belakang,”
“Jijik,”
Dari Bebek Setan Pak Slamet hanya menempuh jarak 15 menit untuk sampai ke
rumahku. Aku mengeluarkan iPod dan memasangkan earphone pada telinga. Lagu I
Surrender milik Celinedion mengalir syahdu dari telinga.
“Cause I’d surrender everything – To feel the chance to live again – I reach to
youuu – I know you can feel it too – We’ll make it through – “
“I SURRENDEEEEERRRR! AAAKKK uhuk uhuk huek,”
Bagian terakhirnya tolong abaikan. Di depan, Rega susah tertawa-tawa ngakak
karenanya. Gue benci Rega, gue benci Rega, gue benci Rega, komat-kamitku dalam
hati.
“Suara apa tikus ketabrak tol tuh,” komentar Rega.
“Bego lo! Mana ada tikus ketabrak tol,” sungutku.
“Terus? Gue kan calon profesor yang suka menemukan kalimat baru,”
“Iya? Iya? Iya? Oke,”
“Ngeselin banget sih gue turunin juga lo disini,”
“AND LIVE WHILE WE’RE YOOOOOUUUNNNGGGGG --- BLA BLA GA DENGER BODO BODO BODO,”
4
“Gak,”
Jawaban singkat dari Rega membuatku ingin mencak-mencak padanya. Bukannya
menambahkan beberapa kata di belakangnya ia malah sibuk bermain play station.
Dengan cepat aku merebut stick ps nya.
“Timbang ngajarin doang si,” sungutku. “Pelit banget lu ah bete,”
“Nyadar diri dong lo, nyetir motor aja masih nyungsep ke got. Gimana lo nyetir
mobil? Gue gamau ngambil resiko kalo lo kenapa-kenapa,” akhirnya Rega
mengeluarkan alasannya. “Siniin stick nya!” ia merebutnya kembali.
“Ya makanya, daripada capek-capek belajar motor ujung-ujungnya nyungsep mending
belajar mobil kalo nyungsep kan gue masih di dalem mobil,”
“Denger ya geblek, yang namanya belajar mobil itu harus bisa motor dulu. Sama
kaya lo mau belajar motor, ya harus bisa sepeda,”
“Is bodo amat, ajarin gue Rega!”
“Belajar aja dulu motor yang bener biar gausah gue anter jemput ke sekolah
lagi,”
“Ajariiiiiin!” kutarik-tarik kaosnya berusaha merayunya.
“Apaansi narik-narik bocah,”
“Ajarin bodo!”
“Gak!”
“Ajariiiiin!”
Rega mem-pause ps nya dan meletakkan stick ps di sampingnya, “Sekali nggak
tetep nggak,”
Aku menyipitkan mataku padanya, “Fine.”
Kemudian aku bangkit berdiri dan meninggalkan Rega yang kembali sibuk dengan
play stationnya. Vika saja kemana-mana harus di antar Vandy atau pacarnya. Rega
saja tidak mau mengajarkanku, apalagi Vandy si bau ayam satu itu?
Oke kalo lo gamau ngajarin gue, Ga. batinku.
Gue bisa sendiri! tambahku.
Kebetulan sekali, hari sabtu pagi seperti ini belum ada yang bangun lagipula
mobil milik Vandy sedang nganggur karena yang punya sedang naik gunung bersama
teman kampusnya. Pagi-pagi buta aku telah bangun dan mengendap-ngendap ke kamar
Vandy untuk mengambil kunci mobilnya. Biasanya Vandy selalu menaruh di laci
meja belajarnya.
Sebuah kunci telah kudapatkan, aku tersenyum singkat. Pagi ini pasti akan
menjadi paling indah untukku. Dengan riang sekaligus berhati-hati agar tidak
menimbulkan suara, aku membuka pintu rumah dan menuju garasi.
“Akhirnyaaa,” kataku gembira.
Aku masuk ke dalam mobil milik Vandy dan pikiran yang terlintas saat telah di
dalam. Bagaimana aku bisa menyalakannya? Ah gampang, kataku dalam hati. Tinggal
masukkan kunci lalu putar, tapi kalau tidak salah aku harus menginjak kopling
juga. Atau mungkin gas? Atau – ah, siapa peduli tekan apa saja asal mobil ini
jalan.
Well then,
Who’s laughing now, Abrega.
****
Rega tengah bermain basket bersama teman-teman kompleks nya saat suara Tio
memanggilnya dari ujung lapangan.
“Hp lo bunyi mulu, Ga!” teriaknya dari sana.
Rega berlari kecil menghampiri Tio dan mengambil ponselnya yang tengah
berkedip-kedip nyala. Bagas. Ia mengangkatnya dan memposisikan ponsel itu di
samping telinganya.
“Apa?”
Hanya butuh lima detik kalimat yang barusan di katakan Bagas. Terburu-buru Rega
berlari ke arah rumahnya dan menuju motor gede nya. Tak ia hiraukan suara
teman-temannya yang memanggilnya.
“Vanilla kecelakaan, nabrak pohon. Sekarang dia lagi di rumah sakit.”
Berulang kali Rega mengumpat pada kendaraan-kendaraan yang menghalangi
jalannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama, Vanilla.
Kenapa sih ga pernah dengerin omongan gue jadi cewek
Rega berlarian masuk ke dalam rumah sakit dan bertanya pada resepsionis dimana
Vanilla berada. Setelah tahu, ia berlari menuju kamar dimana Vanilla berada.
Lantai dua, kamar 202.
Brengsek, dimana sih kamarnya?
202.
Rasa khawatir yang menyerang seakan terhapus sudah melihat Vanilla yang sedang
duduk di atas ranjangnya di temani Vika serta Bagas dan Ifa. Juga rasa kesal
yang di pendam karena membuatnya sedikit menjadi frustasi karena ulahnya
terbayar sudah. Rasanya, melihat Vanilla yang sedang tertawa-tawa membuatnya
lega.
“Kapok?” tanya Rega sambil berjalan mendekati Vanilla.
“Ngga lah, yang namanya belajar sesuatu tuh pasti ada halang rintangnya,” jawab
Vanilla.
“Bego – tapi lo gapapa kan?” Rega mengacak-ngacak rambut Vanilla.
“Gapapa – apansi tangan lo bau jangan pegang-pegang rambut gue,” Vanilla
menepis tangan Rega.
“Lo tau ga Van? Si Rega pas gue baru bilang lo kecelakaan langsung nutup telpon
gitu. Kayanya dia khawatir banget dah,”
“Iya Ga? Serius? Demi? Sumpah? Suer?” tanya Vanilla ngeselin.
“Bacot ah, kalo lo jadi gue juga gitu kali,”
“Cie Rega,” kata Ifa.
Pandangan Rega beralih kembali pada Vanilla, “Kalo mau belajar lagi sama gue
aja, jangan coba-coba belajar sendiri lagi,” nada yang di keluarkan Rega
terkesan memerintah. Vanilla hanya mengangguk kalem sambil memakan apelnya.
“Kalo pun udah bisa nanti, gue bakal tetep anter jemput lo ke sekolah,” lanjut
Rega.
“Yaelah Ga care amat lo,” komentar Bagas.
“Brisik!”
****
5
By. MRs.M dan Lisha
Hanya butuh dua hari aku berada di rumah sakit dan sudah di perbolehkan pulang.
And, guess what? Si geblek Rega ternyata mempunyai sesuatu untukku. Tapi
sialnya, dia tidak mau memberti tahunya sekarang.
“Bawel ah ntar aja di rumah,” katanya sambil menyeretku untuk masuk ke dalam
mobil.
Kedua orangtuaku masih sibuk menyelesaikan urursan administrasi. Jadi, kami
berdua memilih lebih dulu untuk pulang.
“Sok asik banget si pake surprise-surprise otok otok segala macem,” aku hendak
ingin memukul Rega seperti biasa, tapi baru kusadari sesuatu. “ADUH TAI TANGAN
GUAAA,”
Disampingku Rega hanya melirik sekilas dan tertawa kecil, “Bego si udah tau
tangan masih keseleo dikit sok-sok an pengen mukul-mukul gue,”
“Liat ntar pas tangan gua udah ga di perban lagi,” kataku sambil mengelus
tangan kananku yang masih di perban pada bagian pergelangan tangan hingga
telapak tangan.
Tak berapa lama kemudian mobil Rega telah memasuki halaman rumahku. Ia
menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah. Aku turun dari mobilnya lalu
berjalan lebih dulu daripada Rega. Tiba-tiba dua buah benda persegi panjang dan
sebuah vip card muncul dari atas kepalaku.
Benda itu ternyata di pegang oleh Rega dari belakang, ia menggerak-gerakkan
benda itu ke kiri dan kanan.
“Kalo surprise nya ternyata ini seneng ga?” ujar Rega tepat di belakangku.
Sambil menahan nafas aku berbalik arah menghadapnya, “I-itu – UPIL DAJJAAAALLL!
KO BISA SIH?! KO LO BISA DAPET TIKET KONSER AVRIL?! KO LO JUGA DAPET MEET AND
GREET NYA??? JAWAB REGAAAA JAWAAAABBB!”
Seperti orang kesurupan sekaligus sinting seperti orang gila aku berkata tepat
di depannya. Rega hanya menutup kupingnya dan memasang raut wajah aneh.
“Terus jadi ini buat gue? Ini tiket konser plus meet and greet nya buat gue?
Beneran, Ga? Ah boong lu jangan php in gua napa, basi. Serius, beneran? Coba
bilang, demi Tuhan arya wiguna coba – coba ih nges—“
Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, mulutku telah di bekap oleh Rega dan
ia menyeretku masuk ke dalam rumah, “Kalo lo itu robot ga bakalan lu gue cas
seumur hidup,”
Aku berusaha melepaskan bekapannya. Namun, tenaganya begitu kuat hingga aku
terpaksa mengambil langkah ke-seratus. Menggigit tangannya.
“DEMI TUHAN YA VANILLA INI TIKET GUE BALIKIN LAGI NIH KE TUKANG JUALNYA!”
Refleks aku memukulnya, “Buat gue!” dengan cepat aku merebut tiket dan card
dari tangan Rega.
“Konsernya dua bulan lagi juga udah jejingkrakan aja sih,” komentar Rega yang
melihatku lompat-lompat kesenengan.
“Suka-suka orang kale,”
“Ga bilang makasih lagi ke gua,”
Oh iya. Ah, tapi gengsi ah.
“Y mksh,”
“Maksa,”
“Yang penting udah bilang,”
“Ga iklas,”
“Is,”
“Bibirnya maju kaya combro,”
“Ga combro juga kali bau badak lu ah!”
“Ga bau badak juga kali!”
****
Sabtu sore menjelang malam seperti ini enaknya untuk movie maraton. Berbekal
segala cemilan yang barusan di beli di supermarket serta minumannya. Aku, Ifa,
Rega, dan Bagas menonton di rumah Ifa karena hanya Ifa yang mempunya home
theater seperti bioskop sesungguhnya.
Setelah beberapa menit berebut film pertama yang di putar. Akhirnya aku dan Ifa
memenangkan perebutan itu. Film pertama bergenre romance, padahal Rega dan
Bagas sudah nyolot ingin action.
“Ladies first dong!”
Kalimat itu lah yang akhirnya membuat mereka berdua mengalah.
“I’m totally pregnant – tai, itu so sweet abis.”
“Gila gila mangap,”
“HOT JIR,”
Aku dan Ifa sibuk berkomentar tentang beberapa adegan yang romantis serta tiap
detik mengomentari pemeran utama yang gantengnya melebihi langit dan bumi.
Sementara Rega dan Bagas sudah sejak awal film di mulai terkantuk-kantuk.
“Bangun woy! Film nya udah abis kali,” kataku dan Ifa membangunkan Rega dan
Bagas. Seperti baru mendengar sebuah sentakan mereka berdua langsung duduk
sigap dengan mata yang masih tertutup.
“HAH? MALING?”
Rasanya saat itu juga aku ingin bejek-bejek wajah Rega dan Bagas.
****
Lima hari kemudian perbanku sudah di perbolehkan untuk di buka. Rasanya juga
tidak ngilu lagi dan sakit. Aku sedang duduk di kantin bersama Ifa sembari
menunggu Rega yang sedang latihan basket untuk pertandingan lusa. Sekolah kami
masuk babak semi final dan sebagai kapten tim basket SMA Pelita Harapan ia
harus mengatur tim nya.
Suapan terkahir semangkuk baksoku tepat sekali saat Rega masuk ke kantin dan
berjalan menghampiriku.
“Udah selesai belom makannya? Balik cepet,” perintah Rega.
“Iya iya sabar,” aku menyeruput es teh ku dan berdiri dari kursi kantin. “Lo
pulang sama siapa Fa?” tanyaku pada Ifa.
“Di jemput Pak Tono gue biasa,”
“Terus mana Pak Tono nya?”
“Otw katanya,”
Aku menoleh ke arah Rega, “yaudah di parkiran aja nunggunya.”
Aku turun dari motor Rega dan melepas helm miliknya. Dulu ia membelikanku helm
karena aku sering lupa menenteng helm jika ingin pergi dan malas masuk ke dalam
rumah lagi untuk mengambilnya.
“Lusa ya jangan lupa di SMA 45,” Rega mengingatkan.
Aku mengangguk kalem, “Woles.”
“Jangan ga dateng kaya waktu itu,”
“Iya,”
“Pasang alarm biar ga kebablasan kalo tidur,”
“Iya Rega bawel lu ah, sana pulang! Daahh,” sebelum sempat Rega menoyor
kepalaku seperti biasa, aku terlanjur lari masuk ke dalam rumah.
Di luar Rega hanya tersenyum kecil lalu memakai helmnya kembali dan keluar dari
halaman rumahku.
****
6
Drrrttt.... Drrrtttt....
Getaran di bawah bantal membuatku merubah posisi tubuh. Masih dengan mata
terpejam aku meraba-raba bawah bantal dan menemukan ponselku yang sedari tadi
berdering minta di angkat.
“Ganggu aja sih orang!” gerutuku lebih kepada diri sendiri.
Klik.
“Lo dimana nyet?”
Seketika aku langsung terkesiap dan serta merta sigap bangun dari posisi tidur.
Aku lupa kalau hari ini pertandingan basket nya Rega. Aku lupa harus ke SMA 45.
Aku lupa pasang alarm. Aku lupa segalanya. Bahkan aku lupa siapa diriku. Yang
terakhir, itu bohong.
“Otw suer,”
Aku menggempit ponselku dengan bahu agar dapat menempelkannya di telinga
sehingga lebih memudahkanku untuk mencuci muka.
“Itu suara keran apaan? Jangan bilang lo ketiduran lagi,”
“Ngga enak aja lu! Itu tukang bakso kali lagi nyuci piring. Udah ya 5 menit
lagi gue nyampe kok serius. Dadah Rega mwah,”
Tanpa menunggu tanggapan Rega aku melempar ponselku ke kasur dan segera menuju
ke depan lemari untuk mengganti pakaian. Semuanya serba cepat untuk sekarang.
Aku tidak tahu bagaimana reaksi Rega kalau aku tidak datang, lagi.
Aku menuruni dua anak tangga sekaligus agar bisa cepat sampai ke bawah.
Mencari-cari Pak Joko, supir keluarga.
“PAK JOKO WOY KEMANA SI LO!”
Kesal karena Pak Joko tidak kunjung datang aku berteriak-teriak memanggilnya.
Bi Inah yang mungkin keberisikan keluar dari tempat persemayamnya untuk
menghampiriku.
“Kenapa non teriak-teriak gitu?” tanya Bi Inah dengan aksen sundanya yang
kental.
“Mana Pak Joko, bi? Aku mau ke SMA 45 nih di suruh liatin Rega. Is ngeselin
banget si Pak Joko,”
“Pak Joko kan lagi nganterin non Vika sama Ibu belanja,”
Tai, semuanya kaya tai ayam. Rega kaya tai juga. Ngapain sih maksa banget buat
liatin dia.
Aku menghentakkan kaki kananku ke lantai dan langsung berlari keluar rumah.
Tidak sempat menelpon taksi jadi aku berlari ke depan kompleks agar bisa
menyetop taksi dari sana.
Kebetulan sekali satu taksi lewat di depan kompleks. Aku langsung menyetopnya
dan langsung masuk ke dalam.
“SMA 45 pak, buru ya pak ga pake lama.”
Basket di adakan di lapangan indoor, aku berjalan cepat kesana. Sampai aku
tidak memerhatikan orang-orang di sekitarku. Tidak sengaja aku menabrak orang.
Bruk!
“Eh sori-sori buru-buru,” tanpa perlu melihat siapa yang kutabrak aku terus
melanjutkan langkahku.
Di dalam tim Rega telah bertanding seperempat jalan. Aku mencari-cari tempat
duduk yang kosong. Aku mendapatkan bangku di baris ke-lima. Duapuluh menit aku
melihat pertandingan itu, aku mulai bosan. Daridulu aku tidak suka
menonton-nonton pertandingan seperti ini. Apalagi aku tidak mengerti cara
mainnya.
Singkatnya, tim Rega yang membawa nama Pelita Harapan menang. Tidak perlu
kujelaskan lebih lanjut kan? Yang penting intinya Rega dan teman-temannya
menang. Selesai.
“Woy,” dari belakang sebuah tangan sudah melingkarkan tangannya di bahuku.
Membuat kepalaku kelelep.
“Apansi lu bau juga,”
Bukannya melepaskan rangkulannya, ia malah semakin mengeratkannya.
“Lu boong ya sama gua – apaan tuh tukang bakso yang lagi nyuci piring. Lu sih
kalo bikin alesan ter-bego 2013,” katanya.
“Yaudah si yang penting gue dateng kan.” jawabku. “traktir lu udah
nyuruh-nyuruh gua dateng.”
“Traktir bibir lu jeding. Itu tiket konser emang bukan traktiran?”
“Beda lay, traktir gue makan. Laper,”
“Yaudah yok bebek slamet,”
“Itu mulu bosen,”
“Yaudah, terus maunya apa?”
“Apa kek, cari ide dong.”
Yang di sambut toyoran di kepalaku, “tadi gue kasih ide bebek slamet katanya
bosen?”
“YAUDAH SLAMET!”
****
Akibat semalam nonton dvd sampai jam dua pagi. Alhasil, baru jam pertama saja
aku sudah terkantuk-kantuk di sekolah. Untung sekarang pelajaran Sejarah, cukup
mendengarkan guru bercerita saja.
Saat tidurku sudah sampai taraf nikmat, tanganku di guncang-guncang oleh Ifa.
Aku hanya menanggapinya dengan menggerakkan tanganku agar tangan Ifa lepas.
Tapi ia tidak mau juga, malah semakin ia gerak-gerakkan.
“Apansi lo badak,” sungutku.
“Tai lo – is Van bangun, liat tuh di depan ada siapa.” bisik Ifa.
“Siapa?”
“Liat makanya,”
Dengan ogah-ogahan aku pun menuruti perintah Ifa untuk melihat siapa yang di
maksud Ifa. Ternyata ada anak baru. Aku-pun memilih untuk menulungupkan kepala
lagi. Namun, satu detik berikutnya terbayang wajah anak baru tadi. Tiba-tiba
rasa kantukku hilang, aku melihat lagi anak baru itu dengan seksama.
“Dewa banget gila, Fa.” gumamku pada Ifa, pandangaku tetap pada si anak baru.
“Gausah ngiler Van,”
“Najis siapa juga yang ngiler,”
Jadi anak baru itu berjenis kelamin laki-laki. Namanya Raka Batara. Pindahan
dari Amsterdam. Terus apa lagi ya? Oh iya, kira-kira tingginya 175 cm lah.
Kayanya ga beda jauh deh dari Rega. Rambutnya coklat gelap, kulitnya ga item
juga ga putih. Netral lah, woles gitu. Pokonya dia ganteng, gantengnya kaya
dewa (padahal gue gatau dewa ganteng apa kaga).
“Ada anak baru loh di kelas kita,” Ifa memulai pembicaraan di antara kami
berempat.
“Siapa?” Rega bertanya sambil mengaduk-ngaduk minumnya tanpa perlu melihat pada
orang yang sedang di tanya, gaya khasnya.
“Tuh orangnya,” tunjuk Bagas.
Terlihat Raka memasuki kantin yang di sambut tatapan terpesona dari
wanita-wanita di kantin.
“Rega kalah pamor deh,” celetukku sambil meminum es teh dari sedotan yang di
keluarkan (re: itu tuh yang ujungnya di tutup pake telunjuk, ya gitu deh. Kalo
gangerti yaudah).
Rega hanya tersenyum kecut dan melanjutkan makan somaynya.
“Ngomong-ngomong kapan final basket?” tanya Bagas.
“Lupa,” jawab Rega singkat.
“Geblek lu ah,” kata Ifa
“Gue kebelet nih – gue kamar mandi dulu dah,” kata Bagas langsung meloyor
pergi.
“Oh iya! Mati gue, gue belom ngerjain pr sosiologi. Pinjem dong Van plis,”
“Ambil d tas,”
“Yes terimakasih Vanilla. Duluan ya dadah,”
Menyisakan aku dan Rega di kantin. Aku menghabiskan sisa-sisa batagorku ketika
kurasakan seseorang berdiri di sampingku. Aku mendongak untuk menatapnya.
Sejurus kemudian aku mengernyitkan keningku saat Raka tengah berdiri di samping
meja kantin tempat aku dan Rega duduk.
“Kenapa?” tanyaku.
Raka mengeluarkan sesuatu di saku celananya, “punya lo kan?” ia menggenggam
sapu tangan warna toscaku.
“Kok bisa di elo?”
“Kemarin lusa lo ke 45 kan? Inget ga lo nabrak orang?”
Aku mulai berpikir, “oh, jadi lo ya yang gue tabrak? Sori ya hehe dan thanks
buat sapu tangannya,”
“Akrab banget kayanya,” celetuk Rega tiba-tiba.
“Apansi Ga,”
“Rega,” Rega mengulurkan tangannya pada Raka.
“Raka,” ia membalas uluran tangannya.
“Cabut Van,” Rega berdiri dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan meja.
“Duluan ya,” kataku pada Raka. Ia hanya membalas dengan tersenyum tipis.
“Cepetan woy,” teringat Rega yang ada 5 meter di depanku memanggilku, aku pun
berjalan ke arahnya.
7
Kabar buruk baru saja menimpaku. Tidak ada yang menjemputku pulang bimbel. Pak
Joko mengantar Papa ke bandara. Mama sama Vika gabisa nyetir. Vandy main sama
temen-temennya. Harapan terakhirku hanya Rega.
Aku mengirimkan sebuah line kepadanya.
Me: lagi apa? dimana?
Kutunggu balasannya dengan sabar. Tempat bimbelku sudah setengah gelap.
Beberapa teman bimbelku sudah pamitan pulang duluan.
10 menit..
20 menit..
Ini mah Rega pasti lagi main Xbox deh, elah lu Ga. Terus gue pulang sama siapa?
Naik ojek? Naik taksi? Takut di culik, udah malem.
Aku duduk di bangku panjang tepat di depan pintu masuk. Menunggu keajaiban
tiba-tiba Vandy lewat di depan tempat bimbelku atau mungkin Pak Joko. Tapi
sepertinya itu tidak mungkin mengenai bahwa tujuan mereka berlawanan arah
denganku.
Lama aku menimbang-nimbang dalam hati untuk menetapkan naik taksi. Saat aku
sudah fix lalu berdiri untuk menyetop taksi sebuah mobil lewat dan berhenti
tepat di depanku. Si pemilik mobil membuka kaca mobilnya.
“Vanilla?”
Ternyata dia Raka.
“Eh, elo.”
“Bimbel disini? Kenapa belom pulang?” tanyanya.
“Ngga ada yang jemput – ini baru mau naik taksi,”
“Bareng gue aja, rumah lo dimana?”
“Di jalan cendrawasih,”
“Searah kok sama gue – ayo masuk,”
Tiba-tiba perasaanku jadi aneh. Aku baru menyadari bahwa sebelum ini aku belum
pernah duduk di mobil berdua dengan laki-laki selain Papa, Vandy, atau Rega.
Ini menimbulkan efek pada detak jantungku. Memang sih dia teman sekolahku, tapi
sesuatu yang tidak-tidak bisa saja kan terjadi? Eh, ya Tuhan tidak boleh
berburuk sangka.
“Ko diem aja? Ayo masuk,” suara Raka membuyarkan lamunanku.
“I-iya,” dengan langkah gagap aku berjalan memutar dan masuk ke dalam mobilnya.
Ponselku bergetar, sebuah line masuk.
Abrega Mahardika: biasa. kenapa?
Tuh kan, pasti main Xbox deh. Betul ya kata orang kalau laki-laki sudah bermain
Xbox lupa akan segalanya. Makanya, laki-laki yang rela meninggalkan Xbox nya
demi membalas pesan atau sekedar chat tidak penting dengan pacarnya patut di
acungi jempol.
Alah Rega, enol gede buat lo.
Me: gpp
“Gapapa kan kalo gue nyalain dvd?” Raka memecah keheningan.
“Ini kan mobil lo, ya terserah lo lah.” tanggapku.
“Harus ngehormatin orang yang lagi sama kita dong. Peduli apa mobil nya punya
siapa.” Raka tersenyum tipis, sekarang aku tahu cara dia tersenyum. Ya seperti
itu, tipis. “boleh kan?”
“Boleh lah,”
Raka menekan tombol play, mengalunlah sebuah lagu.
“Eh, lo juga suka Bon Jovi?” tanyaku.
“Dari jaman gue SD gue udah suka sama dia,”
“Serius? Gue kira gue doang yang nerd suka lagu jadul,”
“Jadul gitu tetep keren – lo juga suka?”
“Suka! Suka banget!”
“Its my life
And its now or never
I ain’t gonna live forever
I just want to live while I’m alive
(Its my life)
My heart is like an open highway
Like frankie said
I did it my way
I just want to live while I’m alive..”
Sepanjang perjalanan kami berdua bernyanyi bersama sampai Raka mengantarku
tepat di halaman rumah.
****
Istirahat aku pergi ke kantin bersama Ifa, sementara Bagas sudah kabur
pura-pura ke kamar mandi dari dua puluh menit terakhir pelajaran PKN. Aku
mengenyitkan kening bingung saat terlihat lapangan di penuhi oleh anak-anak.
Ifa yang penasarannya tingkat kuadrat mulai mencari-cari info.
“Eh, ada apaan?” tanya Ifa pada salah satu anak.
Aku dan Ifa menyibak-nyibak kerumunan orang, berdesak-desakkan agar berada di
baris terdepan. Ternyata yang menjadi pusat perhatian adalah Raka. Ia sedang
beratraksi dengan bola basket nya. Permainan basket nya lebih mirip dengan
street ball karena memakai gaya-gaya yang sebenarnya sok keren. Tapi kalau Raka
yang bergaya mungkin akan lain cerita.
Rega dan tim nya duduk menatap Raka dari samping lapangan, juga ada Pak Setya
guru olahraga. Teman-temannya berbisik-bisik satu sama lain, pasti mengomentari
permainan Raka.
Mau sekeren apapun permainan Raka, tetap saja bosan. Aku memilih menarik Ifa
agar membawanya ke kantin.
“Sumpah keren abis tadi Raka.” Ifa mulai berkomentar.
Aku memesan pada Teh Tanti sepiring somay dan es teh. Apapun makanannya,
minumnya harus tetap es teh. Bukan teh botol sosro.
“Tapi dia kayanya lebih ke street ball ya?”
“Yakali, tanya aja sama orangnya.” jawabku.
Aku keluar dari kelas lebih lama dari biasanya karena Pak Eko, guru ekonomi
memberi latihan yang tidak boleh di jadikan PR. Apapun alasannya harus selesai
hari ini. Jadilah aku kerja rodi bareng Ifa untuk mencari jawaban.
“Duluan ya Van,” mobilnya sudah datang menjemputnya. Tinggal aku yang mencari
Rega sekarang dimana.
“Sip,”
Biasanya Rega menungguku di parkiran kalau aku pulang lebih lama. Tapi ini mana
orangnya? Seperti anak itik yang kehilangan induknya aku celingak-celinguk
mencari Rega.
“Ga di jemput lagi?”
Aku mendapati suara milik Raka berkata padaku.
“Lagi nunggu orang hehe,” jawabku padanya sambil tetap celingak-celinguk
mencari Rega.
“Perlu di temenin?”
“Ngga usah, Ka. Lo pulang aja duluan.”
“Kali aja lo ga ada yang jemput lagi terus bisa nebeng sama gue.”
Aku tersenyum tidak enak padanya, bingung harus berkata apa.
“Dia pulang sama gue,” suara berat milik Rega terdengar di telingaku. Tiba-tiba
dia sudah berdiri di sampingku dan tanpa berkata apa-apa ia naik ke atas
motornya lalu sebelum memakai helmnya ia menoleh ke arahku. “naik cepet,”
Aku patuh pada perintah Rega dan langsung naik. Sebelum motor Rega jalan aku
menaruh pandanganku pada Raka dan tersenyum sebagai ucapan sampai jumpa.
“Ga, itu tadi Raka ngapain di lapangan?” tanyaku di sela-sela bisingnya jalan
raya.
“Mata lo katarak apa gimana sih? Main basket jelas-jelas,”
Langusng ku tabok helm nya dari belakang, “bego lo! Maksud gue buat apa segala
gitu-gituan?”
“Tes masuk tim gue,”
“Terus?”
“Dia masuk,”
“Terus?”
“Yaudah,”
“Terus?”
“Terus terus aja lo sampe nabrak awan,”
“Galucu,”
“Lucuin,”
“Ketawa dong,”
“Haha,”
“Maksa,”
“Boam,”
“Gatemen,”
“Oke,”
“Jangan ngomong sama gue,”
“Siap,”
Terjadilah perang-perangan kata yang biasa kulakukan jika sedang tidak ada
pembicaraan saat sedang naik motor.
“Besok temenin gue ke gramed dong,” kataku.
Rega diam saja.
“Rega!” kutarik-tarik jaket jeans yang biasa ia kenakan ke sekolah.
“ABREGAAAAAAAA!”
“Katanya jangan ngomong sama gue?”
“Ih yaudah gajadi,” sungutku. “besok temenin pokonya,”
“Iya bawel,”
8
By. MRs.M dan Lisha
WARNING!
Di part ini bahasanya ga pake sensor ya. Jadi, kalo gasuka bahasa yang
kasar-kasar di sarankan untuk tidak membacanya.
Thankyou Xx
****
Daritadi aku hanya menggerak-gerakkan kakiku dengan gusar. Tak henti-hentinya
rapat osis ini selesai, padahal masalahnya sepele. Hanya membahas tentang
lomba-lomba yang akan di adakan saat classmeeting. Kalau aku ingin mendengarkan
lagu juga tidak enak, nanti Rama sang ketua osis memelototiku.
Me: bete
Aku mengirimkan sebuah line pada Rega yang tepat berada di sampingku. Sengaja
aku mengatakannya lewat line, kalaupun berbisik juga pasti akan terdengar
karena suasananya sedang sepi sekali.
Abrega Mahardika: sama
Me: gerah
Abrega Mahardika: sarap lu gerah dari arab saudi! AC dua gini juga
Me: gue gerah sama si Rama. Tai, mending ganteng
Abrega Mahardika: lah
Me: pulangggggg!!!!!!!!
Abrega Mahardika: diem lu ah, liat tuh si Rama ngeliatin kita
“Rega, Vanilla, lo ada pendapat ga?” tanya Rama yang ngegep aku dan Rega
sama-sama saling memegang ponsel.
Pansi lo Rama nanya-nanya pendapat gue segala.
“Apaan? Pendapat gue? Tentang lomba?” tanyaku balik.
Rama mengangguk menunggu jawaban.
“Ga asik,”
GILA LU VANILLA LU BEGO APA GOBLOK SIH! MULUT LO MINTA DI COCOL SAMBEL BANGET
SIH, ok tenang.
Benar kan, akibat ke-goblokan yang barusan ku buat sekarang semua mata di
ruangan ini tengah menatap tepat ke arahku. Alah kambing, jawab apaan gue.
Tatapan mereka seakan-seakan berbicara, “maksud looooeeee?”
Bahkan Rega tadi menendang kakiku dari bawah. Yang kusambut dengan dengusan
kesal.
Iya sih aku memang ngeselin, mereka sudah capek-capek mikir apa saja yang akan
di jadikan lomba biar menarik dan dengan santai nya plus biadab nya aku bilang
ga asik.
“Dari tahun ke tahun lomba gitu-gitu doang. Basket, voli, bulutangkis, cheers –
yaelah biasa banget. Bikin kek lomba fashion show gitu baju dari apa aja, mau
koran kek seprai kek. Ato boleh juga tuh lomba eat bulaga, tapi gapake yang
heboh. Yang paling datar tuh yang menang.”
Sebodo teuing ini pendapat di terima apa kaga. I’m done, bitches.
Namun, reaksi mereka ternyata berbeda dari dugaanku. Senyuman pertama timbul di
wajah Rama yang diikuti dengan senyum sumringah lega.
“Boleh juga tuh tambahin juga tuh lomba tahan tawa kalo bisa.”
Dan blah, blah, blah. Semua riuh mengusulkan lomba-lomba yang aneh-aneh. Ha,
berterima kasihlah padaku wahai kalian semua.
“Emang tuh bibir lo perlu di sumpel pake jerigen.” kata Rega setelah selesai
rapat. “nyeplos aja kek kereta.”
“Lucu.”
Rama dan Sinta (oke ini kaya nama apa gitu ya lupa) berjalan mendekat ke arah
kami. Sinta sambil membawa-bawa aqua gelas yang biasanya di bagi-bagikan kepada
anak-anak osis setelah rapat.
“Thanks ya Van usulnya.” kata Rama.
“Iye.” jawabku. “bagi dong Sin minumnya.”
Sinta menyerahkan sebuah aqua gelas padaku.
“Sedotannya mana?”
“Yah abis Van.”
Aku duduk-duduk di motor Rega sambil berusaha mencoblos aqua gelas yang tadi ku
dapat pakai tangan. Rega berdiri sambil menyender pada motornya seraya tangan
kanannya memegang aqua gelas yang sudah habis daritadi.
Dengan susah ku payah ku tusuk-tusukkan aqua itu sampai akhirnya.
SPLASH!
Yep, aqua gelas itu memang berhasil bolong. Namun, hanya menyisakan setengahnya
karena setengahnya lagi sudah tumpah pada seragam sekolahku.
“Kutil gajaaaaahhhh!” teriakku.
Rega langsung menengok ke arahku dengan pandangan heran. Ia hanya bisa
geleng-geleng kepala melihat aku yang sudah SMA masih kacau untuk membuka
sebuah aqua gelas.
****
Aku, Ifa, dan Bagas seperti biasa mengobrol-ngobrol atau bermain saat jam
pelajaran kosong. Dari mulai ngomongin hal-hal tidak penting seperti. “Kenapa
foto wakil presiden kita kaya senyum pepsodent?” sampai “Kenapa muka manusia
tuh beda-beda?”
“Permainannya kali ini adalah pokonya lo gaboleh ngomong kotor seperti
anj—tiiitt, ta—tiiiit, ba—tiiiitt, sama bang—tiiiitt. Yah pokonya semacam itu
lah, apapun yang terjadi, walau badai menghadang. Lo ga boleh ngomong itu. Kalo
ngelanggar pulang sekolah—“ Bagas menghentikan ucapannya sebentar. “BAKSO PAK
SOMAAAAADD COOOYY!”
“Gimana? Deal? Deal?”
“Deaalll!”
Kami bertiga sepakat untuk mengikuti permainan itu. Ini permainan yang tidak
biasanya sih. Tidak berbicara kotor seperti itu saja. Gampang. Aku hanya
tinggal diam.
Tiba-tiba Fatan melempar sebuah mainan kecoak-kecoakkan ke seantero kelas. Dan,
kecoa kedua tepat jatuh di atas mejaku.
“ANJING TAI BABI BANGSAT LO TAN!”
“BAKSO PAK SOMAD YE GAK, FA?”
“YOIII,”
Bagas dan Ifa bertos-tos ria, sementara aku menatap murka pada Fatan yang hanya
tertawa-tawa cekikikan.
“Bangsat bodo tai kebo! Rese lu Tan gara-gara lu gua kalah bego!”
Aku hanya menunjuk-nunjuk ke arah Fatan yang masih cekikikan. Tidak sadar bahwa
sejak tadi seseorang di bangku pojok tengah menatapku lama dan tersenyum penuh
arti. Raka. Aku melupakan tentang dia.
****
Sambil menunggu Vandy nge-gym aku keluar mencari tempat yang enak untuk bisa
menunggu. Lalu kutemukan sebuah cafe di ujung jalan. Tidak berpikir lama aku
masuk ke dalamnya. Tepat sekali saat masuk, aku melihat Raka berada di smoking
area. Sedang menyesap benda kecil panjang itu, aku berjalan mendekatinya.
Sadar akan ada orang di dekat nya Raka menoleh. Melihat aku berada di depannya
buru-buru ia mematikan rokoknya.
“Boleh duduk disini?” kataku meminta izin.
“Ga ada yang ngelarang, kan?” Raka tersenyum renyah sambil mengangkat kedua
bahunya. Aku menarik kursi di depannya.
“Sering kesini?” tanyaku.
“Lumayan, buat ngilangin pikiran.”
Refleks aku melirik pada bungkusan rokok di depannya. Raka menangkap arah
lirikanku pada rokoknya. Ia pun mengambilnya lalu mengantonginya.
“Kenapa?” tanya Raka.
“Emm, lo ngerokok?”
“Dari kelas 4 SD gue udah nyoba-nyoba.”
“Oh,” seakan terhenyak oleh jawabannya. Hell-o, kelas 4 SD sudah
berani-beraninya nyoba-nyoba sebatang benda mematikan itu?
“Kaget ya?”
“Dikit.” aku meringis ke arahnya.
“Yah, mau gimana lagi. Rokok udah kaya temen sehari-hari. Temen curhat lah
anggapannya.”
“Emang enak ya?”
Ke-goblokanku mulai keluar, kenapa sih harus memberikan pertanyaan norak
seperti itu.
Raka malah tertawa mendengarnya, “ya gimana? Enak ga enak, tapi nikmat aja
rasanya.”
Sejujurnya aku merasa aneh berdekatan dengan orang yang baru saja merokok atau
sedang merokok. Papa, Vandy, Bagas, juga Rega tidak ada yang perokok. Di
keluarga ku juga tidak ada yang menyukai asap rokok. Namun, agak aneh
sebenarnya melihat Raka yang seperti selalu fresh apalagi setiap main basket
adalah seorang perokok.
“Kan bisa di ganti permen – eh, nyolot banget ya gue? Yaudah si itu hak lo mau
ngerokok apa ngga. Bukan urusan gue.”
Setelah itu aku memanggil pelayan untuk memesan. Tidak sadar perubahan raut
wajah Raka.
“Lo ga suka rokok?” tanyanya.
“Ngga sama sekali.”
9
Dari jarak radius duapuluh meter saja tubuh Rega yang tinggi menjulang masih
terlihat oleh nya. Sesuai janjinya ia menemani aku ke toko buku, tadinya
rencananya besok tapi karena Mama yang tiba-tiba menyuruh mengambil gaun
pesanannya untuk acara peresmian perusahaan baru Papa di Kalimantan pada sebuah
butik serta Vandy yang ingin nge-gym rencananya di ganti sekarang.
Pertemuan dengan Raka tadi malam masih membuatku tidak habis pikir. Kenapa
orang seperti dia nge-rokok? Padahal dia telah resmi masuk tim basket Pelita
Harapan bersama Rega dan kawan-kawan. Lagipula final pertandingan waktu itu akan
di adakan minggu depan.
“Lama banget sih Rega.” gumamku di sela-sela mengambil salah satu novel di
tangan. Sudah sekitar 15 menit Rega mengatakan untuk pergi ke toilet sebentar
tapi sampai sekarang anak tuyul satu itu belum terlihat juga.
Padahal aku sudah memasuki lima buah novel pada tas buku yang di sediakan. Tapi
– kemana sih dia?
“Lagi nungguin cowok ganteng ya?”
Suara dari belakang membuat aku menoleh kepada suara. Tanpa perlu berkata-kata
lagi aku langsung menghujamnya dengan tas buku yang tengah ku bawa.
“Capek tau nunggu capek.” seruku. “Abis boker apa lo?” tambahku seraya berjalan
menuju kasir, Rega mengerkor di belakangku membawa tas buku.
“Kalo mau tau goceng dulu sini.” jawabnya.
“Ga elit banget goceng. Giliran kaya gini aja lo mau goceng-goceng giliran gue
ajak taruhan ga mau.”
Rega menaruh tas itu di atas kasir dan mbak-mbak kasir tersenyum penuh arti ke
arah kami berdua. Mungkin ia kira kami adalah sepasang kekasih yang sedang
mempermasalahkan hal-hal yang tidak penting. Dan, itu sudah biasa.
“Vanilla—“ suaranya menjadi berat, berat sekali sok ke bapak-bapak an. “Ga
boleh ya taruhan-taruhan.”
“Cot gede.” kutinju lengannya dan Rega pura-pura mengaduh kesakitan.
Keluar dari toko buku kami beranjak ke sebuah food court untuk mengisi perut
yang sudah mulai keroncongan minta di isi. Aku memesan nasi goreng Rega memesan
nasi plus ayam bakar.
“Suit jepang apa biasa?”
Ini menjadi kebiasaan kami setelah selesai makan di tempat-tempat makan. Kami
akan melakukan ritual suit terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang kalah
dan menang. Yang menang pastinya akan bahagia karena tidak akan membayar
makanannya. Sementara yang kalah terpaksa harus merogoh dua kali lipat biaya
makanannya.
Selama ini, Rega hanya pernah sekali mengalahkan aku dalam urusan suit-menyuit.
“Kalah nih ah pasti gue.” belum apa-apa Rega sudah mendumel. “Udah deh iklasin
aja napa kali-kali gue yang menang.”
“Ogah, cepetan ah suit.”
Dengan ogah-ogahan Rega menyodorkan tangannya.
“Gunting batu kerrrrtass!” seruku. “Ih suit jepang Rega bukan suit biasa!”
“Iya maap.”
Kuulangi sekali lagi.
“Gunting batu kerrrtasss!”
Aku gunting dia batu. Tapi –
“Curang! Najis masa di lama-lamain! Gamau pokonya gue menang bodo bodo.” kataku
ketus.
“Oh tidak bisa. Apapun caranya yang penting menang. Lagian ga ada
peraturannya.”
“Bodo, bete.”
Untuk kedua kalinya, walaupun bermain curang. Rega memenangkan suit-menyuit
ini. Jadilah aku membayar acara makanan kami. Padahal aku baru saja membeli
enam novel dan uangku sekarang tipis. Oke, abaikan.
****
Sepertinya hari sial sedang melandaku dengan Rega. Tepat kami datang, pintu
utama sudah di tutup oleh Bu Weny, guru BP sekaligus divisi kedisiplinan di
Pelita Harapan. Sebagai hukumannya aku di suruh membersihkan gudang yang
terletak di belakang sekolah dan Rega membersihkan kamar mandi laki-laki.
“Elo sih kelamaan dandan!” Rega mulai menyalahkanku saat sedang mengambil
pel-pelannya.
“Ya Tuhan kapan si gue pernah dandan. Kapan? Ha? Kapan?”
“Ya kapan kek, daaaah.”
Rega sudah keburu masuk ke dalam kamar mandi tanpa membiarkanku sempat
memukulnya atau meninjunya. Dengan langkah malas-malasan aku berjalan ke
belakang sekolah sambil membawa sapu dan lap.
Gudang ini tadinya adalah sebuah lab, namun semakin lama Pelita Harapan semakin
besar dan membutuhkan lab yang lebih besar, jadilah tempat ini menjadi sebuah
gudang tempat menyimpan barang-barang yang sudah tidak di pakai lagi. Tugasku
kali ini adalah, setidaknya debu-debu yang menancap di netralisirkan.
Aku terbatuk-batuk saat pertama mencoba mengelap sebuah meja yang sudah
terpakai. Maka aku melengoskan kepalaku ke belakang dan bergidik jijik sambil
terus mengelap. Sesekali aku mengusap hidungku yang terasa gatal. Kalau seperti
ini aku lebih memilih untuk membersihkan kamar mandi.
Baru saja aku keluar dari gudang setelah membereskannya. Ketika mataku
menangkap seseorang menyender sambil jari-jari tangannya menyelipkan sebatang
rokok. Peraturan sekolah melarang keras untuk merokok apalagi di sekolah.
Perlahan aku pun menghampirinya.
“Ra-ka?” ujarku ragu.
Yang di panggil menoleh dan tersenyum skeptis ke arahku. Ia tak segera
mematikan rokoknya seperti waktu itu. Ia menghembuskan sisa-sisa terakhir
kenikmatan yang di raih dari rokok nya walau aku tidak tahu letak nikmat nya
dimana.
“Kok lo bisa disini?” tanya Raka lengkap dengan memandang sapu serta lap yang
tengah ku bawa.
“Abis bersihin gudang di suruh Bu Weny.”
“Telat?”
“Ya lo tau lah.”
Raka membuang sisa rokok itu sembarangan lantas menginjaknya.
“Makanya berangkat sama gue biar ga telat.” katanya dengan nada bergurau.
“Haha makasih. Tapi ngga deh, gue udah punya supir ini.” wajah Rega yang setiap
pagi menungguku langsung terbayang di benakku.
“Rega?”
“Siapa lagi.”
“Lo sama dia sebenernya apa sih?”
“Maksudnya yang apa?” tanyaku balik tidak mengerti.
“Engga, lupain aja.”
Aku menimbang-nimbang untuk mengatakan sesuatu pada Raka. Bahwa peraturan
sekolah meralang keras untuk anak didiknya merokok. Kalau ketahuan akibatnya
bisa skorsing bahkan DO. Sekolah tidak main-main dalam urusan yang menjurus ke
dunia narkotika.
“Ka..” tiba-tiba suaraku menjadi seperti tikus kejepit.
“Apa, Van?”
“Ga jadi deh.”
Aku memilih untuk tidak mengatakannya. Takut di bilang sok peduli dan sok
menceramahi. Ada saat nya nanti aku akan mengatakan padanya. Tunggu – kenapa
omonganku jadi ngawur apa sih? Maksudnya apa ada saat nya nanti?
Yasudahlah tidak usah di mengerti. Dan tolong, jangan kepo.
Tapi dari dalam hatiku yang paling dalam aku penasaran kenapa seorang Raka bisa
sampai merokok. Dia memang menyukainya atau kenapa?
****
Suara getaran di ponselku membuatku yang sedang asyik membaca novel mengalihkan
sejenak untuk mengambilnya. Ada sebuah line masuk. Kukira dari Rega atau Ifa
yang sudah biasa me-line ku tiap malam. Untuk sekedar percakapan tidak jelas
yang tidak berujung dengan Rega atau curhat tentang gebetan baru Ifa.
Line ini dari Raka.
Pertanyaannya, aku belum pernah memberi tahu nama line ku padanya. Jadi dia tau
dari siapa? Nama line ku bukan nama panjang seluruhnya. Pokoknya harus kuberi
tahu dulu baru orang itu tahu.
Raka Revaldy: besok malem ada acara?
Aku mengerutkan kening membaca line nya. Buru-buru ku ketik sebuah jawaban.
Me: ngga kayanya. kenapa?
Seingatku Rega tidak mengajakku kemana-mana malam mingguan besok. Lagipula Ifa
juga sedang ke Bandung dan Bagas bakal kencan dengan gebetannya yang daridulu
ia idam-idam kan, Dita.
Raka Revaldy: mau ikut gue ga?
Me: kemana?
Raka Revaldy: ntar juga lo tau. mau ga?
Me: asal jangan nyulik gue, gue mau.
Raka Revaldy: tampang macem gue ada tampang penculiknya ya?
Me: dikit
Raka Revaldy: haha yaudah besok jam 7 gue ada di depan rumah lo
Me: ok
Tak berapa lama ponselku bergetar menandakan ada sebuah line masuk lagi.
Buru-buru aku mengambilnya, kukira ada balasan dari Raka. Namun ternyata ini
line dari Rega. Tapi – memang jawaban ok sudah tidak penting untuk di jawab
lagi sih. Eh, apaan si ko jadi ngebahas kaya ginian?
Kasian nih line nya Rega nganggur.
Abrega Mahardika: heh udik, ada film seru nih. besok nonton yuk
Yah telat lo, Ga. Telaaaat!
Me: sibuk bye
Abrega Mahardika: gaya. sibuk paan si. jomblo aja lo
Me: jomblo kece mah emang sibuk, udah ah kapan-kapan aja nontonnya gue mau
tidur bye goodnight Rega *emotpeluk*
Me: EMOT PELUKNYA TADI KEPENCET YA!
Abrega Mahardika: DIAM! ANAK SAYA SEDANG TIDUR!
Untuk sebuah alasan yang tidak ku ketahui sendiri. Entah kenapa aku lebih
memilih untuk tidak menceritakan kepada Rega soal janjianku dengan Raka.
Oh iya satu lagi, aku tidak pernah mengirim emot icon pada Rega seumur hidupku
maksudku sepanjang sejarah selama aku mengenal Rega. Jadi, yang tadi itu
benar-benar kepencet. Karena aku ngantuk. Ingin tidur. Oke? Oke.
Selamat malam dan selamat tidur semua!
10
Aku tidak pernah berpikiran kalau Raka akan membawaku ke tempat ini. Tempat
balapan mobil liar kesukaannya. Fakta baru tentang Raka bahwa dia menyukai
balapan liar seperti ini. Seperti sering kali di beritakan oleh media massa
akan di larangnya balapan liar yang sering membuat orang terganggu.
Namun yang kutemukan faktanya adalah suatu hal yang bisa di katakan sebagai
suatu pelampiasan semua pikiran dimana hanya otak dan adrenalin yang di pacu.
Ini seperti sebuah olahraga menyehatkan. Lagipula disini hanya senang-senang
dan semua lepas tertawa bahagia. Seperti layaknya manusia aktif melakukan
sesuatu.
Tidak seperti sekolah yang membuat orang menjadi pasif dan terkesan seperti
robot. Semua harus berjalan sesuai kurikulum dan guru berbicara serta bagaimana
caranya mendapat nilai yang bagus. Bukan bagaimana caranya melakukan usaha yang
bagus.
“Kalo hidup gue kaya gini terus, kayanya gue ga bakal cepet mati gara-gara
tugas yang numpuk.” kataku pada Raka setelah pulang dari balapan liar.
Raka tertawa sebentar mendengarnya, “Kapan-kapan gue ajak lagi deh.”
“Beneran?”
Raka mengangguk seraya pandangannya masih tetap fokus pada jalanan di depannya.
“Tadi itu sama gilanya kalo Rega lagi sok-sokan ngebut di jalan naik motornya.”
Raka tidak langusng menjawab pernyataanku. Alih-alih menjawab ia malah
mengalihkan percakapan ke yang lain.
“Mau gue kasih liat tempat bagus ga?” Raka menawari.
“Emang ada? Dimana?” jawabku antusisas.
“Makanya mau gue kasih liat. Mau ga?”
“Mau banget.”
Mobil terparkir di parkiran sebuah gedung yang kira-kira ada 15 lantai.
Pikiranku langsung bertanya-tanya untuk apa Raka mengajakku kesini. Ini sudah
malam, kalau ingin masuk mana boleh.
Sebelum aku memikirkan hal-hal yang kurasa sebenarnya tidak penting. Raka
menarik tanganku agar berjalan mengikutinya. Dia menghampiri pos satpam yang
sedang berjaga. Sedikit basa-basi entah bertanya apa aku tidak terlalu
mendengarkan namun yang kutangkap Raka telah mengenal satpam tersebut. Yang
jelas setelah obrolan itu Raka memegang segerombolan kunci.
“Ka, gelap iss.” aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Hanya
beberapa ruangan penting yang di sinari cahaya.
“Lo ga pernah tau bukunya RA Kartini?” tanya Raka. “Habis gelap terbitlah
terang.”
“Ga lucu, Ka. Ga lucu.”
Raka membawaku pada sebuah tangga darurat. Dalam hati aku mengeluh sendiri. Serius
naik tangga?
“Ini – naik tangga?”
“Lift kalo malem udah mati. Naik tangga gapapa kan?”
Ya iya sih emang gapapa. Tapi kaki gue nya yang apa-apa.
Aku mengurungkan niat untuk berkata lebih lanjut. Memilih untuk mengangguk
pasrah sambil mengikuti langkah-langkah kaki Raka yang lebar membuatku
ngos-ngosan saat mengikutinya. Beberapa kali aku berhenti untuk mengambil nafas
dan Raka dengan setia selalu menoleh ke belakang dan menungguiku.
Tepat pada tangga ke sembilan aku sudah tidak kuat. Nafasku kali ini sudah
benar-benar putus-putus layaknya benang kusut.
“Lo naik duluan aja.” kata Raka memecah keheningan.
Aku yang masih capek mengernyit ke arahnya, “Gue lama. Lo pasti kesel
nungguin.”
“Gapapa. Mau jalan lo kaya siput gue tetep di belakang lo kok.” jawabnya lalu
mengulurkan tangan untuk membantuku naik satu tangga lebih atas darinya.
Berulang kali aku menengok ke belakang takut-takut ternyata Raka kesal karena
jalanku yang lama. Namun reaksinya sungguh berbeda mengingat dia hanya berjalan
santai seperti tidak menunggu apa-apa.
“Lo duluan deh, Ka. Gue udah ga capek lagi kok.” kataku akhirnya.
“Nanggung Van. Lagian ladies first, sekalin gue jagain lo dari belakang.”
Mendengar kata-kata terakhirnya membuat jantungku tiba-tiba berdetak lebih
kencang.
****
Tak habis-habisnya aku mengumpat karena keindahan suasana dari atas gedung ini.
Aku bisa melihat kerlap-kerlip Jakarta pada malam hari juga lampu-lampu mobil
yang berkeliaran hilir mudik menyesakkan kota ini. Disini sangat sepi dan
nyaman. Baru pertama kali aku menginjakkan kakiku di atas gedung.
Raka lah orang pertama yang membawaku kesini.
“Gimana rasanya?” Raka sudah berara di sampingku, turut melihat apa yang
kulihat.
“Rasanya kaya lagi di atas kawan.” aku tersenyum saat menjawabnya. Angin malam
semakin berhembus kencang menambah larutan suasana. Juga bintang malam yang
terlihat lebih sedikit di makan oleh polusi udara bumi.
“Tiap gue lagi stres atau ada masalah gue selalu kesini.” suara Raka mirip
sebuah gumaman pada diri sendiri.
Aku menoleh ke arahnya. Menatapnya yang sedang menatap lurus ke depan. Angin
membuatnya rambutnya bertambah berantakan. Yang membuatku ingin sekali
membenahinya.
“Sendiri?” tanyaku.
Raka mengangguk lalu sekarang tatapannya bertemu pada tatapanku. “Cuma lo orang
satu-satunya yang gue ajak kesini.”
Aku tercengang beberapa saat mendengarnya. Apa tadi aku tidak salah dengar?
“Kenapa gue?”
Raka mengalihkan pandangannya dan menatap kembali Jakarta di malam hari.
Menggeleng beberapa saat dan sudut bibirnya tertarik ke atas membuat sebuah
senyuman kecil yang menurutku .. manis.
“Kenapa elo?” ujarnya. “Gue juga gatau.” ia mengangkat kedua bahunya.
“Pasti ada alesannya kan?”
“Ga setiap pertanyaan atau pernyataan harus ada alasan atau jawabannya kan?”
tiba-tiba suasana berubah sedikit menjadi mellow. “Gue gatau alesan kenapa lo
orang pertama yang gue ajak kesini. Mungkin – ini masalah naluri gue yang
mengharuskan bawa lo kesini, ke tempat ini.” jelasnya cukup membuatku diam
beberapa saat. “Lo – ga keberatan kan?”
Lama aku mencerna kalimatnya. Kemudian aku menggeleng pelan dan tersenyum penuh
arti terhadapnya. “Ngga kok. Gue sama sekali ngga keberatan.”
Malam itu entah kenapa walau sedikit bintang di langit. Namun, terlihat bintang
itu memancarkan cahaya lebih terang dari biasanya.
****
Pertandingan final antara Pelita Harapan dengan SMA 56 di adakan tepat pada
hari ini. Aku tidak lagi telat seperti waktu itu. Aku datang tepat sepuluh
menit sebelum pertandingan di mulai. Di taksi aku me-line Rega yang pasti sudah
menduga kalau aku bakalan telat.
Oh, tidak untuk kali ini Abrega. Maaf-maaf saja ya.
Me: sukses ya pertandingannya! kalo menang traktir dong. oke? oke.
Baru aku akan memasukkan ponselku kembali ke dalam saku celana ketika teringat
bahwa Raka juga akan ikut bermain dalam pertandingan tersebut. Ku ketik sebuah
line untuknya.
Me: semangat ya!
Pertandingan berjalan cukup sengit mengingat dua tim itu sama-sama kuat. Sampai
akhirnya Rega berhasil mencetak tiga angka hasil melakukan three point nya.
Skor berakhir dengan kemenangan Pelita Harapan. Ifa dan Bagas yang terpisah
duduknya dariku melambai-lambai dari arah yang berlawanan.
“Lama si lo datengnya. Udah keduluan orang jadinya tempatnya.” kata Bagas saat
kami bertiga sedang duduk-duduk di warung bakso, menunggu Rega.
“Ini udah paling cepet kali.”
“Cepet nya elo mah kaya siput sih.”
“Yaa serah lo deh.”
Sebuah tangan merangkulku dari belakang. Sudah kutebak bahwa itu pasti Rega.
Kebiasaan yang tidak kusukai mengingat Rega merangkulku dalam keadaan
keringetan apalagi masih mengenakan baju basketnya. Walau aku tidak bisa bilang
bahwa Rega bau. Nyatanya ia memang tidak bau. Cukup wangi untuk ukuran
laki-laki.
“Tumben ga telat?” Rega mengacak-ngacak rambutku sebentar lalu memindahkan
posisinya agar duduk di sampingku, memesan semangkuk bakso serta minumannya.
“Gue berasa jadi Raisa deh, serba salah.” ujarku sambil mengaduk-ngaduk es teh.
“Traktir dong traktir, kan menang tadi.”
“Ntar ini bakso gue bayarin. Serah lo dah mau mesen berapa mangkok.”
“SERIUS?” sumpah itu bukan suaraku. Tapi suara Bagas yang selalu dengan senang
hati menerima berbagai tawaran traktir atau di jajanin atau semacamnya.
“Iya serius.”
Aku tidak berminat untuk memakan bakso lagi. Jadi walau begitu aku tetap
memesan mie ayam bakso dua bungkus untuk di bawa pulang ke rumah. Antisipasi
kalau-kalau aku tiba-tiba terserang lapar.
Sedang asyik-asyik nya menunggu Rega di motornya yang sedang berbicara sebentar
dengan Pak Setya selaku pelatihnya sambil bermain di iPad. Sebuah suara
membuatku memalingkan wajahku dari sana.
“Nunggu Rega?”
Di depanku kini berdiri Raka yang telah berganti baju.
“He-eh.” jawabku.
Sekilas kulihat Raka melirik tempat Rega berada yang sepertinya sadar bahwa
Raka sedang berbicara denganku.
“Oke, balik dulu ya.”
“Siip.”
****
Aku mengangguk patuh menuruti perintahnya.
Aku menggenggam jaketnya erat dari belakang, seakan takut kalau bisa saja detik
berikutnya terlepas. Di dalam Venue telah ramai oleh little blackstars yang
sedang mengantri masuk.
Blah, blah, blah.
Aku tidak bisa menahan teriakanku ketika sang punk princess keluar dari
belakang panggung. Aku refleks teriak sekencang yang aku bisa dan berpikir
kalau-kalau Avril dapat mendengarnya. Hampir 20 lagu ia nyanyikan, aku turut
terbius dengan pesonanya serta ikut bernyanyi bersama hingga kurasa suaraku
benar-benar hampir habis. Avril kembali ke belakang panggung, para little
blacktars meminta encore.
“WE WANT MORE! WE WANT MORE!”
Tak berapa lama kemudian ia kembali ke atas panggung sambil membawakan sk8er boi
dari album pertamanya. Setelah selesai menyanyikan sk8er boi ia mengumbarkan
goodbye kiss dari jauh lalu kembali ke belakang panggung.
Suara teriakan, benda pecah, tangisan yang bergemuruh menjadi satu terasa di
kedua telinga bocah kecil itu. Demi tidak ingin mendengarnya ia menyumpalnya
dengan sebuah earphone dan ia setel sebuah lagu dari PSP hadiah ulangtahunnya
yang ke-delapan. Mengalun sebuah instrumen yang telah lama ia kenal. Sebuah
instrumen lullaby pengantar tidur.
Bocah itu sama sekali tidak menangis. Dia sudah terbiasa mendengar semua itu
setiap malam menjelang tidurnya. Dia lebih kuat dari yang orangtuanya
bayangkan. Mereka tidak tahu, sebuah rasa egoisme akan berakibat pada seorang
anak yang tidak tahu apa-apa. Berakibat fatal pada hati seseorang kelak.
****
Malam ini aku tidak bisa tidur karena menunggu hari esok. Hari dimana konser
penyanyi kesukaanku semenjak aku memasuki kelas 6 sekolah dasar. Avril Lavigne.
Betapa beruntungnya aku bisa mendapatkan tiket konsernya sekaligus meet and greet
nya. Dan betapa baik nya Rega yang dengan sukarela memberi surprise ini
kepadaku. Ada saat dimana Rega menjadi orang yang sangat amat menyebalkan. Ada
dimana Rega menjadi orang yang sangat amat peduli pada sahabatnya.
Semenyebalkan apapun Rega, sesering apapun Rega mengusiliku. Bagaimanapun aku
dan dia adalah sahabat dari aku menginjakkan kaki di sekolah menengah pertama.
“Rame banget, Ga.” kataku. “Nanti kalo gue ilang gimana?”
“Sini pegangan sama gue makanya.” ujarnya. “Jangan di lepas.”
Aku mendesah kecewa karena konser ini berakhir. Namun aku juga senang karena
sebentar lagi aku akan bertemu dengannya karena aku mempunyai tiket meet and
greet. Sebagian besar ada yang berfoto sebentar untuk mengabadikan ada juga
yang segera beranjak pulang. Tanganku refleks mencari jaket milik Rega yang
saat masuk ku genggam erat.
Namun ia tak ada, kuedarkan pandanganku ke segala penjuru. Sayangnya Rega masih
tidak dapat kutemukan. Sekarang aku sedikit merasa menyesal karena terlalu
larut dalam konser tadi dan tak menghiraukan Rega. Aku mengambil ponsel yang
berada di saku dan sialnya batre ku habis.
Kurasakan segerombolan orang tak sengaja mendorongku dari arah kanan dan kiri.
Aku terhuyung karena tak bisa menopang tubuhku sendiri. Saat aku benar-benar
merasa akan jatuh sebuah tangan mencegatku agar aku tetap seimbang.
Aku menolehkan kepalaku saat kudapati Rega tengah menggenggam kedua lenganku
dari belakang. Cukup lama kami dalam posisi seperti itu.
“Gue bilang jangan lepasin pegangan.” katanya setelah segerombolan itu telah
keluar. “Batu banget.”
“Iya maap.”
“Yaudah cepet.”
Tangan Rega beralih pada tanganku untuk ia genggam. Lalu kami berdua berjalan
keluar dari venue dan beralih ke ruang dimana meet and greet di laksanakan.
Mungkin aku dan Rega tak menyadarinya.
Tangan kami masih saling bertautan sampai aku naik ke atas motornya untuk
kembali ke rumah.
11
Suara gaduh dari lantai bawah juga suara cempreng milik Vika terdengar masuk ke
telinga. Aku mendesah seraya merubah posisiku miring ke kiri dengan bantal yang
kuangkat paksa agar dapat menutupi telingaku. Baru suara Vika mereda kali ini
suara gelas pecah diiringi luapan kaget Vandy.
Ini hari minggu dan masih pagi, keluargaku memang terfreak sedunia. Hal-hal
kecil saja sudah di buat heboh. Suara gaduh mereda lalu terdengar mobil yang
sedang di panaskan dan tak berapa lama kemudian melesat menjauh.
Limabelas menit kemudian aku bangun dari tidur cantikku karena sudah tidak
nyaman. Seharusnya aku bisa tidur hingga jam sepuluh. Tapi gara-gara orang
rumah jadi ga mood lagi buat tidur.
“Bi Inaaah!” aku menguap sambil berkacak pinggang keluar kamar. Bingung karena
rumah berubah menjadi sunyi.
Dimana Mama? Papa? Vandy? Vika?
“Iya, kenapa non?” Bi Inah datang dari arah belakang.
“Yang lain pada kemana?”
“Oh pergi ke bandung non, kan katanya adik nya mama nya non baru ngelahirin
tadi malem.”
Kenapa gue selalu merana sendiri sih! Kenapa gue selalu di tinggal-tinggal?
Saat aku akan mengirimkan sebuah line pada Rega, sebuah line terlebih dahulu
masuk ke dalam ponselku. Dalam hati aku sudah menebak kalau itu pasti Rega.
Tapi nyatanya..
Jeng.. jeng..!
Raka Revaldy: vanilla
Tidak seperti Rega yang langsung nyerocos keinginannya. Misalnya mengajakku
untuk menamaninya nonton atau sekedar nongkrong di cafe. Raka lebih suka
basa-basi dulu atau menyapa.
Me: iya?
Raka Revaldy: hari ini mau kemana?
Tanpa perlu pikir panjang aku langsung curhat colongankepadanya.
Me: ngga kemana-mana, semua nya pada ninggalin gue sendiri dirumah. Ngga deng,
ada Bi Inah.
Raka Revaldy: haha sian. daripada sendirian di rumah mending cari angin di
luar, mau ga?
Me: kemana?
Raka Revaldy: namanya juga cari angin. kemana aja lah jadi.
Me: yaudah oke deh
Raka Revaldy: siangan ya gue jemput
Tak lama setelah line terakhir dari Raka, sebuah line masuk ke ponselku. Dari
Rega, ini anak kenapa sekarang kalau line sukanya abis Raka nge-line ya?
Abrega Mahardika: nyuk, bebek slamet yok
Me: ogah! bosen tujuh turunan gua kesana mulu
Abrega Mahardika: sok lu nyuk
Me: nyuk itu maksudnya kunyuk ya?
Abrega Mahardika: ya
Me: t a i
Abrega Mahardika: sekarang deh gue jemput, lo dirumah kan?
Me: apaan lu, emang gua udah bilang iya? gabisa, gue ke bandung jenguk
keponakan baru gue
Untuk kesekian kalinya aku berbohong pada Rega untuk alasan yang aku juga tidak
tahu kenapa. Yang jelas aku merasa gimana gitu kalau menceritakan tentang Raka.
Mengingat sepertinya Rega juga agak gimana gitu sama Raka. Ah, kenapa namanya
harus sama-sama R sih depannya.
****
Tiga orang manusia duduk-duduk di sofa milik kediaman keluarga Mahardika. Rega,
Ifa, dan Bagas tengah berkutat dengan kesibukannya masing-masing. Rega yang
sedang memain-mainkan ponselnya tidak semangat. Bagas yang asyik dengan Xbox
nya serta Ifa yang sibuk membaca majalah.
“Ck.” Rega berdecak kesal untuk yang kesekian kalinya.
Membuat Bagas yang sedang konsentrasi bermain Xbox melirik kesal ke arahnya,
“Apaan si lu dari tadi cak cek cak cek melee.”
“Galau dia gara-gara Vanilla susah di ajak jalan.” seru Ifa sambil senyam
senyum seperti bisa membaca pikiran Rega.
“Nenek moyang lo tuh galau.” ketus Rega.
“Nenek moyang gue namanya Sari, bukan galau.”
“Elah serah.”
Tiba-tiba Bagas mem-pause Xbox nya untuk sementara dan berbalik menghadap Rega.
“Ga, kayanya ada yang aneh deh sama lo.” Bagas mengatakan itu sambil matanya
memberi sinyal-sinyal lewat Ifa yang di sambut dengan senyuman seakan tahu
segalanya.
“Aneh kenapa?”
****
“Kesini lagi?” sejujurnya aku senang Raka mengajakku ke gedung ini lagi setelah
capek dan kenyang juga kuliner keliling Jakarta. Apalagi sebentar lagi matahari
akan terbenam, jadi aku dan Raka bisa melihatnya jelas dari atas sini.
“Jangan bilang ke gue kalo lift nya udah mati.” gumamku.
Yang di sambut dengan Raka menarik tanganku dengan semangat, “Ngga kok.”
Dan disinilah kami berdua, menatap terbenamnya matahari bersama. Seakan jika
aku hendak menggapai matahri aku bisa menggapainya saat ini juga. Hari sudah
semakin gelap ketika matahari telah sukses terbenam.
Angin malam membuatku cukup kedinginan. Aku menggosok-gosokkan kedua telapak
tanganku satu sama lain dan meniup-niupkannya agar memberi secercah kehangatan.
Sampai aku benar-benar merasa hangat saat Raka melepas jaket jeans yang ia
kenakan dan menyampirkan jaket itu padaku.
“Thanks.” kataku pelan.
Lama kami duduk dalam diam, hanya menikmati semilir angin juga kota Jakarta
yang gemerlap malam. Kulihat Raka mengeluarkan sesuatu dari saku celananya,
sebuah iPod.
“Dari kecil gue selalu dengerin ini lagu kalo perasaan gue lagi ga enak.” Raka
menyodorkan salah satu earphone nya kepadaku yang kuterima dengan sedikit
penasaran.
Selera musik dia kan keras, gimana caranya coba nenangin perasaan yang ga enak?
Yang ada malah jantungan.
“Sambil dengerin, tutup mata lo..” suara Raka yang terdengar sebelum sebuah
instrumen memenuhi rongga telingaku.
Saat itulah mengalun sebuah instrumen piano dari earphone tersebut. Mataku
refleks terpejam untuk menikmatinya. Menyerap setiap ritme yang tercipta.
Mencoba mengartikan sendiri dari setiap nadanya.
Ini sungguh indah,
dan aku menyukainya.
Saat itu aku sedikit bisa merasakan bagaimana sisi putih Raka. Bukan sisi hitam
nya yang penikmat musik keras. Ternyata dia juga menyukai juga sebuah instrumen
piano seperti ini.
****
“Sejujurnya ga ada yang namanya dua sahabat antara cewek dan cowok, Ga.” Bagas
mulai menjelaskan. “Fakta yang ada tuh pertama, kalo ngga cinta yang bertepuk
sebelah tangan. Fakta kedua perasaan keduanya lagi bermetafosis menjadi sesuatu
yang beda.”
“Gue.. gue gangerti.”
“Kalo bukan salah satu dari keduanya yang cinta sama salah satunya. Ya dua-dua
nya saling cinta. Lo tinggal terka aja gimana elo.” Ifa menambahi, membuat yang
sedang di beri pengertian mengacak rambutnya sedikit frustasi.
“Terus gue harus apa?”
Bagas dan Ifa saling memandang satu sama lain. Lalu keduanya sama-sama
mengangkat bahu acuh tak acuh.
“Jawabannya ya dari diri lo sendiri.” jawab Bagas. “Perasaan lo gimana
sekarang?”
“Gue juga gatau.”
“Lo sendiri aja gatau, gimana Vanilla?” kata Ifa seraya mendekati Rega.
“Sebenernya dari awal gue ketemu lo berdua waktu MOS gue udah tau.”
“Terserah deh, gue gangerti sama lo berdua.” Rega bersiap berdiri untuk
meninggalkan mereka. “Aneh.”
****
Aku dan Rega baru saja selesai menonton film di sebuah bioskop. Setelah Rega
yang dengan pantang menyerahnya memintaku untuk menemaninya menonton. Padahal
ada Bagas dan Ifa, tapi ia berkelit kalau Bagas sudah menonton film itu dengan
Dita saat date pertamanya sementara Ifa bukan tipe-tipe yang suka menonton di
bioskop. Ia lebih memilih menontonnya dirumah secara dia punya home teater
sendiri.
“Rega, lucu banget itu bonekanya liat deh!” tunjukku pada sebuah etalase yang
menjual sederet boneka.
“Apaan sih biasa aja.”
“Ga gaul lo.” aku langsung masuk ke dalam toko boneka tersebut dan bertanya
pada mbak-mbak penjaganya.
“Harganya satu juta dua ratus limapuluh ribu rupiah, kak.”
Refleks aku menelan ludah. Buset, mahal anjrot Di belakang Rega sudah cekikikan
melihat perubahan wajahku yang mungkin jika orang tidak mengenalku tidak tahu.
Buru-buru aku mengucapkan terimakasih pada mbak-mbak itu dan berjalan keluar.
“Huahahaha.” diluar tawa Rega meledak membuatku malu setengah hidup.
“Bacot lu ah diem.” sungutku.
Hampir lima menit Rega tertawa, selera humor Rega memang payah. Padahal tidak
lucu, dia malah tertawa.
“Ya lo lagian yang bego, udah tau itu boneka asli.”
“Tau ah.” aku melipat kedua tanganku di depan dada.
“Cemberut aja lo ah.” Rega merangkulku dari samping. “Gue traktir es krim mau
ga?”
“Emang gue anak kecil apa sukanya es krim!”
“Yaudah si kalo gamau mah, gue mau beli sendiri.” Rega melepaskan rangkulannya
dan berjalan santai meninggalkanku.
Membuatku mencibir ke arahnya dan mau tak mau berjalan cepat menyusulnya dan
memegang pundaknya seraya lompat-lompat.
“Maaauuuu!”
Rega meringis-ringis hampir terduduk akibat ulahku, ia langsung menarik
tanganku dan merangkulku kembali.
“Pendek ngiri aja sama yang tinggi.”
“Monyet gue tinggi ya!”
Mirisnya adalah fakta bahwa aku hanya mencapai bahu Rega.
12
I got it!
And heres the next chapter!
****
Hujan turun membasahi bumi di malam hari. Sebagian orang benci hujan, alasannya
simple, karena membuat jalanan kotor, licin, dan yang telah membuat janji batal
karena hujan. Apalagi jika di tambah petir yang menggelegar membuat sebagian
orang tersebut lebih memilih meringkuk di balik selimut tebalnya.
Namun, sebagian orang malah menyukainya. Hujan membuat hati tenang dengan
menciptakan bau nya yang khas. Hujan bisa membuat tanaman-tanaman yang hampir
layu bisa segar kembali. Menurut sebagian orang tersebut, hujan membawa
keberuntungan. Jika kau berdoa saat hujan turun atau sesudah hujan turun, maka
doa itu akan cepat di kabulkan.
Dan yang terakhir,
Hujan mampu menutupi perasaan sedih atau senang. Hujan membuat orang tidak
mampu mengetahui kita sedang menangis atau tidak. Hujan menutupi airmata yang
jatuh.
Laki-laki itu termasuk ke dalam sebagian orang yang menyukai hujan dari kecil.
Baginya hujan adalah anugrah sekaligus tempatnya pulang. Malam ini, dia berdiri
mematung di sebuah lapangan. Menghadap ke atas seraya matanya terpejam. Kilasan
masa lalu nya kembali menerpa pikirannya.
Malam itu lagi-lagi hujan turun untuk yang kesekian kalinya. Dia sedang asyik
membaca komik yang baru ia beli kemarin sepulang sekolah. Saat tiba-tiba pintu
kamarnya menjeblak lebar menampakkan seorang perempuan cantik dengan linangan
air mata, berhambur ke arahnya.
“Ayo Raka, kita harus pergi dari sini.” tangannya terulur untuk meraih tangan
Raka kecil.
Raka yang sedang bermain dengan mobil-mobilannya menatap tak mengerti ke arah
ibunya. Tanpa tahu jawabannya benar atau tidak yang jelas dipikirannya Raka
hanya ingin mengatakan itu. “Raka ngga mau!” tukasnya.
“Raka.. papa udah—“
“Raka ngga mau!!”
Raka kecil ketakutan melihat ibu nya yang menangis dan seperti menahan emosi
mendalam. Bukannya menyambut uluran tangannya, Raka kecil malah menghindar dan
berlari keluar kamar. Melewati papa nya yang sedang duduk di meja makan,
frustasi. Raka kecil keluar dari rumahnya, berlari secepat yang ia bisa agar
tak terkejar. Air matanya turun bersamaan dengan turunnya hujan yang semakin
deras.
Lama ia berlari sampai kakinya terasa ringan,
kemudian gelap membawanya pergi.
Yang terpikirkan dalam otak nya hanya satu nama. Dengan tangan gemetar akibat
kedinginan ia menekan dial pada sebuah nomer.
“E-elo dimana?” ujarnya terbata-bata setelah suara di sebrang sana mengangkat
telponnya.
“Raka?” kata yang di sebrang sana. “Lo kenapa?”
“Gue.. boleh ke rumah lo ga sekarang?”
****
Suara petir menyambar bersamaan dengan suara bel yang berdering. Aku langsung
menghambur ke arah pintu, itu pasti Raka. Sejak setengah jam yang lalu ia sudah
menunggu di depan ruang tv agar jika Raka datang ia akan langsung membukanya.
Masalahnya, ini sedang hujan.
Aku membuka pintu dan detik berikutnya aku sedikit terpana melihat Raka di
depanku sekarang. Dia menggigil kedinginan dan wajahnya seputih kertas.
“Ra-Raka?” bego, ngapain malah kaya gitu sih. “Eh, maksud gue.. ayo masuk.”
Untung tidak ada orang di rumah, kan semuanya masih di Bandung sampai besok.
Jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kenapa laki-laki
yang belum mereka kenal masuk ke dalam rumah.
“Sori, gue.. basah.” kata Raka.
Aku melihatnya dari atas sampai bawah, “Emm.. yaudah tunggu bentar ya gue
ambilin baju kak Vandy dulu – kayanya muat deh di lo.”
Sementara menunggu Raka yang mengganti baju di dalam kamar mandi. Aku
membuatkannya secangkir teh hijau. Tepat sekali saat aku keluar dari dapur,
Raka keluar dari kamar mandi. Kali ini wajahnya tidak terlalu pucat seperti
tadi saat baru datang.
“Nih gue bikinin teh hijau.” iya terus? Terus apa elah awkward banget. “Emm,
biar lo.. ga kedinginan lagi.”
Raka menyambut cangkir itu dengan senyuman di wajahnya, walau bukan senyuman
seperti biasanya. Dih gua sok tau banget dah masalah senyumnya.
Tik..tok..tik..tok..
“Gue..”
“Gue..” kataku dan Raka bersamaan.
Aku menggaruk kepala canggung serta meringis canggung.
“Lo aja dulu.”
“Lo aja dulu.” lagi-lagi bersamaan.
Sumpah gue harus apa nih. Ini kenapa kaya gini. Kenapa gue jadi kaya gini.
Kenapa. Kenapa. Kenapa.
Raka tersenyum geli, akhirnya senyumnya sama. Eh, ngga tau juga deng.
“Ladies first.” katanya akhirnya. Membuatku jadi bingung juga, sebenernya tadi
aku mau ngomong apa? Ayo pikir Vanilla, Ayo pikir!
Pikir, pikir, pikir, “Lo udah ga basah hehe.” Vanilla goblok, Vanilla bego,
Vanilla tolol. Malu-maluin aja sih! Aku menepuk kepalaku sendiri.
Raka tertawa kecil, tawanya renyah juga. “Kan lo yang minjemin.”
“Sori sori gue lagi agak geblek. Terus, tadi lo mau ngomong apa?” aku mencoba
berbicara senetral mungkin.
“Gue Cuma mau bilang makasih.” ujarnya. “Sori ya malem-malem ganggu lo, soalnya
gue.. gue gatau lagi harus kemana.”
Aku mengernyitkan kening, “Gapapa woles.”
“Ngomong-ngomong keluarga lo pada kemana?” Raka melihat sekitar rumahku yang
sepi.
“Ke Bandung, sampe besok.”
“Gue.. boleh disini dulu kan? Seengganya sampe ujannya berenti.”
“Nope.”
Setelah ngobrol sebentar, aku beranjak ke dapur dan membuat mie rebus untuk
Raka. Karena kalau hujan seperti ini biasanya paling enak sambil makan mie
rebus. Tapi itu kata sih, tidak tahu ya kata orang. Tidak sampai duapuluh
menit, mie rebusnya sudah jadi. Kemudian aku mengeksekusinya pada mangkuk dan
membawanya kembali ke sofa di depan tv tempat Raka duduk.
Namun yang kulihat sekarang adalah Raka yang tertidur di atas sofa. Aku
berjalan mendekatinya dan menaruh mie rebus tersebut pada meja di depan sofa.
Kebetulan Bi Inah lewat.
“Bi, tolong bawain selimut dong sama ini nih mie di apain kek gitu.”
Bi Inah mengangguk sopan, setelah mengambil mie rebus tersebut ia beranjak pergi
untuk mengambil selimut. Tak berapa lama Bi Inah datang sembari membawa sebuah
selimut. Lantas aku menyuruhnya kembali ke kamar dan menyematkan selimut itu
pada tubuh Raka.
Besok kan sekolah, ini Raka gimana nasib nya coba?
Raka menarik selimutnya sampai ke lehernya dan berpindah posisi dalam mata
masih tertutup. Melihatnya sedang tertidur membuat perasaanku sedikit berdesir
juga. Ini pertama kalinya aku lumayan dekat dengan seorang laki-laki, setelah
Bagas terutama Rega.
Aku memposisikan diriku berjongkok di sampingnya dan menatap lurus pada wajah
di depanku sekarang. Kuamati baik-baik wajah Raka yang sekarang berada di
depanku. Ia memiliki garis wajah yang tegas, hidungnya mancung, dan yang paling
aku suka darinya adalah alisnya yang tebal dan berwarna sedikit kecoklatan
mengingat rambutnya juga memang sedikit kecoklatan.
Aku merentangkan kelima jariku ke depan mukanya dan melambai-lambai disana.
Namun tak ada reaksi dari dirinya. Tidur beneran dia, batinku. Gatal, akhirnya
aku menyentuh pipinya dengan telunjukku berulang-ulang kali.
Idih, mulus banget mukanya gila! Gue aja kalah mulus, apa dia perawatan?
Jangan-jangan tempat perawatannya sama kaya nyokap gue lagi. Eh, apaansi lo
Vanilla. Udah ah bye.
Sekali lagi aku menusuk-nusuk pipi Raka dengan telunjukku, “Tidur yang bener ya
disini, byee.”
****
Alarm di kamarku berbunyi, aku meraba-raba dengan tanganku dan mematikannya.
Mengulet sebentar lalu beranjak ke kamar mandi. Dengan wajah masih mengantuk
walau sudah mandi aku mengambil tas sekolah dan membawanya turun ke bawah untuk
sarapan.
Bersamaan dengan aku yang turun dari tangga bel berbunyi dan Bi Inah membukakan
pintunya.
Rega.
“Oh, Rega.”
Dengan santainya aku menuruni tangga dan dua detik kemudian setelah turun satu
tangga. Rasanya nafasku berhenti saat itu juga.
Mati.
Raka kan masih tidur di sofa. Gimana kalo Rega ngeliat? Terus dia mikir
macem-macem? Terus—
“Woy bengong aja lo kaya onta! Cepet turun!” dari bawah sana Rega sudah
berkacak pinggang sambil menatapku.
“Sabar napa!” aku melirik ke arah sofa, untung ada tv dan seperangkatnya yang
menghalangi sofa tersebut. Semoga aja aku dan Rega pergi ke sekolah sebelum
Raka bangun. Dengan langkah takut-takut aku turun dari tangga.
“Lo lagi turun tangga apa jalan-jalan keliling dunia si?” sindir Rega.
“Gue lagi jalan ke surga.” jawabku tepat di depannya setelah sampai di bawah.
Kulirik lagi arah tv dan sofa, masih belum ada tanda-tanda bangunnya Raka.
“Cepetan berangkat ntar telat.” aku mendorong punggung Rega dari belakang.
Di raihnya tanganku olehnya, “Ga makan dulu?”
“Udah deh gampang, buruan elah!”
“Serius ga makan?”
“Lo tau bacot ga? B-a-c-o-t, bacot?”
“Tau, itu hewan kan?”
Langsung ku tempeleng kepalanya, “Itu bekicot bego.” kataku.
“Oh iya maap maap.” kata Rega. “Yaudah yok.”
Rega menarikku beranjak keluar rumah. Namun tepat pada saat itu sebuah suara
membuatku benar-benar membeku.
“Van, sori—“ Raka telah berdiri di ujung sana dengan tampang masih bangun
tidurnya. Kurasa tadinya Raka tidak tahu kalau ada Rega.
“Kenapa dia ada di rumah lo?” suara Rega berbeda dari biasanya, suara yang
menurutku membuatku merinding dan aku tidak ingin mendengarnya lagi. Dan ini
kali kedua aku mendengar suara yang sama setelah yang pertama waktu Dendy
–teman SMP ku- tidak sengaja menabrakku sehingga aku terjatuh dan menyebabkan
kepalaku berdarah.
Dan sekarang,
aku tidak tahu deh.
13
Rega langsung menarikku ke motornya, menjalankannya dengan lebih cepat dari
biasanya. Di sela-sela itu masih kusempatkan untuk mengirim sebuah line pada
Raka. Takut kalau dia bingung.
Me: sori ya ninggalin, soalnya Rega takut telat. sori banget yaa
Bukannya semakin pelan karena sudah dekat dengan sekolah. Rega malah semakin
mempercepat lajunya. Aksinya akhirnya menuai protes dariku.
“Pelan-pelan kek! Gue ogah mati mudaaa!” teriakku dari belakang.
“Motor-motor gue, suka-suka gue lah.” sahut Rega ngeselin. Rasanya ingin ku
jambak rambutnya, tapi sayangnya ketutupan helm yang di kenakannya.
“Awas aja kalo gue mati.” dengusku.
Sampai di sekolah aku langsung turun dan berlari ke kelas. Ceritanya melarikan
diri dari Rega, takut di tanya macem-macem. Tepat aku menjatuhkan bokongku di
atas kursi dengan nafas yang masih tersengal-sengal, sebuah line masuk.
Abrega Mahardika: lo utang cerita, ok?
Kenapa sih gue punya sahabat kepo nya tingkat milenium?
Aku mengabaikan line dari Rega karena beberapa menit kemudian jam pertama telah
di mulai. Pelajaran ekonomi, kenapa pagi-pagi begini udah ekonomi aja sih? FYI,
aku tidak pernah hapal jadwal pelajaran seumur hidupku. Maka dari itu kadang
aku selalu lupa untuk membawa buku.
“PR yang kemarin tolong kumpulkan di depan.” ujar Pak Bilal di depan kelas.
Refleks tanganku mencari buku ekonomi di dalam tas.
Ha-ha, ga ada.
Ha-ha, ketinggalan.
“Ketinggalan nih.” dengan tampang memelas aku berbisik pada Ifa.
“DL.”
“Nyemot ah lo.” biasanya sih Pak Bilal akan dengan senang hati menyuruh keluar
siswa yang tidak mengerjakan PR apapun alasannya. Dan sepertinya hari ini aku
akan kena.
“Bagi yang tidak mengerjakan PR tidak akan bapak suruh keluar seperti biasa.”
aku bernafas lega mendengarnya, setidaknya aku tidak malu-maluin berkeliaran di
luar kelas saat sedang jam pelajaran. Ketahuan banget sedang di hukum, kecuali
aku mau kalau harus mengumpet di kamar mandi atau perpustakaan. Tapi,
perpustakaan? Tempat buku-buku berdebu? Ngga deh, ngga banget. “Tapi.. nanti
jam istirahat yang tidak mengerjakan PR harus bernyanyi di kantin keras-keras.”
“Mampus, kayanya hidup gue berakhir sampe jam istirahat deh.” gerutuku, Ifa
sudah menahan tawanya daritadi. “Apa lo tawa-tawa?”
Kulirik semua orang di kelas, sepertinya tidak ada yang tidak mengerjakan PR
selain aku. Eh, aku mengerjakan sebenarnya hanya saja bukunya kan ketinggalan.
Ah, hari ini kenapa kaya gini sih?
“Siapa saja hari ini yang tidak mengerjakan PR atau tidak membawanya?” tanya
Pak Bilal.
Ragu-ragu aku mengangkat tangan ke atas.
“Oke Vanilla, saya tunggu pertunjukkan kamu nanti istirahat.” Pak Bilal
tersenyum penuh arti terhadapku, membuatku mencibir diam-diam.
****
Yak bagus.
Sepertinya berita aku di hukum menyanyi di kantin sudah tersebar luas. Ini
pasti gara-gara Adi nih, si ketua kelas tukang gosip. Dan sekarang, dari kelas
X sampai kelas XII pun sedang berkumpul ke kantin. Namun ada juga yang masih di
lapangan yang matanya menghadap ke kantin.
“Tai tai tai, bodo gue pura-pura pingsan aja kali ya?” aku menarik-narik lengan
seragam Ifa dan Bagas kemudian hendak berbalik arah yang langsung di cegat oleh
Ifa dan Bagas.
“Ih gabisa gabisa, hukuman adalah hukuman. Lagian jarang-jarang kan lo jadi
pusat perhatian selain pas sama Rega? Eksis woy eksis.”
“Bibir lo jeding tuh eksis.” kataku kesal.
Pak Bilal sudah berada di kantin dan tersenyum renyah saat menlihat
kedatanganku. Aku hanya meringis terpaksa kepada semua orang. Suara gue jelek
woy pergi kek lo pada, batinku.
“NYANYI! NYANYI! NYANYI!” teriak beberapa orang.
Dari lapangan kulihat Rega melipat kedua tangannya dan menaik-naikkan satu
alisnya serta tersenyum sedikit geli juga. Kubalas dengan pelototan.
“Ayo silahkan Vanilla di mulai pertunjukannya. Yang nonton udah banyak kan
ini?” sialan. sialan. Apaan sih Pak Bilal.
“Sumpah suara gue jelek, busuk, gembel, jadi yang gamau kupingnya sakit mending
sana kek kemana kek. Plis suer busuk banget deh suara gue.” kataku.
“Hiburaaaan!” kata salah satu anak kelas XII. Bagas dan Ifa juga turut
menyemangatiku dari sana.
Aku mengangkat kedua bahu acuh, “Yaelah, serah si gue mah.” lama-lama aku jadi
biasa aja. “Mulai ya.. eh ini ga ada sound nya gitu biar lebih keren?”
“Tepuk-tepuk dah gampang, cepetan nyanyi!”
“Iye sabar.”
“AKU TERJATUH DAN TAK BISA BAAAANGKIT LAAAAGIIIII..
AKU TENGGELAM DALAM LAUTAN LUKA DALAAAAM..
AKU TERSESAT DAN TAK TAU ARAH JALAN PULANG..
AKU TANPAMUUUU..
BUTIRAAAANN DEBUUUUUUUUUUUUUUUUU..”
Selesai nyanyi langsung ramai. Pokoknya begitu. Ngomong-ngomong daritadi aku
tidak melihat Raka. Dia tidak masuk lagi? Tapi emang kayanya ga masuk sih, dia
aja ga bawa seragam.
****
“Gue gak suka lo deket-deket dia.”
Tanggapan Rega membuatku tersedak oleh es teh yang sedang kuminum. Setelah
akhirnya cerita panjang lebar tentang Raka dan Rega yang daritadi diam saja
seperti memikirkan sesuatu lalu tiba-tiba membuat tanggapan seperti itu. Itu
benar-benar gimana gitu.
Padahal pulang sekolah aku sudah menghindari Rega dan berusaha lewat belakang
sekolah. Namun tanganku keburu di tarik oleh seseorang, Rega.
“Gue tau lo bakal kabur.” katanya. Itu malu banget. Sumpah.
Dan sekarang, seperti biasa kami berada di bebek slamet, duduk berdua sambil Rega
yang baru memberikan tanggapannya. Melihat aku yang batuk-batuk gara-gara
tersedak, Rega buru-buru menepuk-nepuk punggungku.
“Pelan-pelan.” ingatnya.
Aku hanya mengangguk-ngangguk sambil mengusap-ngusap leher yang gatal gara-gara
batuk.
“Kenapa gasuka?” tanyaku setelah reda.
“Au.” Rega sok-sok an meminum minumannya.
“Masa au? Jangan PHP dong, gue butuh kepastian. Kenapa gasuka?”
“Kaya tau aja lo PHP gimana.”
“Tau! Enak aja lo!”
“Deket sama cowok aja ga pernah.”
“Pernah, nih gue lagi sama cowok. Ato jangan-jangan.. sebenernya lo bukan
cowok? Jangan-jangan lo seorang dewa waria yang lagi nyamar buat merusak
dunia?”
“Kebanyakan baca fantasy otak lo jadi sedeng.” Rega menunjuk-nunjuk dahiku
dengan tulunjuknya. Seakan aku adalah anak nakal yang baru saja memecahkan
sebuah piring atau gelas. Dan bego nya aku tidak membantah.
“Cepetan ah kenapa gasuka sama Raka?” desakku.
“Ya lo pikir aja sendiri, ngapain dia malem-malem –ujan-ujan- kerumah lo?”
“Kan dia Cuma numpang berteduh, terus dia ketiduran.”
“Kenapa harus lo?”
“Emang kenapa kalo gue?”
Rega mendengus kencang, mungkin kesal karena aku yang bertanya-tanya terus.
Bodo, aku hanya butuh jawaban yang pasti. Aku butuh kepastian.
“Lo itu cewek, Vanilla. Ce-wek.” sahutnya. “Kaya si Raka gapunya temen cowok
aja buat di tumpangin? Kenapa juga harus lo? Mana di rumah lo kan Cuma ada lo
sama Bi Inah, gimana kalo lo di apa-apain?”
“Ya.. buktinya gue ga di apa-apain kan?”
“Tuh kan, makanya gue males ngejelasin ke lo. Lo pasti ga bakal ngerti deh.
Susah ngomong sama anak kecil.”
“Palalo anak kecil! Gue udah mau tujuh belas tahun dodol!”
“Iya tujuh belas—setaun lagi.”
“Tau ah bete.”
“Ktp aja belom punya, SIM apalagi. Haha, sok-sok an nyetir mobil ujung-ujung
nya nabrak pohon. Lo tuh kerjaannya nyusahin orang tau ga? Bikin orang panik.”
“Hmm.. ketauan lu ya panik waktu itu? Ya kaaaan?” aku mengikuti Rega sewaktu
tadi, mengangkat-ngangkat alis berkali-kali.
“Ngga.” dengan sok stay cool nya Rega meminum minumannya kembali.
Aku mendekatkan wajahku ke arahnya, “Cieee panik ni yee.”
“Diem lu ah anak kecil.”
“Update dulu ah di twitter..”
“Serah lo.”
****
Memang dari pulang sekolah langit telah menunjukkan tanda-tanda akan hujan.
Tapi gara-gara Rega yang memaksaku menceritakan tentang Raka, jadi mampir dulu
ke bebek slamet dan alhasil baru lima menit naik motor, hujan sudah turun.
“Ada halte tuh, Ga!” tunjukku di ujung jalan sana. Rega melipirkan motornya ke
halte tersebut. Sepi. Tidak satu pun orang berada di sana apalagi lewat. Kurasa
orang-orang sudah tau hujan akan turun jadi tidak ada yang keluar rumah.
“Gara-gara lo nih jadi keujanan!” sungutku sembari memeras baju seragam bawahku
yang sudah basah.
“Yaelah itu sih takdir kalee.”
Aku sibuk memeras seragamku, sesekali mengusap-ngusap telapak tanganku agar
tidak kedinginan. Tiba-tiba Rega sudah memberikan jaket jeans nya padaku.
“Nih pake.” katanya.
“Kasian ntar lo kedinginan, ntar sakit. Terus ga ada yang nganter jemput lagi
deh.” komentarku yang langsung di balas dengan toyoran di jidat.
“Yee kurang ajar lo, udah cepetan pake.”
“Berdua deh berdua, biar kaya di novel-novel gitu, Ga.” kataku, Rega hanya
mencibir dan akhirnya menjadikan jaket itu sebagai tameng di belakang agar
angin tidak masuk dari belakang. “Biasanya sih ya kalo di novel-novel------“
aku ngomong panjang lebar kemudian aku baru sadar bahwa sejak tadi Rega diam
saja.
Jangan bilang dia kesurupan.
“Ga? Dengerin gue gak sih?” aku menoleh pada Rega yang sedang menatap lurus ke
depan. Di panggil seperti itu, ia menoleh kepadaku.
Dan,
ya ampuuuuun!
Jarak antara wajahku dengannya hanya---hanya berapa senti ya? Pokoknya ini
deket banget sumpah.
“Lo tau ga kenapa setiap hari gue anter jemput lo ke sekolah?” tiba-tiba Rega
bertanya seperti itu.
Dengan polosnya aku menggeleng pelan, “Ngg.. engga, emang kenapa?”
Rega tersenyum miseterius, dan dia—kenapa aku baru sadar kalau Rega itu
benar-benar tampan? Pantas saja ya banyak yang suka. Sebagai sahabat aku merasa
gagal mengenali sahabat sendiri.
“Karena setiap lo nyerocos hal-hal yang sebenernya gapenting itu—gue suka
dengernya. Apalagi kalo lo lagi marah-marah sampe muka lo merah. Dan
mukul-mukul helm gue sambil teriak minta buat pelan dikit. Lo yang selalu
ngeles dan manja nya naujubilah. Gatau kenapa gue suka.” jelasnya.
Aku terdiam, “Jangan nyindir, plis.” jawabku.
Mendengar jawabanku Rega hanya tersenyum geli. Namun detik berikutnya raut
wajahnya berubah serius.
“Gue..” katanya terputus. “Shit,”
Detik berikutnya aku hanya terpaku diam. Sebuah benda lembab dan basah
menyentuh permukaan bawah bibirku. Bahkan mataku masih membuka saat
menerimanya, terlalu kaget dan tidak sempat untuk menutup. Ini tidak seperti
yang aku bayangkan. Seharusnya ciuman pertamaku tidak seperti ini. Ini
malu-maluin.
He stole my first kiss.
Rega stole my first kiss.
REGA STOLE MY FIRST KISS, EVERYBODY!
MY BEST FRIEND STOLE MY FIRST KISS!
YOU GUYS SHOULD KNOW ABOUT THIS!
SO, I’M ABOUT TO DIE.
Kejadiannya begitu cepat bahkan sebelum mataku refleks menutup. Mungkin juga
tidak ada lima detik. Lagipula bibir kami hanya menempel. Tidak seperti di
novel atau film yang penuh gairah dan terlalu erotis. Ini flat abis. Ih, kok
jadi jijik ya?
“Ga, lo tau ga?” kataku setelahnya masih sedikit linglung.
“Apa?”
Aku berdiri di hadapannya dan sambil menunjuk kearahnya menggunakan telunjuk
aku berteriak, seperti baru menyadari sesuatu. “LO NYURI CIUMAN PERTAMA
GUEEEEEEEEEEEEE!”
Rega tertawa-tawa melihat tingkahku, “Terus kalo gue nyuri ciuman pertama lo
kenapa?” tanyanya setelah tawanya reda.
“Ini gak etis serius. Gue pikir ciuman pertama gue kaya di film-film gitu atau
novel. Di depan menara eiffel bagus tuh harusnya atau pas banget pas di atasnya
ada kembang api. Tapi ini, Ga—ya Tuhaaaan di halte ini! Di h-a-l-t-e! Fix gue
bete banget.” aku kembali duduk di sampingnya sambil melipat kedua tanganku di
depan dada.
“Kita tuh hidup di realita, bukan di novel atau film. Yaudah lah terima aja
ciuman pertama lo di halte, lagian keren kan view nya pas lagi ujan? Cukup kaya
film kok.” Rega merangkulku.
“Apaan! Bodo ah, pokonya itu ceritanya bukan ciuman pertama gue ya! Anggep aja
ga pernah terjadi. Aaaaaaa ga lucu banget gitu di halte.”
“Ciuman pertama sebagai sahabat deh anggep aja.”
“Tau ah.”
Rega berdiri dan menatap ke langit, “Udah reda nih, pulang yok!”
Aku masih duduk sambil mengerucutkan bibir, ceritanya masih kesal. Rega
menghampiriku dan menarik tanganku.
“Yaudaaaah, anggep aja itu ga pernah terjadi, oke? Oke, yok sekarang kita
pulang.”
Aku pun bangkit dan beranjak ke atas motor Rega. Diam-diam aku menyentuh bibirku
dengan jari-jariku. Sesaat aku menyunggingkan sebuah senyuman.
14
Sampai malam pun aku masih merasa ada yang mengganjal di bibirku. Berulang kali
aku menatap ke kaca yang menyatu dengan lemari dan memegang-megang bibirku. Ciuman
pertama memangnya bakalan membekas seperti ini ya? Padahal ini sudah lewat dari
jam dua belas malam itu artinya sudah lebih dari 4 jam sejak kejadian tadi.
Aku baru menyadari bahwa aku telah melewati batas dari jam tidur malamku yang
biasa. Biasanya, lewat dari jam sepuluh dimana pun berada aku pasti akan
tertidur. Tapi ini? Sembari mendengus kesal karena tidak bisa tidur juga karena
ada sesuatu di bibirku, aku menjatuhkan tubuhku ke atas kasur.
Me: Ga
Karena bosan aku mengirim sebuah line pada Rega. Namun aku tak banyak mengharap
balasan dari Rega, karena aku tahu Rega tidak jauh berbeda dariku yang
mempunyai jam batas tidur kurang dari jam sepuluh.
Namun getaran di ponselku mengubah pemikiran barusan. Ternyata Rega membalas
line ku! Wah, bisa samaan gini?
Abrega Mahardika: gue tebak lo gabisa tidur
Me: ih, kok tau?
Abrega Mahardika: tau lah, gue
Kayanya Rega tau banget gitu ya tentang gue.
Me: Ga
Abrega Mahardika: apansih Ga Ga mulu
Me: masa bibir gue jadi aneh
Abrega Mahardika: aneh gimana?
Me: gitu deh, kaya ada sesuatu gitu
Abrega Mahardika: alah bilang aja seneng gue cium
Me: APANSI
Abrega Mahardika: yaudah gausah di pikirin, kan kita udah sepakat tadi itu
anggep aja ga pernah kejadian? sekarang mending lo tidur gih, awas aja besok gue
harus nunggu lama garagara lo telat bangun
Me: gabisa tidooooorrrr
Line terakhir yang kukirim hanya di read oleh nya. Aku mencibir sebentar, ah
pasti Rega udah tidur. Pasti dia ketiduran. Namun lagi-lagi pemikiran barusan
berubah karena ponselku bergetar bukan hanya sekali, namun berkali-kali.
Rega Calling..
“Kenapa gabisa tidurnya?” suara berat Rega terdengar di ujung sana, sambil
memasang earphone di telinga dan menatap ke langit aku menjawab.
“Gara-gara tadi di bilang.”
Helaan nafas terdengar, “Yaudah, terus gue harus apa biar lo tidur?”
Aku menimbang-nimbang sebentar, “Emm, gatau.” aku menyerah untuk mencari
jawaban. Jika aku menyuruh Rega nyanyi juga tidak akan di kabulkan. Mana mau
Rega nyanyi?
“Kaya bayi aja sih lo,” kata Rega. “Sekarang coba tutup mata lo.” Rega
memberikan instruksi, aku mengikuti instruksinya. “Udah tutup belom?”
“Hmm.”
“Bentar ya.” terdengar suara ponselnya di letakkan dan Rega beranjak menjauh.
Aku mengernyit dalam pejaman mataku. Namun tetap memejamkan mata karena ingat
instruksinya. Hampir satu menit akhirnya terdengar suara grasak-grusuk.
“Itu apaan grasak-grusuk?” tanyaku.
“Diem aja deh, tutup aja mata lo.” sahut Rega. “Tarik nafas terus buang.”
“Ini lo lagi nyuruh gue senam pendinginan apa?” komentarku.
“Bawel, ikutin aja.”
Aku mengikutinya. Ada jeda dari kalimatnya tadi sebelum aku benar-benar
memfokuskan pendengaranku dengan apa yang ku dengar saat ini.
Suara gitar?
“Ga..” panggiku. “Lo.. sejak kapan bisa gitar?”
“Baru belajar sih sebenernya tiga bulan yang lalu—udah deh jangan banyak
komentar, dengerin gue main gitar aja. Oh iya, FYI aja ya, lo orang pertama
yang denger gue main gitar, oke? Berbanggalah anda.”
Aku hanya mencibir mendengar kalimatnya tadi. Malas juga untuk berbacot ria
dengan Rega apalagi ini sudah malam. Beberapa saat kemudian mengalun sebuah
instrumen dari senar-senar gitarnya. Pelan, lembut, membuat pikiranku tenang.
Rasanya aku berada di sebuah dimensi lain selain kamarku.
Lama aku menikmati alunan gitar yang di bawakan Rega. Perlahan mataku mulai
terpejam secara alami, bukan di paksakan. Tubuhku seakan rileks dalam posisi
nyaman. Masih bisa kudengar sayup-sayup suara alunan gitar tersebut sampai aku
merasa benar-benar akan tertidur.
“Udah tidur?” samar aku mendengar suara Rega, aku ingin menjawabnya namun
mataku tak ingin berkompromi hanya untuk sekedar membukanya apalagi mulutku
seakan telah terkunci.
Beberapa saat aku sudah tidak mendengar apa-apa lagi, mungkin telponnya sudah
terputus mengingat aku tidak menjawab-jawab pertanyaan Rega. Barangkali Rega
mengira bahwa aku sudah tidur.
Memang, sekarang aku benar-benar berada di alam mimpi.
“Love you,”
****
Pagi-pagi sekali aku pergi ke rumah Rega di antar oleh Vandy yang akan
berangkat nge-gym. Mbok Diah, pembantu di rumah Rega mempersilakan ku masuk.
Aku langsung naik ke atas dan mengendap-ngendap masuk ke dalam kamarnya.
Terlihat Rega masih meringkuk di atas kasurnya sambil sebuah bantal menutupi
kepalanya.
Suara dengkuran khas Rega terdengar, aku berjalan mendekati Rega. Kuambil jam
weker yang terletak di atas meja dan menyalakan alarm.
TRIIIIINGGG!
Demi Tuhan ya, hal paling susah selain pelajaran di sekolah adalah membangunkan
Rega. Seumur-umur aku belum pernah berhasil membangunkannya kecuali kusiram air
dengan gayung. Itu juga ujung-ujungnya Rega hanya marah-marah sebentar lalu
melanjutkan tidurnya kembali.
“Regaaaa bangoooon!” kataku, suara alarm yang melengking masih memenuhi kamar.
“REGAAAA! REGAAAAA!” capek teriak-teriak dan keberisikan sendiri karena alarm yang
masih berdering.
“Bacot banget lo alarm berisik.” ujarku sambil mematikan alarm. Aku berkacak
pinggang di samping Rega, itu anak satu masih dengan posisi tidurnya.
“Ga, bangun ih! Udah jam sembilan juga!” sebenernya aku ke rumah Rega gara-gara
aku sudah bisa memasak. Hihi, mau tau masak apa? Liat nanti ya, tunggu Rega nya
bangun dulu.
“Abrega, woy!” kuguncang-guncangkan bahunya yang hanya di balas dengan
dengusan. “Rega gue mau nunjukkin sesuatu niiiihhhh ke eloooo.” yang di
guncang-guncangkan tetap pada posisinya. Tidur.
Kemudian aku berhenti sebentar karena kelelahan mengguncang-guncang tubuh Rega
yang besar seperti gajah, ngga deng boong. Ngga gajah juga.
Aku menarik nafas sebentar lalu menghembuskannya, “REGA, GUE
HAMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIILLLL!”
Jeritanku sukses membuat Rega terlonjak dari tempat tidurnya, langsung berdiri
di sisi ranjang berlawanan arah denganku. Wajahnya yang mengantuk terlihat
tegang menatap ke arahku. Buru-buru ia menghampiriku.
“Serius? Lo hamil? Sama siapa?” tanyanya beruntun. “Masa gara-gara ciuman doang
lo langsung hamil? Lagian itu udah dua hari yang lalu kali.”
“Haaaah sukseeessss!” seruku senang. “Bego lo, masa iya gue hamil. Sekarang
ikut gue cepetan.”
“Sialan lo, gue kira hamil beneran.” kata Rega mengekor di belakangku detik
selanjutnya ia menarik tanganku yang baru mau keluar pintu. “Eh, mau kemana?”
Aku langsung cengar-cengir ke arahnya, “Gue baru belajar masak, hehehehe.”
Rega menaikkan salah satu alisnya, “Terus?”
“Lo harus jadi orang pertama yang nyobain.”
“Idih ogah, ntar kalo gue keracunan gara-gara masakan lo gimana?”
Lagsung kubalas dengan tatapan sewot, ini anak bagus-bagus di kasih ultimatum
sebagai orang yang nyobain masakan pertamaku malah menghina.
“Jadi lo gamau?” tanyaku ketus.
“Ngga deh kapan-kapan aja.” ujar Rega santai. Mendengar jawabannya aku langsung
mengeluarkan ponselku. “Ngapain tuh ngeluarin hp?”
“Kepo.” balasku, beberapa saat kemudian setelah mengetikkan sebuah kalimat
ponselku langsung di ambil oleh Rega.
“Apaan nih? Mau nge-line Raka? Gue bilang kan gue gasuka lo deket sama dia,
batu.”
“Lagian lo gamau jadi orang pertama yang nyobain masakan gue, yaudah gue mau
line Raka deh buat jadi orang pertamanya.”
“Ngga! Ngga bisa.” ujar Rega cepat membuatku mengernyit sesaat. “Ngg..maksud
gue—emang siapa sih sahabat lo? Raka? Emang dia siapa lo? Ngga jadi, gue mau
deh nyobain. Sekarang cepetan sana ke dapur masak yang enak buat gue.” Rega
mendorongku agar turun ke bawah.
“Plin plan! Katanya tadi gamau?” cetusku.
“Masak-masak aja sana.” aku mencibir sambil berjalan ke dapur.
“Ko sepi sih rumah lo, Ga?” teriakku dari dapur. “Mbok Diah, aku aja yang masak
sarapan buat Rega. Mbok ke kamar aja ya? Ya? Oke, daaah mbok.”
“Pergi!” balas Rega sambil teriak juga.
****
Rega
Gue nunggu Vanilla sambil nonton tv, sebenernya gue ngga yakin sih dia bakalan
berhasil apa ngga. Jangankan di suruh masak, nyalain kompor aja masih gamau.
Katanya takut meledak. Emang tuh anak satu rada-rada sableng.
Klontang! Klontang!
Tuh kan, baru juga dua menit ada di dapur ada aja benda yang jatoh. Mau ga mau,
gue rada ketawa dikit juga. Gangerti gue sama jalan hidup Vanilla. Bodo amat
dah dia lagi ngapain kek di dapur. Liat aja nanti hasilnya.
“Waaaa!” teriakkan Vanilla terdengar sampai ruang tv. Gue yang lagi
santai-santai nya nonton doraemon mau ga mau nengok juga.
“Kenapaa?” aku yang kepo sebenernya dia masak apa sampai kayanya ribet banget
bertanya.
“Gapapaa.” jawab Vanilla.
Oke, serah lo dah Van.
Setelah beberapa menit akhirnya Vanilla menyuruhku ke dapur. Dan ngga heran
lagi, gue udah ga shock kalo nasip dapur rumah gue jadi macem kapal kebelah
jadi seribu. Di depan gue sekarang Vanilla lagi cengar-cengir sambil mengangkat
sebuah piring.
“Omelet isi kornet ala chef Vanillaaaa!” Vanilla mempersembahkan masakannya,
bikin gue ketawa. Banget.
Gue liat Vanilla mengerucutkan bibirnya karena gue ketawa. Tapi ini emang lucu
banget, kalo Cuma omelet ginian mah gue juga sering kali bikin. Buat ngehargain
usahanya karena udah mau bikinin sarapan buat gue, apalagi katanya gue orang
pertama yang nyobain masakannya. Gue seneng aja jadinya. Jadi, gue stop ketawa.
“Bilang makasih kek apa kek udah di masakin!” ujar Vanilla.
“Iyaa iyaa, makasih yaaaa.”
Gue bawa itu omelet ke meja makan, dengan Vanilla yang daritadi ngeliatin gue
terus kayanya ngarep banget makanannya di komentarin. Tapi lama-lama gue risih
juga di liatin.
“Gila ya, gue ga mood makan nih kalo di liatin terus.” kata gue.
Tapi malah di sambut dengan senyuman cerah olehnya, “Ih lama banget si makan
doang, gue suapin aja sini.”
Sebelum gue sempet megang itu piring, piringnya keburu di rebut sama Vanilla
dan dia motong omelet itu pake sendok. Membawanya ke depan mulut gue sekarang.
Gue merasa gagal menjadi seorang laki-laki. Gue merasa di ambiguin sama cewek
ini.
“Aaaaa!” kata Vanilla. “Cepetan ih makan!”
Selebihnya, gue udah stres duluan deh ngadepin dia.
PS: Omelet isi kornetnya enak juga, kalo mau nyobain minta aja gih sama
Vanilla. Sekarang gue lagi di tarik sama dia buat mandi terus di suruh nganterin
dia beli buku.
****
Setelah beli buku banyak di toko buku, aku dan Rega pergi ke sebuah cafe
rekomendasi dari Bagas. Katanya waktu pas pertama nge-date sama Dita ga sengaja
dia nemuin itu cafe. Tempatnya asik banget katanya. Rega harus memarkir
motornya di jarak yang cukup jauh dari cafe karena cafe itu tidak ada tempat
parkirnya.
Jadi kami harus berjalan sebentar agar sampai, di tengah jalan Rega meraba-raba
kantongnya.
“Dompet gue ketinggalan,” katanya. “Lo masuk duluan aja, nanti gue nyusul. Awas
tuh jalan yang bener tengok kanan sama kiri nan—“
“Aduuh berisik ah, iya iya.” belum sempat Rega menyelesaikan kalimatnya aku
langsung ngeloyor pergi.
Aku berjalan santai menuju ke cafe, kulewatkan beberapa toko yang menarik
perhatianku. Sebentar aku berhenti dahulu lalu melihatnya kemudian berjalan
lagi. Tinggal menyebrang jalan satu kali aku sampai pada cafe tersebut. Namanya
cafe bean.
Karena terlalu semangatnya menuju cafe aku sampai lupa pesan Rega. Aku tidak
tenog kanan dan kiri saat menyebrang, sebelum sempat sadar apa yang akan
terjadi. Sebuah suara terdengar dari ujung sana.
“VANILLA, AWAS!” aku menoleh ke sumber suara, ternyata Rega sedang berlari ke
arahku sekitar seratus meter dari tempatku berada. Wajahnya panik bukan main.
Aku bingung, ada apa sebenarnya? Sebelum tahu apa yang terjadi, kurasakan
tubuhku terjengkang ke belakang. Refleks aku menutup mata.
Jadi, apa aku ketabrak mobil? Apa aku sudah mati? Kok tidak sakit rasanya?
Hanya saja, sedikit nyeri bagian sikutku. Tapi kurasa tidak, aku tidak
ketabrak—maksudku, ah syukurlah. Jadi, apa ada yang menolongku? Rega?
Perlahan aku membuka mata dan mengerjap-ngerjap sebentar. Aku meringis sebentar
sebelum benar-benar membuka mata. Kurasakan tubuh seseorang berada di atasku
dan tangannya menjaga kepalaku agar tidak terbentur jalanan. Wanginya bukan
wangi Rega.
“Lo.. gapapa?”
Aku bengong sesaat saat tahu siapa dia, “Ra-ka?” bagaimana dia bisa berada
disini?
“Lo gapapa kan?” ulangnya. “Sikut lo berdarah.” Raka membantuku untuk bangun.
Aku menoleh pada sikutku, hanya luka kecil.
“Thanks ya udah nolongin gue.” kataku pelan.
“Anytime, luka lo harus cepet di obatin.” tukas Raka sambil mengecek sikutku.
“Biar gue aja yang ngobatin.” suara berat khas Rega terdengar sampai ke
telingaku. Dia sudah berada di sampingku sambil memegang lenganku. “Sakit?”
kata Rega lembut ke arahku.
Aku hanya meringis, “Iyalah sakit!”
Rega menatap sebentar ke arah Raka, “Thanks ya.” katanya walau sedikit canggung
dan kelihatan tidak ikhlas.
“Sip.” jawab Raka lalu melirik ke arahku sebelum aku di bawa Rega meninggalkan
tempat. Aku sempat tersenyum ke arah Raka sebelum Raka beranjak pergi
berlawanan arah dengan kami.
“Adow sakit tau! Pelan-pelan kek! Gue cewek nih!” untuk ke sekian kalinya aku
protes pada Rega yang sedang mengobati lukaku.
“Ck, bagus-bagus di obatin! Ini udah paling pelan! Lagian gue meragukan
kecewekan lo.” kalimat terakhirnya membuatku mencubit lengan Rega. Dia hanya
meringis pelan. “Udah ah capek gue.” kata Rega setalah membalut lukaku.
“Ya emang udah.” aku meniup-niupnya.
“Ngapain sih di tiup-tiup?”
“Biar sakitnya ilang.”
“Susah ngomong sama orang yang otaknya terbang.”
“Rega, guesebelsamalobodo.” kataku cepat dan memalingkan wajahku darinya.
****
Setiap tiga bulan sekali keluargaku selalu mengadakan acara keluarga. Terdiri
dari sepupu, saudara, keponakan, tante, om, bude, pakde, juga eyang putri dan
kakung. Kali ini di adakan di sebuah restoran di pinggir pantai. Suasananya
sangat romantis untuk keluarga juga pasangan muda-mudi.
Anak adik dari Papa, Caramel meghampiriku seperti biasa. Dia adalah saudaraku
yang jutek nya minta ampun. Setiap kali kami bertemu pasti dia akan selalu
berbicara tentang Rafa-nya. Rafa yang ngeselin, bikin sewot, bikin naik darah.
Semua hal yang Caramel tidak suka dari dirinya.
Hah, dasar cewek zaman sekarang. Dimana-mana benci jadi cinta. Tapi Caramel
selalu mencak-mencak dan menentangnya.
“Gimana si Rafa?” tanyaku.
“Lumayanlah, nilai rapotnya naik. Gue aja mangap pas kepsek ngasih tau gue.”
ceritanya baru saja di mulai. “Kemarin aja tiba-tiba dia ngajak gue ke restoran
jepang gitu. Ya gitulah, ga ngerti gue.”
“Mulai suka kali sama lo.” cerocosku.
“Sampe eyang ikut xfactor gue ga suka sama dia.” jawabnya. “Gue gabisa kebayang
kalo gue sama dia. Tiap hari gue marah-marah, terus gue kena penyakit darah
tinggi, lama-lama gue jantungan. Gue keriput, gue menua. Lalu gue mati bukan
pada waktunya. Ngga deh, ngga.” Caramel bergidik membayangkannya membuatku
tertawa.
“Ngomong-ngomong, mana Mocha?”
Adalagi saudaraku yang satu itu namanya Mocha, Mochaccino. Adik pertama dari
Papa. Mengingat Papa ku anak pertama, Papanya Mocha anak kedua dan Papa nya
Caramel anak terakhir. Nama kami sama kan? Maksudnya namanya aneh, macem rasa.
Tiba-tiba Mama yang mempunyai ide seperti itu karena kebetulan kami lahir di
tahun yang sama hanya saja bulannya berbeda-beda. Jadi, begitulah.
“Tuh dia.” tunjukku pada seorang perempuan yang sedang duduk di pinggir pantai.
Kebiasaannya emang suka menyendiri. Walaupun ternyata kalau di telusuri lebih
jauh anaknya asik banget gila.
“Eh disini ternyata, calon penulis.” sahut Caramel sambil duduk di samping
Mocha.
“Gimana novel nya?” tanyaku.
“Lagi proses, tapi gue bingung soalnya tu novel dari cerita gue sendiri.”
“Non-fiksi gitu?”
Mocha mengangguk, “Soalnya kemaren gue ketemu cowok di cafe pas gue lagi nulis.
Dia—ah lo berdua harus liat sendiri deh.”
“Gimana sih emaaang?”
“Matanya item banget. Banget, pake D. Tajem, nusuk, gue suka banget sama
matanya. Kek mata elang gitu. Dan lo tau ga ternyata namanya siapa?”
“Siapa?”
“Namanye Elang.”
“Weh, jangan-jangan lo bakalan move-on lagi dari siapa tuh namanya..Al..”
“Alfa?” sambungku.
“Nah iyalah gitu.”
Lalu kami berdua terlibat dalam obrolan remaja sepeti biasanya. Dari mulai
Rafa, Elang, Alfa, siapa aja lah yang enak jadi bahan omongan. Sampai topik
mengarah kepadaku.
“Gimana kabar Rega?” tanya Mocha.
Duh, cerita ga ya tentang yang waktu itu..
“LO SERIUS?” dengan dahsyatnya Caramel berdiri dari tempatnya. Seakan tidak
percaya. “Gila! Kok lo bisa di cium sama dia?”
“Gatau.”
“Gampang lah di tebak cerita-cerita kaya lo. Nanti lo pasti juga ujung-ujungnya
sama Rega.” sahut Mocha. “Sahabat antara cewek sama cowok kan dimana-mana emang
pilihannya Cuma dua. Lo sama dia saling suka atau salah satu dari lo harus
merasakan sakit hati.”
“Ngga, ngga mungkin Rega suka sama gue. Gue sama dia udah sahabatan dari SMP,
jadi ga mungkin. Kayanya pendapat lo salah Cha, gue sama dia sama-sama gasuka.
Dan ciuman itu Cuma refleks gara-gara suasana.” jelasku. “Lagian.. kayanya gue
lagi suka sama seseorang.”
Teringat kejadian minggu kemarin saat Raka menolongku. Seperti ada gelenyar
rasa berbeda saat pertama kali aku membuka mataku dan mendapati dia baru saja
menolongku.
“SIAPA?”
“Tapi gatau juga sih ini suka apa ngga, kayanya gara-gara rasa terimakasih gue
deh gara-gara minggu kemarin dia nolongin gue.” jelasku lagi.
15
Lagi-lagi tidak ada yang jemput pulang bimbel. Emang begini nih nasip bimbel
jauh dari rumah hanya karena tempat bimbel paling terpercaya, kata teman Mama
dan Mama percaya. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan ke ujung jalan
sebentar untuk mencari makan. Setauku di sana ada seafood enak.
Setelah jalan sekitar duaratus meter dari tempat bimbel. Aku mendengar ada
suara-suara, tepatnya suara yang kudengar berada di sebuah gang kecil yang
menuju ke perumahan sebelah. Penasaran, aku membelokkan langkahku ke gang itu.
Berjalan mengendap-ngendap layaknya film-film action. Oke, mulai lebay.
Semakin aku mendekat, semakin jelas pula suara yang terdengar. Dari yang
kutangkap sepertinya siapapun orang disana sedang bertengkar. Detik selanjutnya
aku mendengar suara wanita menjerit diikuti sebuah suara tinju dari seseorang.
Kini aku telah benar-benar dekat dari TKP, dan seketika itu pula aku terkejut
dengan apa yang kulihat.
“Berani lo deket-deket cewek gue lagi, abis lo sama gue!” ancam seorang
laki-laki disana, dari tampangnya sekitar anak kuliahan. Perempuan yang berada
di sampingnya hanya diam mematung di sampingnya.
“Deket-deket cewek lo? Yang ada cewek lo yang ngedektin gua.” katanya santai
sambil mengelap bibirnya yang berdarah.
“Bangsat lo!” si laki-laki yang tadi marah-marah maju menerjang, tangannya yang
sudah terkepal menahan amarah di arahkan ke pipi laki-laki di hadapannya.
Namun dengan cepat di tangkis oleh laki-laki itu, di pelintirnya tangannya agar
tubuhnya memutar 180 derajat. Mau tidak mau aku ngeri sekaligus tersenyum juga.
Setidaknya dia jago berantem, entahlah mungkin dia dulu mantan seorang karate,
takwondo, atau apalah.
“Sekali lagi gue bilang ke lo,” desisnya tajam, menyeramkan. “Cewek murahan lo
itu yang deketin gue.” lanjutnya diiringi dengan teriakan dari laki-laki yang
sedang di pelintirnya.
“Gue? Cewek murahan kata lo?” si perempuan tidak terima di bilang cewek
murahan. Dari gayanya sih aku tidak masalah kalau dia di bilang cewek murahan,
pakaiannya saja seperti kekurangan bahan. Hell-o, kaya ga punya duit aja sih
buat beli baju.
Krek!
Si perempuan menjerit mendengarnya.
Demi Tuhan, aku ngilu di buatnya. Bahkan aku sampai menutup mata saat
melihatnya serta menggigit bibirku kencang-kencang menahan ngilu. Aku rasa
tangannya retak atau patah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa
sakitnya.
Laki-laki itu terjatuh, tubuhnya terkulai lemas. Raut wajahnya menunjukkan
sedang menahan sakit. Buru-buru si perempuan berjongkok untuk memapahnya.
Menatap tajam ke arah laki-laki yang baru saja memelintir tangan laki-laki yang
sedang di papahnya. Namun dia hanya menatap sekilas sambil berlalu dari hadapannya.
Setelah melihat semuanya, aku berjalan mengendap mundur ke belakang. Dua
langkah ke belakang aku berjalan secepat mungkin mengitari gang, sebelum
kudengar suara dari belakang memanggil namaku.
“Vanilla?”
Mampus kan ketauan.
Aku berhenti dan memutar tubuhku. Meringis tidak enak karena ke-gep.
“H-hai.” sapaku tersendat.
Jadi, laki-laki tadi itu Raka. Kuulangi sekali lagi, Raka.
Raka berjalan mendekat ke arahku, “Kenapa bisa disini?”
“Itu.. ngg.. baru pulang bimbel, mau cari makan—terus ga sengaja gue—“
“Kalo liat yang barusan gausah di pikirin,” kata Raka, suaranya asli beda
banget dari yang tadi. Bedanya kaya langit dan sumur, sumpah. “Jadi, masih mau
nyari makan?”
Aku mengangguk cepat, “Mau! Gue laper banget.”
“Gue tau tempat yang enak.”
Aku dan Raka makan berdua di tempat makan seafood kaki lima pinggir jalan. Tapi
ini pinggir jalannya, pinggir jalan banget. Mungkin kalau orang Cuma lewat gak
akan tau kalo ada tempat ini. Soalnya juga harus jalan dulu sebentar.
“Enak?” tanya Raka setelah piringku hampir setengah.
“Enak lah, seafood. Tapi tambah enak nya gara-gara porsi nya banyak juga hehe
harganya juga sama aja kaya seafood biasa.”
Raka terkekeh sebentar, “Gitu ya manusia, harga murah, enak, dapet banyak
maunya.”
“Ya iyalah! Lo liat ga tuh orang cina pada kaya-kaya banget kan? Gara-gara irit
tuh sama selagi ada yang murah kenapa harus yang mahal?”
Raka mengangguk-ngangguk menyetujui mendengar jawabanku. “Btw, lo ga ada yang
jemput lagi nih ceritanya?”
Aku hanya meringis dengan tampang sok melas, “Engga, hehe.”
“Okay then, lo bisa pulang sama gue.”
Raka mengantarku sampai tepat di halaman rumah. Sebelum aku membuka pintu
mobilnya, Raka memanggilku sebentar.
“Besok pulang sekolah kemana?” tanya Raka.
Aku mengingat sebentar, setauku besok hari Rabu. Itu artinya jadwal Rega ekskul
basket, biasanya aku di suruh nunggu.
“Ngga kemana-mana sih.. emang kenapa?”
Raka diam sesaat, “Kalo.. gue bilang gue mau ngajak lo ke rumah gue, mau?”
Aku mengernyitkan dahi, “Bukannya besok lo harus ekskul basket ya?”
“Sekali-kali gapapa kan bolos?”
“Iya sih..”
“Jadi, mau?” tanyanya.
“Tapi emang mau ngapain?” ya harus nanya kaya gini, sekarang gue ga bego. Bisa
aja kan yang Rega bilang bener, kalo Cuma ada gue sama Raka. Ya gitu lah
pokoknya.
Raka tersenyum mengerti, “Nyokap gue besok ulangtahun, terus dia ngundang lo
buat makan malem.”
Seketika aku jadi merasa serba salah, malu banget deh. “O-oh gitu, kalo gitu
gue mau. Tapi.. gue ngasih kado apa ya enaknya?”
“Lo mau dateng juga itu kado buat nyokap gue.”
Aku memutar-mutarkan bola mataku, “Oke.”
****
Rega beserta tim basket nya baru berkumpul di lapangan.Seragamnya sudah
berganti menjadi seragam basket Pelita Harapan. Buru-buru aku menghampirinya,
Rega sedang meminum aqua botolnya.
“Ga, gue pulang duluan aja ya.” kataku.
Rega menutup aqua botol tersebut yang telah habis dan melempar sembarangan ke
belakang, mengernyitkan dahi ke arahku.
“Lo pulang sama siapa?” tanyanya.
“Ngg.. Vika.. minta temenin gue beli.. kado buat temennya. Iya kado.” aku
cengar-cengir ke arahnya.
“Pulang naik apa?”
“Tak—si, iya taksi.”
“Gue anterin ke depan, sampe lo dapet taksi.”
Buru-buru aku menjawab, “Apaan sih, Ga. Lo kata gue anak SD serba di anterin,
gamau! Gue sendiri aja.”
“Yaudah, nanti pas lo masuk sebutin alamat rumah lo. Terus kalo tiba-tiba udah
keluar jalur dan katanya biar lebih deket. Jangan mau.” ah mulai lagi. “Kalo
ada apa-apa, telpon gue aja.”
“Iyaa.” jawabku malas.
“Vanilla.”
Aku menatap ke arah matanya, “Iya Regaaa Iyaaa, yaudah ya gue balik dulu.
Papoy!”
Huft, akhirnya.
Raka sudah menungguku di parkiran. Untung parkiran dengan lapangan terpisah
oleh gedung, jadi tidak akan kelihatan.
“Sori ya lama.” kataku, memang tadi pas di kelas aku menyuruh Raka untuk duluan
ke parkiran. Dan Raka mengerti maksudnya, karena aku harus bilang dulu pada
Rega.
“Yuk naik.”
“Tapi gue ga enak ah kalo ga ngasih kado.”
“Kan udah gue bilang, lo dateng aja itu udah jadi kado buat nyokap gue.”
“Plis.” akhirnya Raka mengalah dan tersenyum setuju.
Raka membantuku untuk mencari kado yang pas buat Mama nya. Akhirnya pilihan
jatuh pada sebuah tas, katanya Mama nya Raka suka mengoleksi tas. Sambil
menunggu mbak-mbak nya bungkusin kado aku mengobrol dengan Raka, masih
penasaran dengan kejadian semalam.
“Yang semalem itu..”
“Ga usah di pikirin.” balasnya.
“Tapi gue kepo.”
“Intinya itu cewek deket-deket in pas gue lagi mampir buat beli—you know.” aku
mengangguk mengerti, yang di maksud adalah rokok. “Terus ya gitu deh cowok nya
dateng dan gaterima kalo gue deket-deket itu cewek nya.”
Aku membentukkan bibirku menjadi huruf O, maksudnya sudah mengerti.
“Kenapa lo bisa di sana?” tanya Raka.
“Abisnya penasaran hehe. Eh iya, ngomong-ngomong lo jago juga ya berantem.”
Raka terkekeh, “Gue sabuk item taekwondo.”
****
Mobilnya berhenti tepat di parkiran rumahnya, yang bisa memuat hampir 10 mobil.
Gila ini orang kaya banget apa, pikirku. Rumah Raka bergaya mediterania dengan
cat krem coklat yang memberi nuansa enak di pandang.
Raka memanggil Mama nya saat pembantu rumah tangganya membukakan pintu untuk
kami. Kemudian dari atas seorang wanita yang usianya sudah hampir separuh baya
namun wajahnya masih sangat fresh seperti anak muda keluar.
Taruhan kalo itu Mama nya Raka?
Itu emang Mama nya Raka.
“Halo tante.” sapaku niat-niat ragu. Awkward banget.
“Oohh jadi ini ya Vanilla? Cantik sekali.”
“Hehe makasih tante—oh iya, selamat ulang tahun ya tante.” aku memberikan
kadoku kepadanya.
Senyumnya mengembang, “Wah ngerepotin, makasih ya sayang.”
“Raka ke atas dulu ya Ma, mau ganti baju.” kata Raka. “Gue ke atas ya.” Raka
langsung beranjak naik ke tangga.
Sepeninggal Raka ke atas aku dan Mama nya Raka –tante Shalom—ngobrol-ngobrol di
ruang makan. Ternyata Mama nya emang udah masak. Jadi, gitu deh.
“Raka sering cerita tentang kamu lho.”
“Ha? Iya tante?” aku meringis mendengarnya. Cerita apa lagi.
“Tante seneng deh Raka bisa kenal sama kamu, sejak kenal sama kamu tuh Raka
jadi jarang nge-rokok. Tante seneng banget ngeliatnya apalagi dia juga jadi
sering izin kalo kemana-mana biasanya kan ngga.”
“O-oh gitu ya.”
Tadi apa kata tante Shalom? Jarang nge-rokok? Gara-gara gue gitu maksudnya? Eak
asik banget. Ha-ha.
Acara makan-makan berjalan seperti biasanya. Hanya ngobrol-ngobrol biasa
masalah sekolah dan semacamnya. Tapi daritadi aku lihat tante Shalom sepeti
sedang menunggu sesuatu, jelas itu terbaca dari lirikan matanya yang selalu
mengarah ke pintu utama. Bersamaan dengan itu, bel rumah Raka berbunyi.
“Biar Mama aja yang buka pintu nya ya.” ujarnya terlihat sedikit ragu. Raka
cuek dan melanjutkan makannya, sementara aku menatap sekilas kepergian tante
Shalom lalu fokus pada makananku lagi.
Beberapa menit kemudian tante Shalom dateng bersama dengan seorang pria. Apakah
itu Papa nya Raka?
“Vanilla, ini kenalkan—“
berubah mengeras. Tangannya terkepal di samping, detik selanjutnya ia telah
berdiri dari atas kursinya.
“Ngapain Mama ngundang dia kesini?” ujar Raka pelan namun tajam.
“Mama Cuma—“
“Kenapa Mama ngga bilang kalo dia di undang juga?”
“Raka, ini bukan seper—“
“Raka, Papa kesini—“ laki-laki yang kutebak Papa nya Raka angkat berbicara.
Tapi itu memang sepertinya Papa nya Raka, mengingat tadi ia mengucapkan kata
Papa dalam kalimatnya. Tapi—kenapa kaya gini? Kenapa Raka kaya gasuka banget?
“Saya tidak bicara dengan anda.” balas Raka cepat. “Raka pergi dulu.” melihat
Raka yang beranjak pergi tante Shalom seperti ingin mengejar Raka, namun segera
kutahan.
“Biar Vanilla aja tante.” sahutku.
“Tolong ya Vanilla..” ucap tante Shalom, suaranya seperti memendam kesedihan.
Aku mengangguk mengiyakan.
“Permisi Om.” anggukku kepadanya demi kesopanan dan baru beranjak untuk
mengejar Raka.
****
“Orangtua gue cerai waktu umur gue 6 tahun. Bokap ternyata udah nikah lagi.
Nyokap langsung ngajak gue buat ke Amsterdam, ke rumah nenek.” aku dan Raka
telah berdiri di atas gedung tempat favoritnya. “Tiap bulan bokap ngasih uang
bulanan ke nyokap buat biaya hidup gue. Nyokap gamau hidup ketergantungan
akhirnya setelah dua tahun kerja jadi desainer di salah satu butik. Nyokap
bikin butik sendiri dan sekarang butiknya udah ada cabang di Indonesia, jadi
yah.. gue kesini lagi.” tatapan mata Raka tidak terbaca.
“Gue turut.. apa ya bahasanya? Pokoknya gitu deh—tapi yang jelas, gimanapun
juga itu bokap lo. Bokap kandung lo. Lo gaboleh kasar sama dia, seengganya lo
harus respect sama dia, suka ngga suka, mau ngga mau. Lo harus terima.” kataku
sok menasehati. “Ya gitu deh, gue juga gangerti gue ngomong apa sebenernya. Ga
pernah denger curhatan berat kaya gitu sih soalnya.”
“Lo dengerin tanpa harus komen pun gue juga udah seneng.” katanya. “Thanks ya
lo udah mau dengerin.”
“Iya sama-sama.” jawabku. “Kata nyokap lo tadi.. katanya lo udah jarang
nge-rokok ya?”
Raka mengernyitkan dahinya dan tersenyum samar, “Cerita apa aja nyokap gue
tadi?”
“Ya gitu sih tentang perubahan lo aja. Gue seneng kok kalo lo jarang nge-rokok
lagi. Tim inti basket kok nge-rokok.”
Raka tertawa kecil, “Gue jarang nge-rokok lagi gara-gara ada orang yang—“
Sebelum Raka menyelesaikan kalimatnya ponselku bergetar di saku seragamku. Aku
tersenyum simpul pada Raka dan menggeser tubuhku sedikit menjauh saat akan
menerima telpon.
“Apaan, Ga?”
“Kak Vika di rumah.”
“I—ya, terus?”
“Lo pergi sama siapa?”
“Tunggu—kok lo kenapa bisa nuduh kalo Kak Vika ada di rumah?”
“Barusan gue ketemu. Sekarang gue di depan rumah lo.”
For the love of God, bunuh aku sekarang juga bisa gak?
16
Rega
Gue cuma jalan masuk ke rumah sambil ngeliat sekilas si gentong (re: Galih)
yang lagi main Xbox. Pas banget kaki gue naik satu tangga si gentong ngajak gue
main Xbox. Kita biasa battle. Jadi gue memutuskan untuk main sama adek gue yang
badannya udah segede gentong itu.
Tapi kayanya mood gue udah bener-bener ancur, biasanya gue selalu menang. Terus
gue selalu bilang jatah makan malem si gentong harus gue ambil setengah. Dia
nangis, gue ngakak. Tapi sekarang suasananya beda, si gentong udah
lompat-lompat sampe rumah gue macem gempa bumi dan gue cuma natep dia dengan
tatapan sedatar-datarnya gue.
“Sekali lagi lo loncat, kita gak bakal punya rumah lagi tong.” gue ngomong
sambil pindah posisi ke atas sofa.
Dia berenti loncat-loncat, “Hah? Maksudnya apa bang?”
Senengnya punya adek segede gentong itu bisa gue jailin ampe mampus, ampe gue
puas dan yang paling penting ampe mood gue balik lagi.
“Sadar dong badan lo segede apa.”
“AKU KURUS!” Galih mencak-mencak tidak terima.
“Di liat dari sedotan sih iya.”
“MAMAAAA!” kebiasaannya pasti selalu ngadu ke Mama.
Buru-buru aku langsung membekap Galih dan berlaga men-smack down dia. Galih
sukses jerit-jerit, gue ketawa jahat. Sampe suara pintu kamar kebuka.
“REGAAA! KAMU APAIN ITU ADEK KAMUUU!” dari sana Mama udah melototin gue.
“MAMA TOLOOONG!” Galih masih sibuk jerit-jerit dan meminta bantuan Mama. Asli,
ini kaya sinetron abis. Dengan terpaksa gue nurunin si Galih walau masih sambil
ketawa.
“Dadah gentong!”
Gue lagi tidur-tiduran di atas kasur, sebenernya mood gue udah balik. Tapi
masih kepikiran aja sebenernya. Kenapa coba Vanilla harus boong? Takut gak
boleh gitu sama gue pergi sama Raka? Tapi kalo pun gue bolehin, ngapain lagi si
Raka-Raka itu ngajak Vanilla pergi? Kaya gak ada cewek aja sih selain Vanilla.
Kenapa harus Vanilla sih?
Dan kenapa juga gue harus ngedumel macem lekong gini?
Sip, berenti ngedumel.
Pintu kamar gue kebuka, satu kepala nongol di baliknya. Adek gue dengan tampang
innocent nya ngelongok ke kamar gue tanpa permisi.
“Apa lo?” kata gue.
“Di suruh Mama manggil, katanya di suruh makan. Katanya abang harus makan.
Katanya—“
“Lo jadi cowok harus konsisten dong! Katanya katanya!”
“Konsisten itu apa, bang?” ini gue ngomong sama dia masih sambil gue di atas
kasur sama dia yang masih nongol di pintu ya. Dan yang nongol itu Cuma
kepalanya.
“Alah susah ngomong sama anak kelas—kelas berapa si lu?”
“Kelas 3 SD dong.”
“Pantesan.”
“Udah ah, aku mau makan. Lapeeerrrr. Menu sekarang kepiting asam manis lhoo.
Hihihihi.” Galih baru mau nutup pintu langsung buru-buru gue cegah.
“Et, et, tunggu! Sini dulu deh.”
Pintu kebuka sedikit lagi dan kepala muncul kembali, “Apa, bang?”
“Sini, duduk samping gue. Gue mau nanya.”
Galih menutup pintu dan berjalan ke arah gue, “Nanya apa?”
“Lo di sekolah, ada cewek gak—maksud gue lo suka-sukaan gak sama cewek di
sekolah, tong?”
“Apa tu suka-sukaan?”
Sumpah ya ribet banget ngomong sama bocah, “Tau gebetan gak?” Galih menggeleng.
“Tau pacaran?”
“TAU!” dengan bersemangat 45 Galih berseru.
“Nah, kalo tau. Lo pacaran gak di sekolah?”
“IYA DOOONGGG!” katanya bangga. “Aku pacaran sama, Edo. Dia pacaran yang
bagus.”
Refleks gue ngerutin dahi, “Ha? Edo itu.. cowok?”
Galih ngangguk.
Parah! Jangan-jangan adek gue gay.
“Kata Ibu Melisa, kita boleh pacaran sama siapa. Harus pinter-pinter milih
pacaran.”
Bentar, jadi maksud si gentong tuh—pacaran itu temenan?!
****
Tadi malam aku memaksa Vandy untuk mengantarkanku ke sekolah nanti. Tadinya dia
sempet gak mau. Tapi akhirnya mau juga. Kutebak dari pertama Rega menutup
telpon waktu aku masih sama Raka. Pikiranku langsung melayang kemana-mana, Rega
pasti marah gara-gara di boongin. Rega pasti gak akan jemput.
Jadi, karena Vandy katanya ada jadwal kuliah pagi-pagi sekali. Persyaratannya
aku harus bangun lebih pagi dari biasanya. Biasanya kan kalau sama Rega bisa
ngaret.
“Vanilla, cepetaaaan!” Vandy sudah menggedor-gedor pintu kamarku.
“Sabaaaar.”
Baru aku melangkahkan kaki ke luar rumah, aku melihat Rega sedang melepas helm
nya. Aku mengucek mata sebentar, untuk benar-benar memastikan.
Demi. Apa. Rega. Jemput.
“Ngapain lo mau nebeng-nebeng gue kalo Rega udah jemput lo?” ujar Vandy sambil
masuk ke dalam mobilnya. Sebelum masuk mobil Vandy bilang ke Rega. “Kata
Vanilla hari ini lo ga jemput dia?” tanpa perlu menanti jawaban Vandy tetap
masuk ke dalam mobil.
Perlahan aku jalan ke Rega, “Kok.. jemput?”
“Biasanya?” nada Rega kaya sok sewot.
“Gue kira lo marah..,”
“Emang kalo orang lagi marah gak boleh jemput?”
“Ya boleh sih..”
“Yaudah.”
“Tapi.. emang lo marah?”
“Menurut lo?”
“Marah..”
“Emang gue marah. Jadi, biar gue gak tambah marah. Cepetan naik.”
Aku mencibir ke arahnya saat dia sedang memakai helm kembali. Di jalan tidak
ada obrolan di antara kita berdua. Sibuk mikir masing-masing.
“Ga.” kataku setelah sampai di sekolah.
Rega tidak nengok, “Rega!” Rega tetap diam sambil berjalan menuju kelas, aku
mengokor di belakang. “Rega mah..”
“Gue lagi marah sama lo. Gue gak mau ngomong sama lo. Sampe—ntar ya gue
pikir-pikir dulu sampe kapan.”
Aku memutarkan kedua bola mataku, “Hah?”
“Sana masuk kelas.” kemudian Rega berlalu dari hadapanku, meninggalkanku yang masih
cengo kaya bebek.
Karena Rega beneran tidak ngomong sama sekali denganku, katanya. Ngomong sih,
hanya saja dikit banget. Kaya seperlunya aja. Ya gitu. Aku nge-line dia, kali
aja mau ngomong di line. Tapi sebenernya kan itu gak ngomong, itu ngetik. Jadi
harusnya mau!
Me: kalo ngomong di line mau gak?
Abrega Mahardika: ngga
Me: yaaaah :’(
Abrega Mahardika: itu emot nya kepencet gak?
Me: ngga. ini beneran. ini bukan main-main.
Me: ini kan line, Ga. kita gak ngomong. kita ngetik.
Just read.
Me: Ga
Me: Regaaaaa
Me: PINGGGGGGG!
Me: POOOONNGGGGG!
Me: udah ah ngantuk
Me: mau tidur dulu ya
Me: dadah Rega
Ihmasih gak di bales juga?!
Me: beneran gak di bales lagi. yaudah bye
Me: sekarang beneran.
Me: end of story
*read* *read* *read* *read* *read*
Huft.
****
Rega
Rasanya gue pengen ngakak guling-guling ngeliat chat line dari Vanilla yang
lebih banyak dari biasanya. Gue sengaja nahan buat bales padahal sebenernya
pengen banget bales. Tepi gue pengen tau respon dia kayak apa. Ternyata kaya
gini. Bikin gue ngakak sampe mau pingsan.
Tidak ada chat lagi dari Vanilla, padahal gue masih nunggu. Tapi kayanya dia
udah tidur. Capek juga kali ya di kacangin.
Me: udah gak marah
Me: udah tidur ya?
Me: oke, selamat tidur!
Sampe kapan pun gue gak akan pernah bisa marah ke Vanilla. Dia terlalu—susah
buat di marahin karena jatohnya dia gak bakal peduli walaupun dia dengerin dan
dia kadang nurutin perintah marah-marah gue. Kadang doang.
****
Sedang asik-asik nya tidur, Vika udah narik aku ke kamar mandi buat cuci muka
dan gosok gigi lalu menemaninya lari pagi. Vandy lagi manasin mobil, sambil
menguap aku masuk ke dalam mobil.
Sampai di tempat lari pagi, sudah banyak orang yang berlari pagi. Tiba-tiba
Vandy dan Vika memisahkan diri dariku. Dari jarak yang bisa aku lihat,
sepertinya Vika lagi ngomong sama laki-laki. Begitu juga Vandy, dia lagi
ngomong sama seorang perempuan. Dan dua-duanya sama-sama senyum-senyum
menjijikkan. Ew.
Pasti sama pacar-pacarnya!
Terus buat apa mereka ngajak gue lari pagi bareng mereka kalo gitu?!
Tiba-tiba ponselku bergetar. Ada sebuah message.
From: Mama
To: You
Kamu udah sampe kan sayang?
Mama sengaja nyuruh Vika sama Vandy buat
nyuruh kamu lari pagi. Sekali-kali hidup sehat ya, sayang?
Jadi gara-gara, Mama? Mama gak tau aja mereka berdua itu lagi gak lari pagi!
Mereka lagi pacaran dan meninggalkan adik yang paling imut dan kecilnya
sendirian di sini, di tempat asing.
“Vanilla,” suara yang tidak asing di telingaku. Aku menoleh ke arah sumber
suara, ternyata Raka. “Disini juga?”
“Ditinggal.” jawabku badmood.
Raka tertawa kecil, “Lari bareng gue aja.” Aku mengangguk pasrah dan berlari
kecil.
Aku hanya mampu berlari 5 keliling, itu juga sudah terseok-seok di
ujung-ujungnya. Kuputuskan untuk istirahat. Raka pergi untuk membeli minuman.
“Thanks.” ucapku saat Raka menyerahkan sebuah botol aqua. Dia hanya tersenyum
simpul dan duduk di sebelahku.
“Van,” panggilnya.
Aku menoleh ke arahnya, mendapati Raka sedang menatap lurus ke depan. “Kenapa?”
setelah aku menjawab beberapa saat kemudian Raka menghadap ke arahku.
“Nanti malem.. gue makan malem sama nyokap bokap.”
“Serius?” aku turut senang. “Jadi, lo sama bokap lo..”
“Tapi gue minta lo ikut sama gue.”
17
Daripada peristiwa waktu ulangtahun tante Shalom terulang lagi. Aku meng-iyakan
saja ajakan Raka. Setelah membuka-buka lemari cukup lama sampai berantakan. Aku
baru ingat kalau tidak punya dress. Maksudku, dress yang cukup dengan tubuhku
yang beranjak telah SMA. Karena seingatku, terakhir kali aku membeli dress saat
prom night SMP.
Karena kata Raka, makan malam sekarang tepat di sebuah restoran. Jadi, kalau
aku menggunakan pakaian seperti sehari-hariku, malu-maluin banget. Iya gapapa
kalo Cuma kumpul keluarga tiga bulan sekali. Toh, Caramel sama Mocha juga ogah
pake begituan.
“Kak, pinjem baju doong.” aku menyambangi kamar Vika. Dia sedang memakai lotion
di kakinya.
“Baju lo kemana emang?”
“Bukan baju sih, dress sebenernya.”
“Dress? Ga salah? Emang mau kemana si? Tumben mau pake dress, oh gue tau. Mau
kencan yaa?” tebak Vika.
Buru-buru ku sangkal, “Apaan sih, gue di undang tante Shalom buat makan malem.”
“Siapa tu tante Shalom?”
“Nyokap Raka.”
“Oh jadi sama Raka nih sekarang? Bukan sama Rega?”
“Apaan sih lu bacot, kalo gak mau minjemin yaudah!”
“Ciee ngambek, yaudah sana buka lemari pilih aja sendiri.”
Aku mencari-cari baju yang cocok dalam artian yang simple dan tidak aneh-aneh.
Untungnya dress koleksi Vika rata-rata simple semua sih. Ku putuskan untuk
memilih yang berwarna tosca.
“Pinjem yang ini.”
Langsung aku meninggalkan kamar Vika. Tepat di depan pintu aku berhenti dulu.
“Btw, thanks sister!”
Vika hanya mengacungkan satu jempolnya. Saat keluar dari kamar Vika, Vandy baru
muncul dari tangga. Sambil melempar-lempar kunci mobil dan bersiul-siul.
“Idih, bawa apaan tuuh?”
“Kepo.”
“Dress? Gak salah?”
“Salah! Bye.” aku langsung berlari menuju kamarku.
“MAMA VANILLA MAU KENCAN!” teriak Vandy.
“BOONG!” balasku teriak dan langsung ku tutup pintu dengan keras, menimbulkan
suara gema yang cukup membuat jantung bergetar.
****
Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang memenuhi di antara kami ber-empat.
Dari awal Raka diam saja, tapi entah kenapa dari awal pula tante Shalom sudah
cukup senang dengan kehadirannya.
“Minggu depan Papa mau pindah ke Belgia.” suara Om Tommy –Papa Raka- memecahkan
suasana.
Raka menghentikan aktivitas makannya, “Kenapa?” pertanyaannya lebih bernada
datar namun ada kesan ingin tahu di dalamnya.
“Perusahaan Papa yang di Indonesia biar Om Wahyu aja yang nanganin, di Belgia
kan baru resmi di buka 6 bulan yang lalu. Papa mau perusahaan itu terus maju.”
“Oh,” jawab Raka lalu melanjutkan makannya kembali. “Sekeluarga?” yang di
maksud sekeluarga itu adalah Papa nya Raka dengan keluarga nya yang baru.
“Iya, sekeluarga.”
Raka mengangguk sekali, “Oke.”
Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam, kami bersiap-siap untuk pulang.
Tante Shalom menggiringku saat Raka sedang mengambil mobil.
“Terimakasih sekali lagi ya, Vanilla. Karena kamu Raka akhirnya mau di ajak
makan malam bersama kami berdua.” ujar tante Shalom.
“O-oh, iya tante.”
“Om juga terimakasih ya sama kamu, Vanilla.”
Aku hanya meringis-ringis tidak enak, apa hubungannya aku dengan Raka akhirnya
mau di ajak makan malam dengan mereka? Sebelum sempat berfikir macam-macam,
mobil Raka sudah tiba. Raka turun dari mobilnya.
“Raka nganter Vanilla dulu, Ma.” pamit Raka pada Mama nya. Pandangannya kini
beralih pada Om Tommy, meski ragu akhirnya dia bicara juga padanya. “Saya
pulang dulu—dan, semoga baik-baik di sana. Permisi.”
Kalimat Raka barusan membuat senyuman mengembang di wajah Om Tommy.
“Sa-ya, pamit dulu ya, tante, om.” aku mengangguk sopan lalu masuk ke dalam
mobil saat Raka mempersilakanku masuk.
“Gue liat koleksi CD lo ya.” aku minta izin padanya, tepat pada saat aku
membukanya tepat pada saat itu sebuah bungkus rokok terselip di dalamnya. “Lo
masih nge-rokok?”
Raka melihat ke arah bungkus rokok yang aku pegang kemudian mengambilnya sambil
membuka kaca mobil. Di jatuhkannya bungkus rokok tersebut.
“Kadang—tapi mungkin kalo lo minta gue buat berhenti total.” Raka menghela
nafas sebentar. “I’ll do it.”
Sumpah, mungkin kalau ini bukan malam dan bukan di dalam mobil. Raka pasti
bakal tau kalau wajahku telah benar-benar merah layaknya kepiting rebus.
“Really?”
“Yep.”
“Then, do it.”
****
Minggu-minggu ujian kenaikan kelas adalah minggu ter-sibuk. Seperti biasa, full
satu minggu Ifa menginap di rumahku untuk belajar bareng. Jadwal besok adalah
Matematika dan Pkn, setidaknya Matematika hanya hitung-hitungan bukan hafalan.
“Seberapa deket sih elo sama Raka?” tanya Ifa sambil membuka buku Pkn.
“Gatau.”
“Seriously? Barusan lo cerita tentang dia layaknya lo itu sama dia udah deket.
Pake banget.”
“Deket banget ya menurut lo?” Ifa mengangguk kalem.
Emang deket banget ya? Padahal aku Cuma menceritakan masalah Raka yang mau
berhenti merokok kalau aku yang melarangnya.
“Serius deh Van, lo suka sama dia?”
Kalau sedang curhat dengan Ifa itu tanggapannya selalu tepat sasaran. Membuat
orang susah untuk menjawabnya. Sepertinya dia cocok jika jadi seorang psikolog.
Gue suka sama Raka?
“Gatau elah.”
“Jawaban gatau lo itu menandakan lo suka sama dia.”
“Emang gitu?”
“Ya gitu, kalo emang lo ga suka, apa susahnya bilang ngga?”
Iya sih, tuh kan susah deh ngomong sama Ifa. Semua bisa kebongkar.
But, the problem is,
do I like him?
****
Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkan masalah nilai rapot sih. Sebenarnya aku
biasa aja. Bahkan ketika teman-temanku mulai berkicau di sosial media, aku
lebih memilih untuk berkicau tentang yang lain. Masalah yang lebih penting dari
nilai. Namun aku bukan berkicau di sosial media. Aku berkicau pada diriku
sendiri. Berkicau tentang perasaan. Oke, kalian mikir aku orang yang super
tolol. What? No, I mean, aku sudah cukup belajar pelajaran di sekolah dengan
sangat cukup baik.
Aku menganut paham bahwa, tidak ada keberuntungan yang tidak di mulai dengan
usaha. Jadi, aku berusaha dan aku sudah sangat siap untuk hasilnya. Intinya,
aku tidak memikirkan masalah nilai. Ya begitulah. Kalau kalian tidak mengerti,
anggap saja kalian tidak pernah membaca kalimat di atas. Dan lupakan saja.
Tuh kan,
sekarang saja aku sedang berkicau pada diriku sendiri bahkan saat ponselku
berdering menerima pesan-pesan yang memberi tahu aku ranking berapa dan bla bla
bla, i’m out.
Dari pagi Mama sudah berangkat dengan supir untuk ke sekolahku dan mengambil
rapot. Tapi hingga sekarang dia belum juga pulang ke rumah. Pasti dari sekolah
langsung belanja. Yah, susah susah senang juga punya Mama yang shopaholic.
Susah karena kadang dia suka seenaknya menyeretku pergi bersamanya dan
menghabiskan berjam-jam di toko-toko, entah toko sepatu, sandal, baju, atau
apalah sampai aku rasanya ingin bunuh diri akibat bosan. Senang karena jika
nilai rapotku jelek, setidaknya sampai rumah dia tidak marah-marah karena rasa
marahnya tergantikan oleh rasa puas setelah belanja.
Weird memang,
tapi mau bagaimana lagi? Dia Mamaku.
Yep, ini sudah keterlaluan. Aku sudah keluar dari topik yang sebenarnya. Jadi,
sampai mana aku tadi?
Drrrtt....
Dan, oh, suara apa itu?
Ponsel? Dimana ponselku? Sial.
Dia berada di kolong kasur, good job Vanilla. Kenapa hp lo selalu berakhir di
kolong kasur kalo lo gak sadar dimana keberadaannya? Oke, itu semacam kebiasaan
lama. Lupakan.
Drrrtttt....
Rega Calling...
“What?”
“Sok inggris, inget nilai b.ing lo semester kemaren berapa.”
“NILAI GUE SEMBILAN APA LO!”
“Ya, oke. Jadi, lo dimana?”
“Lupa.”
“Plis ya Vanilla, sekali aja lo gak kaya orang sinting.”
“Plis ya Rega, sekali aja lo gak nyebut gue dengan kata-kata yang menghinakan
gue.”
“Apa? Menghinakan? Kalo kenyataannya emang gitu, gimana?”
“Apa? Kalo kenyataannya emang gitu, ngapain lo masih mau temenan sama gue?
Bye.”
Langsung ku matikan sambungan telpon dengannya. Sebel. Lagi enak-enak nya mikir
malah di telpon. Udah gitu bikin kesel lagi. Baru aku akan melempar ponsel itu
entah kemana, ponsel itu bergetar lagi.
Rega Calling...
Buru-buru ku matikan lagi, bodo amat. Beberapa detik kemudian sebuah line masuk.
Abrega Mahardika: awas ada anjing galak
Aku mengernyitkan kening.
Me: ha
Abrega Mahardika: anjing galak sedang membaca line ini
Me: MATI LO
****
Aku meminta Pak Joko untuk mengantarku ke sebuah kedai. Kedai ini tempat Mocha
biasa memainkan jari-jari diatas keyboard laptop nya disini. Baru sempat aku
kesini, setelah beberapa bulan yang lalu Mocha memberi tahu nya saat acara
keluarga tiga bulan sekali.
Ini sudah malam, tadinya Pak Joko menolak untu mengantarku karena khawatir.
Tapi aku tetap bersikeras untuk sampai disini. Jadi, disinilah aku. Duduk
sendiri sambil menyesap segelas coklat panas.
Untung kata Mocha tempat ini bukan tempat orang-orang pacaran. Setidaknya aku
tidak di lihat orang sedang duduk sendiri dan tidak di tatap seperti layaknya
mereka berbicara padaku “pasti jomblo”. Terus, kenapa kalau gue jomblo?
Setelah menghabiskan sisa-sisa coklat panas, aku menelpon Pak Joko untuk segera
menjemputku. Dan aku bilang kepadanya, aku menunggu di toko ujung jalan karena
aku ingin membeli tiramisu sebentar.
Jam telah menunjukkan pukul delapan malam, tapi suasana disini sudah lumayan
sepi. Aku berjalan menelusuri trotoar yang sedikit lembab akibat hujan sore
hari. Kebiasaanku yang lain adalah, senang sekali masuk ke dalam gang-gang jika
melihatnya. Dan tepat pada saat itu ada sebuah gang di ujung jalan dekat toko
kue tersebut. Penasaran, aku membelokkan langkahku pada gang tersebut.
Baru beberapa langkah berjalan terlihat dari ujung ada sekiranya tiga orang
laki-laki asing. Melihatnya, aku memutar arah dan berniat kembali ke tujuan
semula. Toko kue. Entah kenapa aku merasa ada yang mengikuti, buru-buru ku
percepat langkahku.
Sialnya, ternyata toko kue itu telah tutup saat aku sampai di depannya. Aku
menoleh ke belakang dan kudapati tiga laki-laki tadi.
Sialnya, ternyata toko kue itu telah tutup saat aku sampai di depannya. Aku
menoleh ke belakang dan kudapati tiga laki-laki tadi.
Pikiran yang terlintas di kepalaku saat ini adalah, menelpon Rega. Itu seperti
sebuah gerakan refleks.
“Ga.. gue..” panik. Tiga laki-laki itu semakin dekat.
“Vanilla? Lo kenapa?”
“Gue.. di depan toko strawberry.. ada.. tiga laki-laki.. gue..”
Tidak bisa kuteruskan obrolan tersebut, karena tiga laki-laki itu kini berada
tepat dua meter di depanku.
“Gue ke sana sekarang juga.”
Tanganku refleks menutup telpon dan menyembunyikannya di balik punggungku.
Walau suasana temaram aku dapat melihat seringaian dari tiga laki-laki
tersebut.
Gue mau di apain? Jangan sampe gue muncul di berita hanya dengan nama. Plis,
gue masih muda. Masa depan gue masih panjang. Gue juga belom nikah. Gue—
“Sendirian aja?” laki-laki yang badannya cungkring mengusap dagunya. Najis lu
jijik.
Aku memundurkan langkahku, “Jangan coba buat deket-deket gue, asshole.”
“Asshole? Apa itu artinya bercinta? Hahaha.” laki-laki yang lebih sedikit
berusaha manjawab bodoh.
Gila, pantes aja lo semua nafsu-nafsu liat cewek cakep dikit. Asshole aja gak
tau artinya, goblok.
Laki-laki terakhir kini mencoba mendekatiku dan hendak menyentuh tanganku.
“Don’t. ever. fucking. touch. me.” desisku. “Kalo lo semua gak tau artinya,
sana buka kamus oxford. Or, lo gak tau kamus oxford itu apa? Plis ya, lo semua
itu sampah. Sam-pah.”
“Sampah, hmm?” dia mengangkat daguku dengan cepat. “Gimana kalo sekarang lo
jadi lalat nya? Lalat cinta sampah.”
“Perumpamaan lo itu gak mutu dan gak lucu.” jawabku.
“Jangan banyak omong, sikat aja udah.” sebelum aku sempat berkata-kata, dua
laki-laki di belakangnya menerjang ke arahku. Aku mencoba memberontak. Namun
cengkraman tangannya di lenganku membuat ku tidak bisa apa-apa.
Jijik melihat wajah-wajah mereka, aku menutup mata. Sekarang aku tinggal
menunggu detik-detik nama ku akan tersebar di koran atau berita saja.
Rega, lo kemana sih? Buruan kek dateng!
Sebelum sempat tahu perbuatan apa yang mereka lakukan terhadapku. Aku merasakan
cengkraman di lenganku terlepas. Tiga laki-laki itu kini sedang terlibat adu
kekuatan dengan. Well, siapa?
Karena semakin gelap di tambah mereka sedang adu kekuatan sekita tujuh meter di
depanku. Aku tidak bisa melihat wajah-wajah mereka. Yang jelas tiga laki-laki
itu sekarang telah babak belur.
Aku berpikir bahwa itu Rega, karena sebelum itu aku tadi menelponnya.
Tapi,
“Lo gapapa?” katanya, nafas satu dua sehabis berantem tadi.
“Raka?”
****
Rega
Detik itu juga gue keluar rumah, kata Vanilla dia ada di toko kue strawberry.
Oke, itu sekitar 15 menit dari sini. Ngga, 10 menit cukup buat gue. Gue ngga
tau apa masalahnya di sana yang jelas gue gak mau Vanilla kenapa-kenapa. Tadi
suaranya kaya—takut, jadi gue menafsirkan dia kenapa-kenapa.
Seperti dugaan gue, 10 menit cukup buat gue.
Faktanya sekarang adalah gue nemuin Vanilla yang berdiri pas di depan toko itu
dan Raka yang baru aja mukul tiga cowok sampe babak belur.
Ada suatu perasaan gak terima di diri gue. Gue gak tau apa. Yang jelas, gue
merasa seharusnya gue yang nolongin Vanilla. Bukan orang lain, apalagi Raka.
Kedengarannya egois? Emang. Tapi apa salahnya gue egois? Hampir enam tahun gue
sahabatan sama Vanilla. Gue tau sifat luar dalem dia di luar kepala. Kalo ada
apa-apa Vanilla selalu minta tolong sama gue.
Tapi semenjak ada Raka, gue merasa semuanya di ambil oleh dia.
Cemburu?
Jelas.
Karena faktanya, gue suka Vanilla.
Gue cinta dia.
Tapi gue gak tau cara ngungkapinnya.
“You okay?” gue jalan ngehampirin Vanilla.
“You think?” balasnya. Bikin gue mau gak mau senyum juga, seengganya Vanilla
selalu beda kalo sama gue. Gue yakin kalian gak ngerti apa yang bedain gue sama
Vanilla dengan Vanilla sama Raka atau yang lainnya.
Karena gue merasa Cuma gue dan Tuhan yang tau.
“Sori, tadi gue gak sengaja lewat sini dan ngeliat Vanilla—yah gitu.” Raka
mulai ngomong.
“Okay, thanks.” seengganya gue mulai sadar sesuatu. Raka bukan ngga baik buat
Vanilla, dugaan gue salah. Sebenernya itu bukan dugaan. Gue Cuma merasa takut
kalau suatu hari—gue gak mau nerusin. “Vanilla pulang sama gue.”
“Thanks again ya, Ka. You saved me.” kata Vanilla.
Raka mengangguk pelan dan senyum ke Vanilla.
You saved me, katanya.
Seharusnya kalo aja gue lebih cepet dari Raka, kalimat barusan itu buat gue.
Bukan buat dia.
18
By. MRs.M dan Lisha
Ini sudah menginjak minggu ke – empat setelah peristiwa yang lagi-lagi,
tiba-tiba Raka datang menolongku. Ini norak abis mengingat aku jadi suka
senyum-senyum sendiri saat mengingatnya.
But honestly,
kalau kalian mengalaminya juga pasti akan sama sepertiku, apalagi kalau yang
menolong juga tidak jelek wajahnya. Malah bisa di bilang lebih dari sekedar
standar. Atau bisa di bilang tampan, atau mungkin untuk menggambarkan Raka
itu.. charming. Lebih tepatnya seperti itu. So, don’t judge me.
Beda dari Rega yang lebih ke cool, tapi di depanku dia sama sekali nggak cool.
Demi nomer satu, dua, dan tiga yang sudah mati. Juga demi para tetua lorien
yang sudah menyerahkan jiwa dan raganya untuk mempertahankan bangsanya. Duh,
bawa-bawa novel fantasy.
Tapi serius deh,
ini suka apa bukan sih?
Kalau kalian memikirkan sesuatu dan kalian senyum-senyum sendiri, berarti
kalian suka sama sesuatu itu, kan? Benar tidak?
Kalau iya,
jangan-jangan aku suka sama----
“VANILLA! LO NGABISIN TIRAMISU YA?!” suara Vika menggelegar sampai ke
telingaku.
Kemudian hening.
****
Tidak biasanya aku menunggu Rega datang menjemput, biasanya dia malah yang
menungguku. Tapi ini sudah lewat dari sepuluh menit aku berdiri di luar rumah
sambil sesekali melirik pada jam tangan. Rega belum menampakkan batang
hidungnya. Saat ku telpon, ponselnya tidak aktif.
Pokoknya lima menit lagi gak dateng, gue cabut aja deh, pikirku.
Ini udah lima menit, saat nya aku berangkat.
“Pak Joko, anterin ke sekolah.”
Jalanan memang macet, jangan-jangan Rega kejebak macet? Tapi ga mungkin, Rega
selalu punya cara buat keluar dari kemacetan. Nggak sih, nggak selalu juga.
Kadang, ujungnya dia marah-marah sendiri, dan endingnya berantem denganku soal
siapa yang menyebabkan kita terjebak macet dari Rega yang menyalahkanku karena
kelamaan. Dan aku yang menyalahkan Rega gara-gara nyari jalan yang salah.
Padahal kalau di telusuri, aku dan dia sama-sama salah. Tapi, kebanyaan aku
yang salah dan Rega yang mengalah.
Pertama yang kulakukan saat turun dari mobil adalah mengecek deretan motor di
parkiran. Tapi tidak ada motor Rega, itu artinya dia memang mungkin kejebak
macet atau semacamnya. Atau jangan-jangan dia tidak masuk? Tapi kok gak
bilang-bilang?
“Gue lagi ngidam bakso di kantin, cepetan Van!” aku sedang mencatat sosiologi
saat Ifa dengan kurangajarnya menari-narik tanganku, alhasil tulisanku jadi
mencang-mencong, berantakan.
“Diem napa lu, gue mau ke kelas Rega dulu.”
“Kenapa dia?”
“Kepo deh.”
“Ikut.”
Aku bertanya pada Dio, teman sebangku Rega sekaligus tim basket sekolah.
Kebetulan dia sedang ngobrol di depan kelas.
“Rega kan gak masuk, Van. Lo gak tau?” kalimat Dio barusan membuatku cukup
terkejut. Rega tidak masuk tuh kayak nya gimana gitu. Benar berarti dugaanku
yang terakhir. Jangan-jangan Rega gak masuk.
“Kata Bu Leni sih sakit.”
Dan saat itu juga aku menetapkan hati, pulang sekolah pokoknya harus ke rumah
Rega.
“Tumben banget si Rega sakit.” komentar Ifa saat berjalan menuju kantin. “Lo
nanti ke rumah Rega?”
“Iyalah, masa ngga.” jawabku cepat. “Lo sama Bagas?”
“Gue kan hari ini harus jemput adek gue di bandara, Bagas gak tau deh. Kalo
besok Rega masih gak masuk, gue jenguk besok.”
“Yaudah.”
****
Karena terlalu terburu-burunya, lima menit terakhir aku sudah memasukkan
buku-buku ku ke dalam tas seakan aku sudah siap untuk pulang. Catatanku
berantakan karena menulis terburu-buru, tidak peduli yang penting nyatet.
Triiingg!
“Duluan.” pamitku pada Ifa.
Detik pertama bel berbunyi, aku langsung berdiri dan berlari-lari kecil keluar
kelas. Ifa hanya menatapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dan Bagas, hanya
mengerutkan dahinya.
Sial, kok nggak ada taksi sih?
Rasanya tertiba-tiba aku ingin menjadi vampire saja agar bisa berlari dengan
sangat cepat. Atau mungkin menjadi salah satu anak-anak lorien.
“Ngga sama Rega?” tanya suara yang datang daru belakang.
Raka tiba-tiba sudah berdiri di sampingku, “Rega ngga masuk.”
“Oh, pantes dari tadi gue gak liat.” katanya. “Terus lo berdiri disini
ngapain?”
“Nunggu taksi, mau ke rumah Rega.”
“Gue anterin aja, kalo lo mau.”
“Serius?”
Raka menganggkuk.
Pada akhirnya aku ke rumah Rega diantar Raka.
Setelah sampai pada kediaman Mahardika, Raka tidak lantas mematikan mesin
mobilnya. Kukira ia juga akan menjenguk Rega.
“Gue langsung ya.” kata Raka.
“Gak jenguk Rega?”
“Salamin aja dari gue buat dia. Gue ada urusan.”
“Oke.”
****
Mbok Dyah, pembantu rumah tangga di rumah Rega membukakan pintu saat aku
menekan bel rumahnya.
“Langsung ke atas aja non, den Rega lagi tidur di atas.” kata Mbok Dyah.
“Rega udah makan belom, mbok?” tanyaku.
“Nah itu dia non masalahnya, den Rega gak mau makan daritadi pagi. Katanya
masih kenyang.” hell-o, sejak kapan tanpa makan minimal empat kali sehari Rega
bilang dia udah kenyang?
“Iya mbok? Yaudah, makanannya mana? Biar aku aja yang maksa dia buat makan.”
“Sebentar ya non,” Mbok Dyah tersenyum hangat lalu menghilang di balik dapur.
Beberapa menit kemudian ia muncul kembali. “Ini non, bubur yang tadi pagi mbok
panasin lagi.” di lihat dari luarnya sih sepertinya bubur itu enak banget.
Yah, apaan sih lo Van makanan yang gak enak.
Kubuka pintu kamar Rega, kulongokkan kepala terlebih dahulu. Sebelum aku
membuka lebar pintunya. Tiba-tiba punggungku di colek seseorang.
“Galih, ngangetin aja sih!” ternyata yang nyolek tadi Galih.
“Buburnya enak tuh kak hihihi,” baru aku bersiap untuk protes kalau ini buat
abangnya –Rega- dan bersiap untuk bilang pada Galih untuk minta bikinin lagi
aja ke Mbok Dyah tapi terlambat. “Pokoknya gimana caranya kak Vanilla harus
bikin bang Rega makan ya. Galih jadi sedih nih gabisa rebutan makanan lagi
gara-gara bang Rega sakit.”
Aduuh Galih, meleleh deh ini.
Aku tersenyum semangat pada Galih, “Siap!”
Kemudian Galih berlalu dari sana, aku menutup pintu kamar dengan kakiku karena
kedua tanganku sudah penuh untuk membawa nampan.
Di dalam, Rega dengan rambut acak-acak an masih tidur di atas sana. Selimutnya
sudah acak-acak an entah kemana juntrungannya.
Heran deh, ini orang sakit apaan sih?
Aku meletakkan nampan tersebut di meja samping tempat tidur, “Rega? Gue nih.”
“Hmm,” dia hanya memberi gumaman tidak jelas.
“Ga, gue mau nikah besok.” langsung saja ku bisikkan kalimat itu langsung di
samping telinganya. Rega tidak terkejut seperti itu waktu saat aku bilang aku
hamil. Dia hanya mengerutkan kening dalam aksi sok tidurnya, lantas merubah
posisi tidurnya agar membelakangiku.
“Jangan ngaco deh.” gumamnya.
“Lo sakit apa sih? Kok hp lo gak aktif? Gue nungguin lo di depan rumah juga,
terus akhirnya gue minta anter Pak Joko. Terus waktu istirahat gue ke kelas lo,
terus kata Dio lo gak masuk gara-gara sakit. Terus pas pulang gue nungguin
taksi, tapi gak ada-ada. Terus—“
“Terus?” sahut Rega tetap pada posisinya. Aku duduk di tepi kasur Rega juga
membelakangi Rega. Jadi, kami sama-sama membelakangi.
“Terus gue di anter Raka deh,”
“Siapa kata lo tadi? Raka?” Rega bangun dari tidurnya.
Aku mengangguk, “Ga, kata Mbok Dyah lo gak makan dari pagi? Sejak kapan lo—“
“Iya, iya, gue makan. Tapi suapin.”
Pertama: Kurangajar banget dia nyela kalimat gue.
Kedua: Sejak kapan Rega jadi manja, menjijikkan gitu?
Ketiga: Apa gue harus nyuapin Rega?
****
Rega
“Suapin gue, kalo gamau gue gak mau makan.” gue baru mau beranjak ke posisi
tidur gue kaya tadi sebelum Vanilla akhirnya meng-iyakan walau dengan
ogah-ogahan.
Anggep aja hukuman buat lo gara-gara berani-beraninya di anterin Raka, ke rumah
gue lagi. Diam bukan berarti kalah. Gak naggepin Vanilla yang di anter Raka
juga gue punya cara bales dendam sendiri. Haha.
Kalo marah-marah ke Vanilla lagian juga sekarang buat apa? Apalagi nyuruh dia
ngejauh dari Raka? Bisa-bisa kebongkar rahasia gue.
Nggak,
gue Cuma mau nunggu saat yang tepat.
Entah kapan, gue gak bisa mastiin.
Gue juga terlalu takut kalo seandainya gue bilang ke dia, terus dia ga terima.
Kita canggung. Dan pada akhirnya kita bakal jauh. Gue gak mau itu terjadi. Gue
gak bakal bisa jauh dari dia.
Akhir-akhir ini kenapa gue jadi menye gini sih?
“Woy pegel kali tangan gue nungguin lo buka mulut.” suara Vanilla menyadarkan
gue dari lamunan gue yang 100000% gak penting.
“Ya sabar kali, masih ngunyah!”
“Ngunyah kata lo? Ini bubur hellaaaauuu!”
Gue ngelirik ke mangkok nya, ternyata emang bubur. Yaelah, gara-gara siapa coba
gue sampe gak nyadar kalo itu bubur? Gara-gara lo.
Suruh siapa nama lo di otak gue mulu?
****
Raka Revaldy: bisa ketemu sekarang?
Me: dimana?
Raka Revaldy: gue jemput sekarang
Me: ok
Aku dan Raka duduk seperti biasa di atas gedung, setelah Raka menceritakan
semuanya. Tentang Mama nya yang baru ia ketahui menjalin hubungan dengan
seseorang.
“Jadi.. menurut lo sendiri gimana?” tanyaku.
Raka mengangkat kedua bahunya, “Om Ginanjar sih.. baik.”
“Kalo baik masalahnya dimana?”
“Gue Cuma gak nyangka aja kalo ternyata mereka berdua diem-diem pacaran, gue
gak ngerti dan itu kenapa gue cerita ke lo. Gue tau lo bisa ngasih solusi.”
“Tante Shalom keliatan seneng gak? Kalo iya, then why? Tante Shalom juga butuh
figur tempat sandaran dia.” jawabku. “Gue tau selama ini lo yang jadi tempat
sandarannya, tapi— perasaan ibu ke anak sama ibu ke ayah kan beda—maksud gue,
siapa tau ada misalnya hal penting menyangkut lo yang perlu di rundingin dan di
rundinginnya gak mungkin sama lo nya kan?”
“Tapi—“
“Theres no reason, Raka.”
Senyum Raka merekah hangat, mengerti maksudku.
“Thankyou..” katanya. “For always be here,”
19
Rega memang kuat *brb ngakak*.
Buktinya hari ini dia udah masuk dan sekarang lagi nagkring di depan rumah.
Sambil ngobrol sama Vika, itu kakak satu tiap ada cowok dateng ke rumah di
ajakin ngobrol terus. Itu Vika yang kegatelan apa Rega nya yang sok asik?
Kayanya Vika suka Rega deh.
Tapi itu gak mungkin deng, Vika udah punya cowok.
“Gatel banget sih pake ngobrol segala sama kakak gue.” komentarku saat naik ke
atas motornya.
“Lah bocah,” gerutunya. “Kaya baru ngeliat gue ngobrol aja sama kakak lo.”
jawabnya. Suara Rega masih terdengar sengau akibat flu dua hari yang lalu.
Sekarang saja dia sedang bersin, jadi motornya sedikit oleng.
“Harusnya kalo masih sakit tuh gak usah jemput gue!” semburku setelahnya. “Ntar
kalo jatoh, gue kenapa-kenapa gimana?”
“Anjir, krispi banget sih. Gue kira lo mau beneran sok care sama gue. Taunya..”
“Maaf telah mengecewakan anda.”
Rega tidak membalas, “Tapi.. serius deh, lo masih sakit gak sih?” karena tidak
ada jawaban aku sedikit penasaran juga sih sebenarnya.
“Sebentar.. ini lo nanya beneran gak? Kalo ngga gue gak mau jawab.”
Langsung ku daratkan telapak tanganku ke belakang kepalanya, “Menurut lo?”
tanyaku sewot. Pake banget.
“Masih sakit, sakit banget.”
“Boong.”
“Udah tau boong ngapain nanya?”
“Dasar si bacot kompor mleduk.”
Lalu kami berdua sama-sama diam. Sampai motor Rega memasuki gerbang sekolah,
terlihat anak-anak sudah banyak yang berdatangan. Aku turun dari motor Rega,
menyerahkan helm berwarna pink yang menurutku menjijikkan (re: helm di beliin
Rega waktu itu gara-gara aku malas mengambil helm ke dalam rumah).
“Nanti pulang sekolah gue basket.” ujar Rega.
“Kok hari ini? Bukannya besok?”
“Di majuin, besok pelatihnya gak bisa dateng.” Aku membentukkan bibirku menjadi
huruf ‘O’. “Tapi nanti gue anterin lo bimbel dulu, woles.”
“Gue sendiri aja ah.”
Rega menaikkan salah satu alisnya, “Really?”
No, not really.
“Ya!”
“Yaudah.”
Cowok macem apa lu, Abrega. Harusnya lo tuh maksa buat tetep nganterin gue. Lah
ini? Seenak kentutnya bilang yaudah. Oke, gue sih gak papa eh ngga deng.
Apa-apa sebenernya, tapi gitu deh pasti lo gak ngerti maksud gue.
“Ok.” singkat. Padat. Jelas.
Saat itu juga aku berniat lari menuju kelas. Udah sebel banget ceritanya sama
Rega. Tapi—ternyata keajaiban datang.
“Nggak deng, hari ini gue gak latihan basket. Gue kan sakit.” di samping, Rega
sudah senyam senyum alay.
“Gausah senyam-senyum alay lu!”
“Mau di anterin gak?” sekarang tampangnya berubah jadi sok galak. Sekarang dia
juga sedang berkacak pinggang. Kesannya, aku adalah anak kecil yang baru
berbuat kesalahan dan dia bilang padaku untuk berjanji untuk tidak
mengulanginya.
“Sok galak.”
“Bawel lo ah, mau di anterin gak? Tinggal bilang iya atau ngga apa susahnya sih
bocah.”
“Iya mau!”
****
Hari-hari menjelang Ujian Sekolah adalah hari paling menyibukkan sedunia. Catat
ya, Ujian Sekolah. Bukan Ujian Akhir Sekolah. Aku harus mengulang pelajaran
dari kelas satu sampai kelas tiga. Aku juga jadi jarang bolos bimbel, malah
hampir tidak pernah kecuali tidak enak badan auat acara keluarga.
Komunikasi dengan Raka juga hanya sesekali sebatas di line, pokoknya aku
benar-benar sibuk sesibuk sibuknya orang sibuk.
Hari ini aku bimbel, hanya try-out saja. Dan seperti biasa, aku selalu menunggu
jemputan.
Kata Papa, kalau Pak Joko belum jemput aku di suruh nunggu aja di dalem. Tapi,
di dalem sepi gak asik. Jadi aku memutuskan untuk seperti biasa, menunggu di
luar. Pas banget ketika aku keluar, sebuah mobil melintas di depanku.
Raka turun dari mobil dan menghampiriku, di tangan kanannya ia membawa sebuah
surat. Eh, surat? Tapi itu bukan kertas-kertas gitu, lebih tebel.
“Lo suka banget sih lewat sini.” kataku saat Raka menyapaku.
Dia hanya mengulum senyum sekilas, “Kalo sekarang gue emang niat nyamperin lo.”
Aku mengerutkan dahi dan meringis ke arahnya, “Terus yang kemarin-kemarin?”
kataku bercanda.
Raka tidak menjawab, dia hanya tersenyum simpul seperti tadi. Di berikannya
sesuatu yang di tangan kanannya kepadaku. Ternyata itu sebuah undangan.
“Serius?” senyumku mengembang saat membacanya, Raka mengangguk terlihat dari
matanya sedikit memancarkan aura sesuatu. Dia terlihat sedikit lebih berbeda,
mungkin sekarang dia sedang dalam masa bahagianya. “Gue turut seneng ya, Ka.”
“Ternyata Om Ginanjar emang serius sama nyokap. Waktu gue cerita semuanya ke lo
dan lo bilang gue harus bahagiain nyokap. Seminggu kemudian gue, nyokap, Om
Ginanjar makan malem bareng.
“Gue bilang ke dia kalo serius sama nyokap. Paling lama tiga bulan dia harus
ngelamar nyokap. Dan yah, dua bulan kemudian akhirnya dia ngelamar.” jelasnya
panjang lebar. Memang sih, semenjak mendekati Ujian Sekolah. Aku sudah tidak
lagi sibuk berinteraksi dengan orang-orang kecuali membahas masalah pelajaran.
Jadi, jelas jika tiba-tiba Raka datang kepadaku sambil membawa sebuah undangan
aku kaget.
“Semoga Om Ginanjar yang terbaik ya buat tante Shalom,” tepat pada saat itu
mobilku datang. “Emm, gue udah di jemput. Sampein salam gue buat tante Shalom
ya, Ka.”
“Pasti.”
Aku membuka pintu mobil ketika Raka tiba-tiba memanggilku. Aku refleks menoleh
kepadanya.
“Lo bisa dateng bareng Rega kalo mau.”
****
Besoknya, kebetulan Rega mengajakku ke toko buku. Katanya untuk beli buku soal
sama buku referensi lain yang lebih simple dari buku pelajaran. Rega itu orang
ter-telat sedunia. Aku saja sudah membeli banyak buku di awal kelas tiga. Lah
ini? Beberapa bulan menjelang Ujian Nasional dia baru mau beli.
“Yang ini aja sih, Ga. Lebih lengkap.” rekomenku padanya, dengan menunjukkan
sebuah buku.
“Ngeliat bukunya aja gue udah gak niat belajar, cari yang lebih berwarna kek.”
“Apa perlu gue beliin lo cerita dongeng yang banyak gambarnya? Ha?”
“Ya ngga cerita dongeng juga kali.”
“Cepetan ah pilih sendiri! Gue mau ke foodcourt, laper.”
Baru akan pergi, tanganku di tarik olehnya. “Iya yaudah, gue pilih yang tadi
aja. Sama yang mana yang menurut lo bagus?”
Aku mengulum senyum lebar, aku memilih beberapa yang menurutku bagus dan
beberapa yang sama yang aku punya.
“Nih.” aku memberikannya pada Rega. Tanpa banyak basa-basi, Rega langsung
berjalan ke kasir dan membayarnya.
Di foodcourt, sembari menunggu pesanan datang. Aku mengeluarkan undangan pernikahan
tante Shalom. Rega mengernyitkan keningnya ketika aku memberikan itu padanya.
“Apaan nih?” tanyanya.
“Undangan pernikahan tante Shalom, nyokapnya Raka.”
Rega diam sebentar, seperti sedang memikirkan sesuatu. Kurasa ia ingin
bertanya, kenapa Mama nya Raka menikah lagi. Tapi, tak ada yang keluar dari
bibirnya. Tak berapa lama kemudian ia membukanya.
“Kenapa lo nunjukkin ke gue?” tanya Rega setelah selesai melihat isinya.
“Kata Raka, gue boleh ngajak lo.”
Rega memberikan undangan itu kepadaku. Bukannya memberi tanggapan ia malah
sibuk mengeluarkan ponselnya.
“Mau ikut gak?” tanyaku pada akhirnya.
“Apa?”
“Iss, ke pernikahannya tante Shalom!” jawabku kesal.
“Kalo gue bilang ngga juga lo bakal maksa gue.”
Aku meringis mendengarnya, “Hehehe, jadi mau kan?”
“Emang ada pilihan lain?”
“Nggak.” kataku senyum-senyum.
“Kapan si?” tanya Rega.
“Ha?”
“Kapan nikahnya, bolot.”
“Bolot mah pelawak, aduh lucu deh lu, Ga.”
“Serah.”
“Lagian gak baca apa tanggalnya?”
“Lo ga pernah denger kata lupa?”
“Dua minggu lagi, Abrega.” kataku menahan sabar. Sambil tersenyum maksa.
Sehingga suaraku menjadi sok lembut. Yah, kalian bayangin aja sendiri
bagaimana.
“Dimana?”
“Di gold garden, Abrega Mahardika.” jawabku dengan intonasi sama seperti tadi.
“Gausah ngomong lo, sok imut.”
“I hate you so much.” aku melempar tatapan paling kejam sedunia ke arahnya.
Tapi, tanggapannya malah menahan ketawa karena melihatku seperti itu.
****
Vika yang memilihkanku gaun apa yang akan kupakai nanti saat pernikahan tante
Shalom. Hampir dua jam aku mutar-muter toko hanya demi sebuah gaun yang
sekarang sudah tergolek lemah di atas kasur, karena yang akan memakainya sedang
di dandani habis-habisan sekarang.
“JANGAN MENOR-MENOR!” ujarku untuk ke sekian kalinya. Berulang kali aku ingin
bercermin untuk melihat hasil dandanan Vika. Tapi berulang kali itu juga Vika
mencegahnya. Jadi, aku hanya bisa sabar.
“Muka gue gak enak banget ya Tuhaaan, di apain ini gueee.”
“Shut up, girl.” lama-lama Vika risih juga mendengarnya, mungkin mengganggu
konsentrasinya untuk merias.
Bodo amat.
Bel rumah berbunyi sekali, itu pasti Rega.
“Sip, sekarang lo boleh ngaca.” kata Vika setalah selesai merias dan menyuruhku
untuk memakai gaunnya. Gaun berwarna ungu soft telah melekat di tubuhku.
Sebenarnya jantungku sedikit was-was juga untuk melihat hasil akhirnya. Gimana
kalau jelek? Gimana kalau gak bagus? Gimana kalau kemenoran? Gimana kalau---
“Anjrit, itu siapa?!” tunjukku di depan kaca. Sumpah ya, ini pasti gak mungkin
gue kan? Kok jadi cakep banget sih?
Well, kok cakep banget sih itu kayanya terlalu kepedan deh. Maksudku, itu kaya
bukan aku. Itu beda banget. Pantes aja ya, make up bisa merubah segalanya.
Jadi, jangan mau di tipu dengan orang cantik tapi hasil make up.
“Gue juga gak percaya kalo itu elo.” kata Vika di belakangku. “Cepetan turun,
Rega udah nungguin, kan?”
Rega.
Mendengar tahu bahwa Rega sudah menungguku di bawah membuatku jadi mual. Pasti
nanti dia ketawa melihat penampilanku.
“Yah, gue takut di ketawain nih sama Rega.” kataku.
“Lo cantik, ok? Bye. Sekarang mending lo cepetan turun.”
Seperti anak tikus aku jalan pelan-pelaaaan banget. Takut menimbulkan suara dan
semua orang menoleh ke arahku. Di bawah ternyata Rega sedang ngobrol sama Mama
sama Vandy.
Sampai anak tangga terakhir, aku berhasil tidak menimbulkan suara karena mereka
sama sekali tidak menoleh ke arahku. Sampai Vika berdehem untuk memecah
keheningan.
“Ehem.” tegur Vika, membuat yang lain menoleh ke arah Vika. Vika langsung
menunjukku dengan lirikan matanya.
“ELO VANILLA? ADEK GUE CAKEP JUGA KALO DI DANDANIN!” teriak Vandy. Aku hanya
membalas dengan cibiran.
“Ya ampun Vanilla, Mama jadi terharu nih.”
Plis deh, Ma. Maksudnya apaan terharu?
Vika seperti bangga dengan hasil karyanya. Selagi Vandy, Vika, dan Mama sibuk
mengomentari penampilan baruku. Aku masih tidak mendengar Rega mengeluarkan
sepatah kata pun. Dia hanya memandangku dari awal matanya menangkap bayanganku.
Ohiya, hari ini Rega juga kelihatan beda. Dia memakai tuksedo warna putih dan
di tiban dengan jas berwarna hitam.
“Udah sana kalian berdua berangkat, nanti acaranya keburu selesai.” ujar Vika.
Rega menarik salah satu sudut bibirnya ke atas lalu mengangguk. Ia memberikan
tatapan padaku untuk berjalan mendahulinya. Semoat kudengar Vandy seperti
membisikkan sesuatu pada Rega.
Setting yang di ambil untuk acara resepsi pernikahan tante Shalom itu adalah
outdoor, jadi semacam pesta kebun.
Sampai di sana Rega mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan tangannya di atas
sana. Tak berselang lama ponselku bergetar. Ada line dari Rega, aku langsung
melirik ke arahnya. Yang di lirik tidak menanggapi, ia malah sibuk berjalan ke
depan. Meninggalkanku yang akan membaca line nya.
Abrega Mahardika: u cool with ur dress, but u look perfection if u smile.
Kalau bukan di tempat umum dan tidak banyak orang. Rasanya aku ingin berteriak
memanggil Rega dan bilang sekeras-keras kepadanya, “Ini serius kata lo, Ga?”
tapi itu gamungkin.
Buru-buru aku berjalan menghampiri Rega, “Thankyou.” kataku saat sampai di
sampingnya.
Baru juga beberapa menit di dalam, bahkan aku belum melihat Raka. Rega sudah
izin ingin ke toilet. Penyakit besernya kuat. Dan sekarang aku bingung harus
kemana. Kalau aku menghampiri tante Shalom dengan Om Ginanjar rasanya tidak
enak, masih banyak sanak saudara yang ingin berfoto.
“Perfect.” ujar sebuah suara dari belakang.
“Thanks.” jawabku.
Sama seperti Rega, Raka juga mengenakan tuksedo yang di barengi dengan sebuah
jas. Terlihat sangat dewasa.
“Lets have some food.” ajaknya.
Aku hanya mengambil sepotong pudding dengan fla nya, kemudian berjalan sedikit
menjauh dari keramaian dan duduk di sebuah bangku taman.
“Gue belum ketemu nyokap lo.” kataku.
“Nanti sama gue, nyokap gue seneng banget pas tau lo mau dateng.”
Aku tersenyum renyah, “Itu yang pake jas abu-abu disana, siapa?” terlihat
laki-laki seperti umur 13/14 tahun berdiri di samping tante Shalom.
“Anaknya Om Ginanjar, adek tiri gue.” aku mengangguk-ngangguk.
“Kayanya lo harus belajar buat manggil Om Ginanjar papa deh.” kataku.
“Im trying.”
Takut Rega mencariku, aku beranjak dari bangku dan ke tempat pertama Rega minta
izin ke toilet. Ternyata Rega sudah berdiri disana sambil tangannya siap dengan
ponselnya.
“Kalo lo mau nelpon gue, itu gaperlu.” sahutku.
Rega menoleh, “Kemana aja lo?”
“Makan pudding.” jawabku kalem.
“Thanks ya udah dateng.” kata Raka tiba-tiba, sekarang pandangan Rega beralih
ke Raka. Seperti baru sadar bahwa Raka sedang berada di sampingku.
“Nope.”
****
Its 09.00 PM.
Dan aku sama Rega masih duduk-duduk lesehan sambil menunggu jagung bakar yang
kami pesan setelah pulang dari acara resepsi pernikahan tante Shalom. Rega
menyampirkan jas nya ke tubuhku agar aku tidak kedinginan. Sekarang ia hanya
menyisakan tuksedo nya yang kancingnya sudah ia lepas dua dari atas dan lengan
yang ia gulung sampai sikut.
“Gatau kenapa kalo setiap pergi ke acara pernikahan seseorang, gue merasa
gimana gitu.” kataku.
“Gimana?” Rega membelakangkan tangannya untuk menumpu tubuhnya, posisi rileks.
“Lo sadar gak sih? Kita udah SMA, sebentar lagi juga kita bakal ngehadepin UN,
sukur-sukur dapet SNMPTN jadi gak perlu belajar lagi buat SBMPTN.” aku menarik
nafas sebentar. “Gak kerasa ya, Ga. Kita udah kenal selama enam tahun.” aku
mengingat jama-jaman SMP ku. “We grew up up so fast.”
“Inget gak waktu kita berdua di hukum gara-gara gue gak bawa buku paket MTK dan
lo ngasih pinjem buku MTK lo ke gue terus lo bilang kalo lo gak bawa buku ke
gurunya—“
“Dan dengan bego nya lo kekeuh kalo lo yang gak bawa buku.” sambung Rega datar.
“Lo itu aneh, udah mau di tolongin malah gak mau.”
Aku tertawa sebentar, “Abis itu kita di hukum deh berdua. Gara-gara bikin
bingung.” sahutku. “Gue juga masih inget tuh, lo yang ngajarin gue belajar
ngendarain sepeda tapi selalu gak berhasil karna gue jatoh terus.”
“Lo payah di bidang setir menyetir, waktu kemaren aja nyetir mobil ujungnya
nabrak pohon.” ujar Rega sewot.
“Hhh.. gak kerasa ya kita udah mau kuliah.” kataku lebih pada diri sendiri. “Oh
iya, lo mau kuliah dimana? Bareng yuuuuukk.”
Langsung mendapat lirikan tajam dari Rega, “Lo pikir ini jaman SD yang semuanya
serba bareng? Ini kuliah, Vanilla. Lo harus punya pilihan sendiri. Jangan suka
ikut-ikutan orang lain, ngerti?”
“Yaaah, tapi kan gue mau nya tetep bareng sama lo.”
Rega mengacak rambutku sebentar, “Bego. Lo tinggal inget nama gue juga pasti
gue bakal ada. Gue kan anak cenayang.”
“Najong, cenanyang.”
Kemudian kami berdua sama-sama diam. Sampai jagung bakar kami di antarkan. Aku
dan Rega makan dalam keheningan.
“Ah! Satu lagi!” kataku ketika ingat sesuatu. “Di antara kita berdua, kira-kira
siapa yang bakal nikah duluan yaa?”
****
Rega
Yang bakal nikah duluan itu kita berdua. Karena gue berharap lo yang bakal ada
di samping gue saat gue ngucapin kalimat suci itu.
Tapi semua balik lagi ke tangan Tuhan. Gue Cuma bisa berusaha.
20
By. MRs.M dan Lisha
Rega
Gue Cuma bisa ngeliatin surat yang ada di tangan gue sekarang. Gue gak habis
pikir, padahal waktu itu gue iseng ngikutin test nya. Tapi, kenapa malah
keterima? Sekali lagi gue meremas rambut gue yang gak pernah gue sisirin.
Karena gue bingung gimana ke depannya nanti, gue taroh itu surat di atas kasur.
Nyokap bokap juga kayanya udah terlanjur seneng gue keterima disana. Kayanya
ngarep banget gue ngambil itu beasiswa. Yes, gue makin bingung.
“Bang, ada bang Bagas di luar.” kata Galih yang tiba-tiba udah ada di depan
gue.
“Suruh masuk aja kesini.” sampe lupa, gue ada janji buat barbeque di rumah Ifa.
Ceritanya buat ngerayain kemarin abis ngejalanin Ujian Sekolah.
Bagas udah nongol beberapa menit kemudian, “Apaan nih?” gak sengaja pas mau
duduk Bagas ngeliat surat beasiswa gue. Yang menyatakan gue keterima.
“Beasiswa? Lo keterima beasiswa di luar, Ga?” Bagas mengernyitkan dahinya
seakan tidak percaya.
Gue Cuma ngelirik datar, sambil ngangkat bahu.
“Lo kenapa kaya gak semangat gitu sih?” tanya Bagas.
“Gue gak tau mau ngambil apa ngga, gue Cuma iseng waktu itu.” jawab gue.
“Sip, gue tau masalahnya dimana.”
It means, gue bakal jauh dari Vanilla. And hell no, gue lebay. Gue gak sanggup.
****
Hanya dalam hitungan beberapa hari Ujian Akhir Nasional akan ada di depan mata.
Entah perasaan apa yang tergambar dalam diriku. Ini bukan masalah ujiannya, ini
masalah perubahan status. Sebentar lagi aku akan lepas dari masa-masa sekolah
dan akan masuk ke jenjang yang lebih tinggi, yang lebih real.
Belum lagi nanti jika aku tidak satu kampus dengan Rega, pokonya aku
benar-benar tidak bisa membayangkannya untuk saat ini. Lagipula, aku belum tahu
mau kuliah dimana, di kampus mana, dan yang terpenting jurusan apa. Kasihanilah
diriku ini yang tidak tahu ingin menjadi apa.
“Gimana sih? Kenapa bisa sampe gak tau mau jurusan apa?” setelah aku bilang ke
Rega kalau sampai saat ini aku tidak tau tujuanku, ia langsung mencak-mencak.
Aku hanya menggeleng pelan dengan tampang super melas, berharap Rega bisa
memberikan titik terang terhadapku.
Rega merubah posisinya agar duduk tepat di sampingku, “Tapi gue gak heran kalo
lo gak tau mau jurusan apa.” ujarnya membuatku memutar kedua bola mataku. “Lo kan
gak punya pendirian, kerjanya ikut-ikutan.”
“Apaan sih, Ga. Sebenernya gue punya sih cita-cita.” aku mengerucutkan bibirku
sebal.
“Apa?”
“Cita-cita gue ngikutin lo aja deh, lo mau jadi apa? Biar kita kuliah bareng,
Ga. Gue gak tau gimana jadinya kalo gak bareng elo. Ya, Ga, ya? Bareng ya?”
Bibir Rega berkedut antara ingin tertawa juga menahan kesal, “Lo tuh
ya—speechless gue ngomong sama lo. Mending gue ngomong sama tembok.”
Kupukul lengannya kencang-kencang, Rega hanya mendesah kesakitan. “Emang lo mau
kuliah dimana? Jangan jauh-jauh ya, Ga. Seengganya kalo kita beda kampus, gue
masih bisa nyamperin lo.”
Kalimat terakhirku tidak mendapat jawaban dari Rega. Melainkan tangannya
terulur untuk mengacak rambutku, di sertai bibirnya yang terangkat ke atas.
“Udah malem, kita pulang.” percakapan kami berakhir sampai di sana.
****
Ini sudah hari ke tujuh menjelang Ujian Nasional. Bukannya panik seperti yang
lain, aku malah tenang-tenang saja. Sementara anak kelasku sibuk membahas soal,
aku izin ke toilet pada guru yang sedang mengajar. Sebenarnya aku bukan ingin
ke toilet, aku ingin keluar dari kesibukan orang. Lama-lama pusing juga.
Aku menendang salah satu batu sambil berjalan, langkahku membawaku pada gedung
belakang sekolah. Kulihat dari jarak pandang yang cukup dekat seseorang juga
berada disana.
“Pantesan daritadi gue gak liat lo, ternyata disini.” kataku pada Raka yang
tengah duduk santai. “Ngapain sih disini?”
“Nyari angin—sini duduk,” Raka menepuk tempat di sebelahnya. “Lo juga ngapain
disini?” tanyanya balik.
“Sama kaya lo.” jawabku setelah bokongku sukses berada di atas tanah.
“Jadi, gimana perasaan lo musim hujan pas menjelang UN?” kata Raka.
Aku mengerutkan keningku, “Lo serius—nanyain gue tentang cuaca?” ujarku sedikit
menahan tawa.
Raka mengangkat bahu acuh, “Emang gue keliatan bercanda ya?”
Cepat-cepat aku menggeleng, “Ya ngga—emm, apa ya? Gue suka ujan--dingin, basah.
Bikin hati tenang. Jadi, gue bersyukur banget menjelang UN musim ujan.”
jawabku. “Lo sendiri? Suka?”
“Banget,” katanya cepat. “Dari kecil gue suka ujan.” Obrolan kami berlanjut
mengenai hujan dan seterusnya.
“Jadi, lo mau kuliah dimana?” tanyaku.
“Gue sih paling disini-disini aja, gue gamau jauh dari nyokap.”
“Yee anak mama.”
“Emang bener kan?” tanyanya. Bibirnya berkedut membentuk senyuman. “Lo?”
“Gue berharap lo gak nanyain itu ke gue.”
“Kenapa?”
“Karna gue gatau jawabannya.” jawabanku sontak menimbulkan tawa Raka. Entah aku
juga bingung dimana letak lucunya. Menurut kalian lucu? Ngga? Iya? Yaudah.
****
Senang sekali rasanya melihat semua penjuru murid kelas duabelas berlarian
keluar kelas sambil mengangkat tinggi-tinggi papan jalan yang mereka gunakan
untuk mengerjakan soal yang mengujinya dalam masa tiga tahun belajar di sekolah
menengah.
Ujian Nasional telah selesai. Bagaimana hasilnya nanti, I don’t give a fuck,
karena Ujian Nasioal tidak menentukan apa-apa untuk masa depan seluruh anak
kelas duabelas di seluruh Indonesia. Itu menurutku, kalau menurut kalian
berbeda. Yasudah, pemikiran orang berbeda-beda.
Sekarang suasana di halaman sekolah ramai dengan teriakan lega oleh anak-anak
kelas duabelas. Dari IPA sampai IPS. Aksi corat-coret seragam pun dimulai, di
sekolah di larang untuk mencorat-coret seragam, jadi kita semua hanya mencoret
untuk mencetuskan tanda tangan masing-masing. Kegiatan seperti itu baru di
perbolehkan. Aneh? Memang.
“Van, tanda tangan lo cepet.” kata Ifa sambil menjulurkan sebuah spidol
kepadaku. Aku mengambilnya lalu menanda tangani seragamnya. Lumayan besar.
Setelah melewati Ujian Nasioanal, akan ada prom night yang di adakan oleh
sekolah. Biasanya, di setiap angkatan seperti tahun-tahun lalu menggelar dua
kali prom night. Yang satu resmi dari sekolah, yang satu membuat acara sendiri.
“Gue udah tau mau kuliah apa!” seruku pada Rega yang baru selesai berbicara
dengan Dio. Dia menoleh ke arahku.
“Baru sekarang?” katanya sok sinis.
“Yaudahsi, ini juga gue mikirinnya pas lagi ngerjain soal UN.”
“Gila,” tanggapnya datar. “Itu seragam lo udah gak layak pakai.”
Kubandingkan seragamku dengan seragam Rega, seragam Rega baru di bubuhi
beberapa tanda tangan.
“Sini, gue mau tanda tangan!” aku langsung menyelusup ke belakang Rega dan
langsung membubuhi tanda tanganku di belakang seragamnya. Ini tanda tangan
terbesar yang pernah kubuat.
Aku tersenyum puas melihatnya, “Biar lo inget gue.”
****
Rega
“Gue gak ngerti sama lo deh, Ga. Apa susahnya bilang? Tinggal bilang gue cinta
lo. End of story.” cerocos Ifa.
Gue, Bagas, Ifa, lagi ada di rumah gue, ngomongin masalah prom night yang bakal
angkatan gue adain. Kebetulan Ifa salah satu panitianya. Vanilla udah pulang
duluan, katanya ngantuk. Tadinya gue mau nganterin tapi katanya udah minta
jemput Pak Joko.
Vanilla pulang, dua anak ini langsung nyudutin gue tentang ini.
“Lo gak ngerti di mana titik masalahnya.” kata gue.
“Apa? Lo takut Vanilla nolak lo? Terus lo takut Vanilla ngejauh? Plis ya, Ga.
Ini realita, bukan fiksi apalagi dongeng.” jelas Ifa. “Gak segampang itu
Vanilla ngejauh, apalagi lo sama dia udah sahabatan lama.”
“Gue yakin Vanilla ngerti.” tambah Bagas. “Apalagi lo dapet beasiswa di luar,
lo gak nyesel kalo sampe lo gak bilang?”
“Gimana kalo Vanilla ternyata malah lagi nunggu lo?”
“Gimana kalo Vanilla ternyata punya perasaan sama kaya lo?”
“Gimana kalo—“
“Lo berdua bacot, sebenernya gue udah punya sesuatu sih.”
Dari sebelum UN gue udah ngerencanain semuanya. Tentang gimana caranya
ngungkapin perasaan gue. Setelah gue pikir-pikir, apa salahnya buat coba?
Gimana hasilnya itu urusan belakangan. Gak peduli, yang penting gue harus
bilang ke Vanilla.
About the feeling,
about us.
****
Aku sudah siap untuk prom night angkatan, minggu kemarin udah yang resmi dari
sekolah. Rasanya gimana gitu. Antara seneng antara sedih juga bakalan ninggalin
masa-masa yang katanya paling berharga selama masa-masa sekolah.
Tapi memang itu kenyataannya, aku merasa sangat senang.
Abrega Mahardika: u cool with ur dress, but u look perfection if u smile
Sebuah line dari Rega, ini kalimat yang sama sewaktu kita berdua ke acara pernikahannya
tante Shalom. Kenapa dia tidak mau bilang langsung sih?
“Ngomong dong langsung.” kataku setelah memasukkan ponsel ke dalam clutch. Yang
di ajak bicara malah cuek bebek dan berjalan ke mobilnya.
Di tengah acara prom night, Rega tiba-tiba menghilang. Pasti dia ke toilet,
penyakit besernya kan kuat banget. Tiba di acara puncak, acara dansa dengan
pasangan. Entah pacar atau teman atau yang lain.
Aku sudah mewanti-wanti untuk meniadakan acara itu, tapi semua orang sepertinya
tidak sepemikiran denganku. Jadi, yah.
“Bete banget keliatannya?” Raka sudah berada di sampingku, ia memberiku sebuah
minuman yang sama dengannya.
“Gue benci dansa, gue gasuka nari.” jawabku lalu meneguk minuman itu sampai
habis.
“Gimana kalo kita pergi?”
Mataku berbinar mendengarnya, langsung kujawab dengan anggukan mantap. Ide yang
bagus. Pergi dari acara menjijikkan. Itu hal yang sangat amat menyenangkan.
Raka membawaku pada atap gedung tempat favoritnya.
“Makasih pak.” kata Raka pada satpam yang memberikan kunci itu padanya. Raka
menuntunku agar mengikutinya, dengan patuh aku mengikutinya. Sampai kami tiba
di atas.
“Seneng?” tanyanya.
Aku mengangguk dan berpaling ke arahnya, “Makasih ya udah bawa gue kabur.”
Raka tertawa sejenak dan beberapa saat kemudian tawanya lenyap. Di gantikan
oleh suara dehemannya.
“I have something to say.”
****
Rega
It was perfect.
Gak sia-sia gue nyiapin ini dari jauh-jauh hari. Taman di pinggiran kota yang
jarang di kunjungin orang gue sulap jadi taman—taman tempat ngungkapin perasaan.
Di jalanan kecil menuju taman udah di pasang lampu-lampu kecil. Juga nanti pas
seseorang itu udah ngelewatin jalan itu, ada lilin-lilin yang melingkar.
Gue gak bisa jelasin lebih lanjut, gue bukan tipe orang yang bisa ngegambarin
sesuatu dengan detil. Intinya, menurut gue ini bagus.
Perasaan gue sekarang udah gak karuan. Nervous, deg-degan, takut, seneng,
semuanya campur aduk. Undescribe banget pokoknya. Gue udah nyewa taksi dan
ngejamin supirnya gak bakal macem-macem buat nganterin Vanilla kesini. Tadi gue
langsung ngilang tanpa sepengetahuan Vanilla.
Gue takut kalo gue ngomong sama dia, gue gugup. Terus semuanya berantakan.
Juga, gue udah nyiapin sebuah hadiah buat Vanilla sekaligus seikat mawar buat
dia. Dulu gue selalu jijik ngeliat cowok yang sok romantis ngasih bunga sama
hadiah ke cewek. Tapi, gue baru bener-bener ngerasainnya sekarang setelah gue
tau cinta.
Weird? Yes.
Apa gue terlihat sama sekali gak cool? Pasti iya. Tapi gue gak peduli, orang
gue suka bukan lo, lo, lo, dan elo. Gue suka Vanilla. Cinta malah.
Gue menetapkan hati buat neken nomer Vanilla di layar ponsel. Butuh waktu
sekitar lima menit buat ngeyakinin diri gue kalo gue bisa. Bisa ngomongnya
maksudnya.
Detik-detik nada sambung dari sambungan telpon, bikin gue was-was. Jantung gue
juga entah kenapa juga jadi ikutan was-was. Sialan, ini gak gue banget.
“Regaaa.” suara Vanilla di ujung sana kaya seneng banget.
“Van, gue—“
“Ga, Raka tadi nembak gue—“
Gue gak salah denger kan? Apa tadi barusan Vanilla bilang kalo dia di tembak
Raka?
“And i said yes.”
Detik itu juga gue ngejauhin ponsel, gue ngeliatin semua yang udah gue siapin.
Mawar sama hadiah yang udah gue pegang, kelepas dari tangan gue.
Ya, gue baru ngerasain sekarang.
Gue selalu kalah, gue selalu telat.
Dan sekarang gue merasa bener-bener nyesel, kenapa gak dari dulu gue buat nyoba
bilang? Gue baru merasa selama ini gue gak ngelakuin apa-apa buat dapetin
Vanilla. Selama ini gue Cuma berharap tanpa ngelakuin usaha yang berarti.
Gue merasa jadi orang yang bener-bener tolol. Lebih tololnya lagi, gue baru
sadar itu semua sekarang.
Sekali lagi gue kalah.
Juga tentang Raka yang selalu nolongin Vanilla kalo dia lagi butuh. Entah di
sengaja atau takdir. Tapi dia emang selalu lebih dulu di depan gue. Dan gue
selalu menjadi setelahnya. Gue terlalu naif buat mikir kalo Vanilla udah kenal
lama sama gue dan dia pasti bakal tiba-tiba cinta sama gue dengan berjalannya
waktu.
Gue gak pernah mikir daridulu kalo suatu hari pasti ada cowok yang buat Vanilla
suka. Gue terlalu yakin buat ngakuin kalo gue sama Vanilla gak bakal bisa
lepas. Gue terlalu sombong tentang perasaan gue.
Dan emang kayanya udah takdir bakal berakhir kaya gini.
Dari awal emang udah gue yang salah. Gue gak bisa apa-apa kalau udah kaya gini.
Tanpa perlu gue ngungkapin perasaan gue juga gue udah tau jawabannya. Karena
jawabannya pasti ngga. Sekali lagi, gue mendem perasaan gue sendiri.
Biarlah menjadi sebuah butiran debu tanpa pernah di sentuh oleh yang di tuju.
Biarlah menjadi sebuah harapan terindah dalam hidup yang pernah gue punya.
“Karena cinta tulus ku inilah lantas aku memberikan sebuah mawar terindah
untuknya dengan serta menggenggam erat batang dan duri-durinya hingga aku
mendesah menahan rasa nyeri. Dia tersenyum cerah. Namun aku bersimbah darah..”
(*)
21
Butuh waktu sekitar beberapa menit sampai aku mengatakan iya. Aku tidak bakal
menyangka kalau Raka akan menyatakan cintanya secepat itu. Dan aku bingung
harus menjawab apa. Di tambah lagi, sebelumnya seseorang-seseorang yang pernah
menyatakan cintanya padaku dulu selalu melalui telpon atau pesan singkat.
Dan aku selalu menolaknya dengan alasan gak gentle banget. Kebanyakan dari
mereka membuat janji kepadaku untuk besoknya pasti akan mengatakan langsung.
Tapi—aku hanya menerima ucapan pertama mereka. Jadi, aku tetap menolak.
Darahku berdesir-desir detik-detik aku berpikir, apalagi tatapan Raka yang
menyiratkan harapan. Jadi, dengan segenap hati aku telah memutuskan.
I said yes.
Ponselku bergetar di dalam clutch yang ku bawa, setelah aku menerima Raka aku
izin ke toilet. Untuk menumpahkan segalanya. Perasaan ababil jaman sekarang.
Senang dan lain-lain.
Rega Calling..
“Regaaa.” sapaku tidak tahan untuk tidak menyembunyikan perasaan senang dalam
benakku.
“Van, gue—“
“Ga, tadi Raka nembak gue—“
Sebelum Rega menyelesaikan kalimatnya, aku tidak tahan juga untuk cepat-cepat
memberi tahunya. Aku ingin Rega menjadi orang yang pertama tau tentang diriku.
Tentang semuanya. Entahlah, tiba-tiba suaraku menyerobot untuk keluar tanpa
dapat ku stop.
Aku menaarik nafas sebentar saat ingin mengatakannya. Senyum tergambar jelas di
bibirku.
“And i said yes.”
Kalimat terakhir yang kuucapkan hanya sebuah kalimat dengan nada rata-rata
tanpa ada perasaan apapun. Seakan aku hanya ingin mengatakannya. Tidak
bermaksud lebih apalagi berlebihan. Aku mengucapkannya dengan menahan satu
tarikan nafasku.
Tapi tidak ada jawaban dari sana.
Tidak ada jawaban dari Rega.
“Ga?” panggilku.
Masih tidak ada jawaban.
“Rega? Lo masih di sana kan?”
Sekarang malah nada sambung terputus. Aku menjauhkan layar ponsel dari
telingaku dan mengernyitkan kening untuk melihatnya.
“Kok di matiin sih!”
Aku mencoba untuk menelpon Rega, tapi setelah suara operator disana berbicara,
aku baru ingat kalau pulsaku habis. Jadi, aku hanya mengirimkan sebuah line
pada Rega.
Me: kok mati, Ga? lo dimana? kok ilang?
Ifa menginap di rumahku selepas acara prom night. Dari awal dia seperti
memendam sesuatu terhadapku. Tatapannya itu menyiratkan kecurigaan. Apalagi,
Ifa yang pertama melihatku dengan Raka pulang dari atap gedung. Pasti dia
berpikiran macam-macam. Tapi aku berlagak seakan tidak ada apa-apa. Nanti saja
kalau di tanya.
“Kemana tadi lo sama Raka?” tanya Ifa to the point sambil menghapus sisa-sisa
make up.
“Atap gedung biasa, abisnya gue bete. Jadi gue iyain aja ajakannya.” jawabku.
Pasti sebentar lagi Ifa bakal langsung nanya, batinku.
“Kok muka lo kaya seneng gitu? Emang ada apa?” tanyanya lagi.
“Emang seneng ya?” tanyaku balik.
“Iya—cerita deh mending sama gue, lo kenapa sama Raka? Mana gue liat dari pas
perjalanan pulang lo senyum-senyum terus.”
Refleks aku membekap bibirku dengan tangan kananku. Emang gue senyum-senyum
apa?
“Sebenernya gue—“ kalimatku terhenti di tengah jalan.
“Jangan bilang lo sama Raka—“
“Gue udah jadian sama dia.” sahutku menahan senyum. Tapi reaksi Ifa berbeda, ia
malah diam sambil berdehem sebentar dengan mukanya yang super datar. “Kok gitu
sih reaksinya? Rega juga tuh tadi tiba-tiba matiin telponnya.” langsung
terbayang peristiwa tadi.
“Siapa bilang gue gak seneng? Gue seneng kalo lo seneng.” Ifa tersenyum renyah.
“Gue masih perlu kenal aja sama Raka, dia baik apa nggak buat lo.”
“Raka baik kok, serius.” yakinku padanya.
Ifa hanya mengangguk-ngangguk sambil menguap lalu merebahkan dirinya membelakangiku.
“Akhirnya gue punya pacar juga..” kataku.
****
Jelas aja Rega nutup telponnya, gimana juga coba caranya orang lagi patah hati
bisa ngomong bener sama orang yang bikin dia patah hati? Yang ada malah
ketauan.
Walaupun Ifa bukan Rega, tapi rasanya mendengar Vanilla sudah sama Raka membuat
hatinya ikutan sesak juga. Vanilla tidak tahu sebesar apa perasaan Rega ke dia.
Vanilla tidak tahu sudah berapa lama Rega memendam perasaannya.
Tapi, kenapa akhirnya jadi begini?
Ifa hanya bisa menghela nafas dengan berat. Besok, setelah pulang dari rumah
Vanilla. Ia harus mengajak Bagas untuk langsung ke rumah Rega.
Jam delapan pagi, Ifa sudah langsung pamit pulang sama Vanilla. Jam lima pagi
buta tadi, Ifa sudah mengirimkan line pada Bagas tentang semuanya. Juga, Ifa
meminta Bagas untuk menjemputnya di rumah Vanilla.
“Lo serius gak sih, Fa?” tanya Bagas setengah berteriak akibat jalanan kota
yang ramai.
“Serius, Gas.” jawab Ifa. “Gue gak kebayang Rega kaya apa sekarang.”
“Jangan sampe kita telat.” kata Bagas.
“Ha? Telat?”
“Gue takut Rega udah bunuh diri.”
Sahutan Bagas langsung di balas pukulan oleh Ifa, “Emang Rega se-desperate itu
apa? Ini baru di tinggal jadian bukan nikah apalagi mati.”
“Ya kali aja, namanya lagi patah hati orang bisa ngelakuin aja.”
“Gue sih yakinnya Cuma satu apa yang bakal Rega lakuin.” kata Ifa 100% yakin.
“Rega udah bakal pasti nerima itu beasiswa.”
Pandangan kedua remaja tersebut sekarang tertuju pada laki-laki yang sekarang
sedang duduk di atas kasurnya. Ifa dan Bagas menghela nafas lega melihat Rega
masih baik-baik saja. Tidak ada luka sedikit-pun.
“Gue bersyukur lo gak bunuh diri, Ga.” Bagas menepuk punggung Rega.
“Gue gak sebego itu.” jawab Rega.
“Sekarang perasaan lo gimana? Nyesel?” tanya Ifa.
“Nyesel banget waktu tadi malem. Tapi setelah gue pikir-pikir, belom tentu juga
Vanilla bakal nerima gue kalopun gue tadi malem gak keduluan—buktinya Vanilla
nerima Raka, itu tandanya dia suka Raka.” jawab Rega datar. “Sekarang gue
tinggal berdoa aja supaya si Raka emang udah yang paling baik buat Vanilla.”
“Karena gue udah mutusin bakalan ngambil itu beasiswa dan gue berharap Raka
bakalan jagain Vanilla selama gue gak ada.” tambahnya. Dari raut mukanya Rega
terlihat tenang, tidak menampakkan emosi atau hal pesakitan lainnya yang baru
ia rasakan.
Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa terhenyak. Demi samudra atlantika,
jarang sekali orang yang sedang patah hati mau berlapang dada dan menerima
segala situasi yang sedang ada di kehidupannya.
“Lo berdua juga, telpon gue kalo Raka macem-macem sama Vanilla.” sekarang
senyum Raka mengembang. “Dan juga, buat sementara rahasiain dulu tentang
beasiswa gue ke Vanilla.”
Setelahnya, yang ada hanya keheningan. Melihat Rega yang seperti itu membuat
mau tidak mau Ifa menitikkan air matanya juga.
Padahal tidak ada yang perlu di tangisi.
Sementara Bagas hanya menatap kosong ke bawah.
“Satu lagi,” Rega bangkit dari duduknya dan berjalan ke laci meja. “Gue titip
ini,” Rega memberikan sesuatu pada Ifa dan Bagas, sebuah hadiah juga mawar yang
tadi malam akan ia berikan pada Vanilla. “Gue gak minta lo berdua buat ngasih
ini ke Vanilla, gue Cuma nitipin ini sampe gue pulang dari London.”
“Sampe gue ngelupain semuanya.”
Bagas langsung menatap Rega dengan pandangan sedikit cemas, “Lo—gak bakal balik?
Liburan?”
“Gue gak bakal pulang sampe gue bener-bener harus pulang.” tandas Rega.
****
Karena line ku tidak di balas-balas selama tiga hari oleh Rega. Aku memutuskan
untuk pergi ke rumahnya. Aku meminta Pak Joko untuk mengantarkanku.
“Hoy!”
Tanpa perlu mengetuk pintu aku langsung masuk ke kamar Rega. Dan sebuah
pemandangan tidak menyenangkan yang kulihat.
“FOR GOD’S SAKE! PAKE BAJUUU!” aku menutup kedua mata dengan kedua tanganku.
Beberapa detik kemudian aku mengintip dari sela-sela jari. “PAKEEE!”
“Sabar, sabar, lagian salah sendiri masuk gak pake ketok pintu dulu.” ujar Rega
santai, kudengar suara lemari di buka.
Aku mengintip lagi, Rega sedang mengenakan baju.
“Kenapa waktu itu telponnya mati? Kenapa line gue gak di bales-bales? Kenapa
tiba-tiba lo ngilang?” tanyaku beruntun.
“Hp gue rusak di banting si gentong, waktu telponnya mati hp gue low, kalo
ngilang—gue kebelet dan pas balik lo gak ada. Jadi gue pulang.”
“Boong.”
“Kalo boong—“
“Ngapain nanya—iya, Ga. Gue udah tau kata-kata selanjutnya.”
“Udah pinter ya sekarang.” kata Rega setengah menahan senyum. “Di ajarin Raka
ya?”
“Apasih.”
“Lo udah jadian kan sama Raka? Gimana rasanya punya pacar? Seneng?”
“Biasa aja.”
“Ati-ati ya di apa-apain.”
“APASIH!”
Rega hanya tertawa-tawa menanggapinya.
****
Rega
Hanya tinggal hitungan minggu gue bakal ninggalin semua yang gue punya.
Termasuk harapan paling indah seumur hidup gue. Kalau kalian bertanya apa gue
nyesel dengan semua yang baru gue lewatin? Jawabannya se-simple dengan rasa
cinta yang tumbuh perlahan dalam hati gue.
Gue gak pernah nyesel sama semuanya. Gue gak pernah nyesel pernah menempatkan
Vanilla pada titik terdalam yang paling atas dalam simpul hati gue.
Dengan semua ini gue bisa mengambil pelajaran walau sampai saat ini gue juga
belum tau pelajaran apa yang bener-bener nyampe pada gue sendiri. Maksud gue,
pelajaran yang bener-bener buat gue terhenyak.
Sampai detik ini, Vanilla belum tau tentang beasiswa gue. Tenang, gue gak bakal
ngebiarin Vanilla ngejar gue di airport. Gue juga gak bakal sanggup buat pergi
tanpa bilang permisi ke dia. Gue Cuma nunggu waktu yang pas.
Sekali lagi gue ngeliatin tulisan di note hp gue. Tulisan yang gue tulis di
dalam hadiah yang pernah pengen gue kasih ke Vanilla. Tulisan yang nunjukkin
perasaan gue yang sebenernya.
Tulisan yang mungkin gak akan pernah Vanilla tahu.
****
Setelah dua hari perjuangan untuk menempuh SBMPTN, akhirnya selesai juga. Aku
berbeda tempat ujian dengan Rega, Ifa, dan Bagas. Aku dimana, mereka dimana.
Entah kenapa Rega tidak ingin memberi tahu dimana dia ujian. Tapi kupikir,
yasudahlah. Tidak penting juga.
Rencananya aku dan Rega akan nonton bioskop, refreshing ceritanya. Aku menunggu
Rega mandi sambil membaca-baca majalah otomotif Rega yang tergeletak di atas
kasurnya. Tidak sengaja aku menjatuhkan majalahnya karena suara Galih yang
bikin kaget. Pasti dia lagi mainan sama temannya.
Aku mengambil majalah yang terjatuh, saat aku mendongak untuk bangkit. Aku
melihat sebuah kertas terselip di laci meja. Penasaran, aku membuka laci meja
itu dan mengambil kertas yang ternyata adalah sebuah surat.
Aku melirik ke arah kamar mandi, suara shower masih terdengar. Itu artinya Rega
masih mandi. Aku membukanya secara perlahan, seakan takut lecek. Siapa tau itu
surat penting.
Dan,
apa yang baru saja kulihat?
Ini surat dari kedutaan.
Tentang,
beasiswa?
Maksudnya apa? Jadi Rega dapat beasiswa? Aku membaca dengan seksama surat
tersebut. Di London? Jadi—bagus, Rega mendapatkan beasiswa di London dan dia
sama sekali tidak bilang padaku.
Aku merasa—tidak tahu, yang jelas tiba-tiba rongga di dadaku sesak.
Tepat pada saat itu pintu kamar mandi terbuka. Aku refleks mendongak dan
menurunkan surat itu.
“Kenapa gak bilang..” suaraku sekarang benar-benar seperti tikus kejepit. Rega
berjalan mendekatiku dan mengambil surat itu dari tanganku. Aku menengadahkan
kepalaku untuk dapat melihatnya.
“Pantesan lo gak mau bilang dimana lo ujian—ternyata lo gak ikut ujian.”
sambungku.
Rega duduk di sampingku, “Sorry gue—“
“Gausah jelasin apa-apa, gue belom selesai ngomong.” potongku. “Kenapa dari
awal gak bilang lo dapet beasiswa? Lo sengaja apa gimana? Siapa aja yang udah
tau?”
“Ini tuh bukan maksud gue—“
“Ifa sama Bagas tau?”
Rega hanya bisa mengangguk.
“Bagus, jadi Cuma gue doang yang gak di kasih tau? Kenapa sih, Ga? Lo sebel
sama gue? Lo benci sama gue? Kenapa?”
“Gue gak tau gimana cara ngasih tau ke lo.”
“Tinggal ngasih tau Van, gue dapet beasiswa—selesai kan?”
“Terus kalo gue bilang kaya gitu lo mau apa?” tanya Rega.
Gue mau apa? Kalo bisa gue mau nahan lo, tapi itu gak mungkin.
“Lo sendiri juga gak bisa jawab kan?” sahut Rega lagi.
Dan sekarang ini airmata kenapa kurangajar banget tiba-tiba keluar gini. “Terus
lo terima gak, Ga?” tanyaku pelan. Kuusap airmataku dengan jari telunjukku. “Pasti
di terima, iyalah ke London siapa yang gak mau.” aku menjawab sendiri, tapi
lebih bicara pada diri sendiri. “Kapan berangkat?”
“Seminggu lagi.”
Aku makin galau di buatnya.
KENAPA REGA KURANG AJAR.
“Terus kalo lo pergi, gue gimana..” ini pernyataan paling melas yang pernah ku
lontarkan.
“Sekarang kan lo udah sama Raka, anggep aja sementara dia buat jadi pengganti
gue.”
“Tapi gak ada yang bisa gantiin lo, Ga.”
Jawabanku membuat Rega menarikku ke dalam dekapannya. Seketika itu juga
pertahananku runtuh. Aku nangis sejadi-jadinya. Dan Rega Cuma bisa mengelus
lembut kepalaku. Tak ku hitung berapa lama aku dalam posisi menyedihkan
sekaligus menjijikkan seperti itu.
“Ga.. lo gak punya tisu?” kataku masih sesenggukan.
Rega mangangkat sebelah alisnya, “Tisu?”
“Bagi tisu buat ngelap airmata, dodol! Apa perlu gue ngelap pake baju lo?”
“Iya sabar. Bentar.”
Rega bangkit berdiri dan mengambil segepok tisu. Aku mengelap airmata sekaligus
mengeluarkan ingus. Duh, pokoknya ini nangisnya paling gak keren deh. Untung
sama Rega bukan sama yang lain. Malu-maluin.
“Udah-udah gak usah nangis. Gue kan pergi masih di sekitar bumi, bukan di dunia
lain.”
“Tau ah, gue bete. Pokoknya seminggu ini lo harus nemenin kemanapun yang gue
mau.” sekali lagi aku mengelap airmata yang jatuh. “Ohiya, kalo ketemu One
Direction—salam ya dari gue.”
“Masih sempet-sempetnya ya lo—“
“Lo gak usah marah deh. Yang harusnya marah tuh gue! So shut the freak
up—lagian gue masih nangis, jangan di ganggu.”
Rega mengacak rambutku, “Lo tenang aja, kalo gue pulang dari sana. Gue bisa
mastiin kalo lo adalah orang pertama yang bakal gue temuin.” ujar Rega dengan
mengulum senyum di bibirnya.
“Promise.”
22
By. MRs.M dan Lisha
Selama seminggu full aku menghabiskan waktu bersama Rega. Dari mulai jalan-jalan
keliling komplek yang menurutku kegiatan paling aneh sedunia sampai nonton
bareng, makan bareng, barbeque bareng, dan yang terpenting, setidaknya aku bisa
men-drible bola basket dengan lumayan benar. Sumpah, aku payah dalam bidang
olahraga, apapun bentuknya itu. Tapi dua hari yang lalu Rega mengajariku cara
nge-drible yang benar.
Pokoknya seminggu itu apapun asal sama Rega, aku mau-mau saja dan senang-senang
saja. Yang penting sama Rega. Titik.
Aku hanya menopangkan daguku sambil memandang Rega yang sedang packing. Dari
mulai ia mengambil koper pun. Aku sudah mulai merasa sedih—full sedih. Sumpah.
Kalian harus merasakan sendiri ya bagaimana rasanya di tinggal oleh seorang
sahabat yang selalu ada untuk kalian dan tiba-tiba dia harus pergi ninggalin
kalian. Iya kalau masih beda kota. Ini? Beda negara.
Iya kalau masih di Malaysia, Singapore, atau Thailand pokoknya negara asia
lainnya kecuali Jepang. Biaya akomodasi kesana masih lumayan bisa terjangkau.
Jadi, aku bisa saja sih setiap liburan mungkin mengunjunginya. Mungkin ya.
Tapi, London?
Pesawatnya aja mahal. Kayanya aku harus sok baik dulu di depan Papa supaya di
perbolehkan kesana. Iya kalau ujungnya di bolehin. Kalau nggak? Apalagi kalau
pergi sendiri, mana di bolehin.
Maaf curhat.
Jadi, kalian rasakanlah sendiri. Agar kalian benar-benar merasakan rasanya
seperti apa.
“Ga.” panggilku.
“Hmm.” Rega masih sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.
“Rega.”
“Apa Vanillaa?” Rega menghentikan aktivitas packing nya. Sekarang tatapannya
tertuju terhadapku sepenuhnya. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa manggil
dia. Ini semua benar di luar kendaliku. Sepertinya aku benar-benar tidak rela
kalau Rega harus pergi.
“Jangan gitu dong mukanya.” Rega mengacak rambutku, akhir-akhir ini dia memang
sering melakukannya.
“Bisa nggak perginya di tunda?” tanyaku tanpa merasa berdosa.
Rega menghela nafas sebentar dan duduk di sampingku. Tatapannya tertuju padaku
yang sedang memainkan ujung tali gulingnya.
“Gue kuliah, Van. Bukan liburan.” jawab Rega sabar.
“Kalo gue kangen sama lo gimana, Ga?”
“Sekarang teknologi udah canggih. Lo bisa skype gue atau apapun yang lo mau.”
“Tapi kalo gue maunya ketemu gimana?”
Rega diam sebentar, “Lo tidur aja, ntar pasti gue dateng ke mimpi lo.” ucapnya
menahan geli dalam suaranya.
Sialan Rega, bisa-bisanya masih kaya gitu di saat-saat kaya gini? Langsung
kupukul aja lengannya.
“Serius iss, Ga.” kataku kesal.
“Gue juga serius, Van. Gak mungkin juga kan tiap gue atau lo yang pengen ketemu
harus bener ketemuan? Yang ada gue miskin tiba-tiba. Bukan deh, bokap gue
maksudnya.” katanya. “Gue juga sama Van kaya lo. Pasti ada saat dimana gue juga
pengen ketemu lo, dalam arti secara langsung. Tapi—mau gimana lagi? Kita jauh.
Gampangnya, kita komunikasi aja terus, seenggaknya itu bisa jadi obat buat
sementara, kan?”
Aku mengangguk pelan membenari ucapannya, kurasakan mataku berkabur. Sepertinya
airmatanya hampir keluar. Tapi buru-buru kuusap.
“Kalo lo kangen sama gue, bilang aja. Gak usah gengsi ya.” canda Rega.
Sialan. Rega sialan.
“Gue boleh bilang sekarang?” tanyaku serak. Rega mengangkat salah satu alisnya,
tanda tak mengerti. “Gue kangen lo..”
Lagi, detik itu juga Rega membawaku ke dalam dekapannya. Padahal ia baru besok
berangkat. Tapi rasanya ia sudah jauh dalam jangkauanku. Rega mengelus
punggungku pelan untuk menenangkanku.
“Gue lebih kangen lo.” kata Rega di sela-sela pelukannya. “Mau gue ambilin
tisu?” tawarnya. Aku hanya mengangguk. Rega mengulum senyum di bibirnya dan
bangkit untuk mengambil tisu. “Udah ya, gak pake nangis-nangisan lagi. Gue
masih disini.”
Aku mengelap sisa-sisa airmataku dan menarik ingus, ya Tuhan kenapa sih kalau
setiap orang yang sedang nangis itu harus ada ingusnya?
“Besok berangkat jam berapa, Ga?” suaraku masih sedikit serak.
“Jam sepuluh pagi take off.” aku baru akan berkomentar tapi Rega lebih dahulu
mendahuluiku. “Gue gak bakal setega itu ya pergi tanpa pamit sama lo.”
Walau sedikit, tapi dalam lubuk hatiku merasa lega.
****
Sudah sedari jam tujuh pagi aku siap. Rencananya aku, Ifa, dan Bagas akan
bersama naik mobil Raka ke bandara. Menurutku waktu tiga jam itu sangat sedikit
sekali jika ada sesuatu yang tidak di inginkan datang. Sama seperti ini. Dan
padahal baru jam setengah delapan aku sudah berulang kali menelpon Raka untuk
cepat datang. Juga Ifa dan Bagas.
Aku mau jam delapan aku sampai di rumah Rega. Setelah itu bersama-sama kami ke
bandara. Walau dengan mobil yang berbeda. Karena mobil Raka tidak cukup untuk
menampung kedua orangtua Rega, juga Galih.
Sampai saat ini tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibirku. Tiba-tiba
semuanya kelu, lagipula aku juga tidak tahu ingin bicara apa. Ini lebih tegang
daripada menunggu hasil ujian. Apa? Lebay? Menurutku tidak.
“Van, mau ciki nggak?” tawar Ifa padaku. Sebagai jawaban aku hanya menggelang.
Jantungku serasa ingin keluar ketika mendengar pengumuman pesawat yang akan di
tumpangi Rega sudah siap. Rega berdiri dari tempat duduknya, begitu juga dengan
aku dan yang lainnya.
Raut mukanya sama semua, sedih campur senang. Tapi aku tidak. Aku sedih, sedih
se-sedih sedihnya orang sedih. Senang juga sih walaupun sedikit. Senang karena
setidaknya aku punya sahabat lulusan luar negri. Hahihu.
Ketika satu persatu semua orang memeluk Rega untuk berpamitan. Aku hanya
memandang kosong ke arahnya. Entahlah, ini rasanya sudah campur aduk. Aku juga
mual sebenarnya jika mengalami rasa seperti ini.
Entah sudah berapa lama Rega berdiri di hadapanku. Aku baru menyadarinya ketika
aroma khas nya tercium sampai ke rongga dalam hidung.
“Kemarin nangis-nangis gak ngebolehin gue pergi? Sekarang kenapa diem aja?”
Rega memecah semua lamunanku.
Aku mendongak menatapnya, “Katanya gak boleh nangis lagi.” kataku pelan.
Bibir Rega berkedut membentuk sebuah senyuman, “Nggak ada gue jangan teledor
ya. Harus bisa jaga diri baik-baik. Jangan suka pulang malem-malem. Dan jangan
pernah mau di deketin cowok yang gak lo kenal.” pesannya panjang lebar. “Dan
jangan berhenti buat kangen sama gue.” yang terakhir di ucapkannya dengan nada
setengah geli setengah serius. Aku tidak terlalu memerhatikan karena aku
terlalu fokus pada pikiranku sendiri.
“Lo juga—sampe sana langsung kabarin gue. No matter what.”
Dalam waktu beberapa detik keadaan semua hening, tidak ada yang bicara di
antara kami berdua. Terhanyut dalam benak masing-masing. Sampai tiba-tiba Rega
mendekapku, kali ini sedikit berbeda. Aku merasa seperti there is no tomorrow.
Aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh puncak kepalaku.
Rega menciumku—di kening.
“Take care without me.” bisiknya setelah menjauhkan bibirnya dari puncak
kepala.
“You too.” jawabku setengah berbisik juga.
Kemudian pandangan Rega beralih pada Raka. Tidak seperti biasanya, Rega selalu
memandang Raka penuh curiga tapi kali ini juga berbeda. Ia malah menaruh
pandangan harapan pada Raka.
“Gue percaya lo bisa jagain Vanilla.” Rega menepuk bahu Raka seperti layaknya
seorang teman dekat.
“I do.”
****
Rega
Gue jalan lurus ke depan tanpa perlu ngeliat ke belakang lagi. Gue takut gak
sanggup, kalau seandainya gue nengok ke belakang dan gue ngeliat Vanilla, gue
takut gue bakal batalin kepergian gue. Apalagi seminggu kemarin gue sama
Vanilla selalu bareng, bikin gue tambah desperate.
Mau gimana juga, Vanilla udah punya Raka atau belum. Inti masalahnya adalah gue
gak bisa jauh dari Vanilla.
Tapi nyatanya gue tetep dengan pendirian gue buat terus jalan dan gak nengok ke
belakang lagi. Gue jauh dari Vanilla juga bisa lebih nguntungin buat gue.
Seenggaknya gue gak bakal setiap hari ketemu dia lagi.
Dan,
mungkin emang gak dalem waktu deket. Tapi seenggaknya gue masih dalam masa
untuk mencoba move on.
I used to be afraid of letting go, the fragile part of me. I’m here right now I
need you to set me free. I can see it in you eyes. That you blame it on me this
time. No, never. You might want me back but I won’t look back.
****
Minggu-minggu pertama tanpa Rega rasanya berat. Berat banget. Sesuai janjinya,
sampai disana dia langsung mengubungiku lewat skype. Hampir setiap hari aku
ber-skype ria dengan Rega. Cerita tentang semua, sehari-hari kita. Aku juga cerita
ke Rega kalau aku masuk ke salah satu universitas negri di Jakarta.
“Cie jadi anak kuliahan sekarang. Jangan bolot-bolot lagi ya.” kata Rega di
ujung sana. Kalau saja ini bukan berbicara lewat skype, sudah ku pukul
lengannya atau mungkin ku cubit keras-keras.
“Sekarang kalo kuliah di anter Pak Joko deh, bukan sama lo.” kataku.
“Gimana? Nggak ada gue sedih banget kan?”
“Apasih.” gerutuku. “Lo gimana? Temen disana enak-enak?”
“Lumayan.”
Beberapa bulan di awal memang aku dan Rega selalu rajin ber-skype ria. Tapi
bulan-bulan selanjutnya Rega jadi sulit sekali di hubungi. Aku mengirimkannya
email saja baru di balas beberapa hari kemudian. Awalnya aku masih biasa saja,
maklum. Mungkin Rega sibuk karena tugas kuliah.
Tapi, ini sudah dua bulan lebih. Bahkan aku tidak lagi ber-skype an dengan
Rega. Hanya berkirim email itu pun di balasnya seabad.
“Kenapa? Dari kemarin mukanya gak enak terus?” aku baru selesai nonton dengan
Raka. Sumpah, aku bahkan tidak tahu jalan cerita filmnya seperti apa. Karena
terlalu sibuk berpikir.
“Aku gak ngerti kenapa dua bulan terakhir Rega susah banget di hubungin.”
curhatku.
“Mungkin dia lagi sibuk, Van. Kan kita nggak tau sistem kuliah di luar kaya
gimana. Bisa aja lebih sibuk.”
Iya tau sibuk, tapi bisa kan bales email nya gak seabad? Emang Rega gak punya
internet lagi apa? Gak mungkin banget.
Dan aku sampai titik pada dimana aku sedang benar-benar kangen Rega. Rasanya
aku ingin berlari kesana sekarang juga untuk menemuinya. Coba bayangkan, kalian
sedang kangen berat sama seseorang but you can’t do anything like hell. Rega
sucks.
It was so sick.
A day without you is like a year without rain, Abrega. I swear to God.
Kalau seandainya tiba-tiba Rega bisa membaca pikiranku mungkin ia akan tertawa
sekeras-kerasnya. Dia pasti tidak akan percaya kalau aku seperti ini.
Rega, lo dimana sih? Kenapa bales email lama? Kenapa gak pernah skype lagi? Gue
kangen lo tau gak sih. Kangen. K a n g e n. Bodo amat gue jadi menjijikkan
gini. Ini semua gara-gara lo. Gue jadi alay labil nan ababil gini pokonya fix
gara-gara lo.
****
Kuputuskan untuk pergi ke rumah Ifa. Aku ingin curhat sejadi-jadinya. Siapa
lagi kalau bukan tentang Rega? Rega bego, gak tau apa kalo gue kangen?
Ternyata Ifa sedang menjemput Mama nya yang sedang belanja di sebuah mall. Jadi
aku langsung saja naik ke atas, dan masuk ke dalam kamarnya. Dan dengan
kurangajarnya meniduri kasur Ifa yang padahal sepertinya baru di beresin.
Aku memejamkan mata sebentar, sampai aku tidak sadar kalau aku sudah setengah
tidur. Tiba-tiba di dalam mimpiku aku terpeleset ke sungai, yang itu artinya di
dunia nyata sekarang aku sudah berada di atas lantai. Jatuh dari kasur.
“Aduh.” aku meringis sambil mengusap bokongku yang lumayan sakit.
Aku baru akan bangkit dengan tanganku sebagai tumpuannya. Tidak sengaja aku
memegang sesuatu di bawah kasur. Kulongokkan kepalaku ke dalam sana. Kudapati
sebuah kotak yang sepertinya itu sebuah hadiah. Juga ada seikat mawar yang
sudah layu.
Untungnya itu kotak yang bisa di buka tutup. Jadi, kalau itu punya Ifa juga dia
tidak akan tahu kalau aku pernah membukanya.
Aku memang orang paling kepo seluruh dunia.
Pertama ku amati dulu seikat mawar itu. Aku mengernyitkan kening dan
bertanya-tanya dalam hati, kenapa Ifa menyimpan mawar yang sudah layu begini?
Apa mungkin dia lupa membuangnya? Atau apa? Kalau di lihat dari bentuk
mawarnya, itu sudah seperti mawar beberapa bulan yang lalu.
Kutaruh mawar itu di samping kotak hadiah, kemudian tanganku mengambil kotak
itu. Perlahan aku membukanya. Mataku membulat seketika menemukan apa isi kotak
tersebut. Isinya adalah sebuah boneka yang waktu itu aku tunjukkan pada Rega.
Tapi—ini punya Ifa? Kalau iya, dari siapa?
Tanganku bergetar mendapati surat yang terselip di antaranya. Entah perasaan
apa tapi jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya. Pelan-pelan ku
buka surat itu dan membaca tulisan di dalamnya.
Aku tahu benar yang sedang kubaca itu tulisan siapa.
Someone said,
“Meeting you was fate, becoming your friend was a choice, but falling in love
with you was beyond my control..”
I love you, my bestfriend.
I’m sorry.
-R-
Aku ingin teriak sekencang-kencangnya saat itu juga. Tapi semuanya tertahan
seiringan dengan butiran airmata yang keluar dari pelupuk. Tanganku terasa
lemas bahkan untuk memegang surat itu.
Bagaimana aku bisa sebegitu bodohnya untuk tidak menyadarinya? Bagaimana aku
bisa tidak peka dengan perasaan sahabatku sendiri yang notaben selalu
bersamaku?
Yang kulakukan hanya meringkuk sambil bersender tiang kasur. Menggigit bibir
sekeras-kerasnya untuk menahan sesuatu yang bergejolak pada diriku.
Selama ini aku yang terlalu egois untuk tidak ingin melihatnya secara kasat
mata. Selama ini aku hanya mementingkan tentang perasaanku sendiri. Sekarang
aku benar-benar menjadi wanita ter-egois.
Satu demi satu setiap reka adegan selama aku bersama Rega berputar di benakku.
Perhatiannya, kebaikannya, selama ini menyiratkan sesuatu yang tidak pernah
kusadari yang sayangnya kuabaikan begitu saja seperti layaknya debu jalanan.
Rega yang selalu care terhadapku. Rega yang selalu mengalah.
Kenapa aku baru tahu setelah semuanya berakhir? Rega yang mengambil beasiswa
dan tanpa bilang terlebih dahulu padaku jelas pasti ada alasannya tentang
masalah ini. Juga Rega yang tiba-tiba sekarang seperti tidak ingin berkomunikasi
denganku. Jelas ia sedang menghindar dariku.
Tapi—dengan perilakunya yang seperti itu—aku tidak bisa.
Aku baru menyadari sekarang, perasaan kehilangan yang kualami akan Rega—itu
pasti bukan semata-mata merasa kehilangan.
Tapi takdir memang selalu seperti itu. Segalanya disadari setelah semuanya
terlambat atau mungkin berakhir. Begitu juga dengan penyesalan. Tidak ada
penyesalan yang datang di awal, kalau di awal namanya pendaftaran—kata entah
siapa--.
Pintu kamar terbuka menampilkan sesosok Ifa yang baru pulang dari menjemput
Mamanya.
“Vanilla sorry ya gue—“ belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Seketika tas
yang sedang ia bawa jatuh ke lantai.
“Fa—kenapa gue baru sadar sekarang?”
Bahkan aku tidak sempat bertanya kenapa kotak dan mawar itu ada di Ifa.
23
By. MRs.M dan Lisha
Setiap kata yang keluar dari bibir Ifa, membuatku semakin merasa bahwa aku
adalah orang yang paling egois di dunia. Ifa menceritakan semuanya. Tanpa ada
yang di potong sedikit-pun. Bahkan sampai titik dimana Rega akan menyatakan
perasaannya dan dengan bodohnya aku malah—sudahlah.
Aku mengelap sisa-sisa airmata yang masih tersisa, “Rega bener-bener cinta sama
lo, Van. Gatau ya gue lebay apa ngga, tapi gue merasa ya.. dia cinta sama lo.”
kata Ifa. “Lo gak tau gimana setiap Rega ngeliatin lo tanpa lo sadarin. Dan
akhirnya gue dan Bagas menyimpulkan kalo dia udah mulai suka sama lo sejak
itu.”
“Emang semua salah gue.. gue nya yang bego dan gak peka.” kataku pelan.
“Bukan sepenuhnya salah lo, Van.” sahut Ifa menengahi. “Karna mungkin lo udah
terbiasa sama Rega, tiap hari lo ketemu dia, dijemput dia—jadi, lo tuh gak bisa
ngebedain perasaan sayang lo ke Rega sebagai apa.” jelasnya.
“Dan lo sadar pas lo udah gak sama dia lagi. Lo merasa ada yang kosong dalam
diri lo pas lo gak sama Rega.” tambahnya. “Harusnya lo bersyukur Rega pergi
dari lo—seenggaknya itu bikin lo sadar, kan?”
“Tetep aja gue merasa gue salah, harusnya waktu pas Rega nyi—“ aku kelepasan
ngomong dan buru-buru menutup bibirku dengan tangan kananku.
“Nyi? Maksud lo—“
“Rega pernah nyium gue—sekali—di bibir—plis gak usah di bahas.” jawabku
setengah malu.
“SUMPAH! Gue gak nyangka kalo kalian berdua udah sampe kesana.” ucap Ifa seakan
tidak percaya dengan apa yang baru di dalamnya. “Gimana ceritanya lo
sama—sialan, gue speechless banget.”
“Itu gak sengaja—di luar kendali—udah elah gak usah di bahas.” kataku. “Terus
sekarang gue harus gimana?”
“Masalah lo Cuma satu.” jawab Ifa cepat.
Aku tahu benar apa masalahku.
Masalahnya memang Cuma satu dan itu terletak pada satu orang. Raka. Sekarang
dia adalah pacarku—bagaimana caranya aku bisa mengatakannya pada Raka?
Kenapa sih hidup ini harus ribet banget?
“Gue gak yakin bisa, Fa.”
“Lo coba bilang baik-baik ke Raka.”
“Ya lo ngomong gampang sekarang—coba lo jadi gue, di depan lo ada pacar lo dan
lo harus bilang ke dia kalo ceweknya udah move on. Terus ceweknya minta putus.”
celotehku. “Itu gue kurang jahat apa coba? Gue udah egois sama Rega. Dan
sekarang gue harus jahat sama Raka? Mau di kata cewek apa gue?”
“Emang sih—tapi mau gak mau lo harus bilang ke Raka. Jangan sampe lo nyakitin
Raka gara-gara tiap jalan sama dia, pikiran lo ke cowok lain.”
“Gue gak yakin, Fa. Demi apapun.”
“Makanya coba!”
Mungkin aku memang harus mencoba. Entah kapan.
Malam ini aku makan malam bersama Raka, tapi pikiranku sudah melayang-layang
entah kemana. Memikirkan tentang Rega yang entah apa kabarnya. Masalah
perasaanku terhadap Rega. Juga masalah hubunganku dengan Raka. Semuanya menyatu
malam ini.
Mungkin karena Raka merasa aku daritadi hanya diam saja. Apalagi makananku juga
tidak tersentuh—baru dua suap aku makan—Raka meletakkan sendok dan garpunya ke
samping.
Raka menghela nafas sebentar, “Akhir-akhir ini aku merasa kamu diam terus,
kenapa?” tanyanya.
Aku mencoba untuk tersenyum walaupun rasanya susah sekali dan menggeleng pelan,
“Gapapa, Ka.” dan aku mengambil sendok dan garpuku, pura-pura makan.
Dalam hati aku merutuki diri sendiri. Gak mungkin kan kalau aku bilang ke Raka
kalau aku sedang memikirkan laki-laki lain selain dia? Gak mungkin kan kalau
aku bilang ke dia tiba-tiba? Tentang—semuanya. Perasaanku yang bisa di bilang
mungkin telah berubah.
Kalian boleh menyebutku apapun yang kalian mau. Silahkan judge diriku, tapi
perasaanku memang telah berubah setelah minggu lalu semua rahasia baru ku
ketahui.
Raka mungkin mengerti dan sebagai balasan ia juga tersenyum mengalah, “Kalo ada
masalah, aku siap dengerin kok.”
Dan, kalimatnya sukses membuatku makin sulit untuk mengatakan semuanya, Raka
terlalu baik untuk di tinggalkan. Sepertinya dia salah memilih wanita.
Seharusnya dia tidak menyukaiku dari awal.
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Di dalam mobil tidak ada yang berbicara di antara kita berdua. Aku tidak tahu
bagaimana cara untuk memulai pembicaraan. Dan sepertinya Raka mengiraku sedang
badmood sehingga dia tidak mengajakku berbicara.
Mobil Raka memasuki halaman rumahku.
“Makasih ya, Ka.” ujarku pelan.
Aku baru akan membuka pintu mobil ketika tanganku di tahan olehnya. Refleks aku
menoleh ke arahnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku siap dengerin kapanpun kamu mau cerita.” katanya.
Seperti ada palu godam yang menindih dadaku. Sialan, masalahnya itu ada di
kamu, Raka. Tapi aku gak mungkin kan blak-blak an buat bilang?
Tapi—sepertinya aku harus mencoba.
Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Aku menggigit bibirku pelan, “Sebenernya aku—“
Tiba-tiba Raka mengulumkan senyum kepadaku, “Aku tau, Van.”
****
Raka
Akhir-akhir ini setiap gue jalan sama Vanilla, gue merasa kalo gue lagi gak
jalan sama dia. Tubuhnya emang ada di samping gue, tapi jiwanya entah kemana.
Gue gak tau apa yang di pikirin dia. Tapi gue merasa ada sesuatu yang dia
pengen bilang ke gue tapi dia gak bisa.
Setelah gue perhatiin cukup lama, akhirnya dia nyoba buat ngomong.
“Sebenernya aku—“
“Aku tau, Van.” jawab gue cepat.
Vanilla sedikit terperangah karena kalimat gue tadi, “Kamu—“
“Ya aku emang gak tau apa masalahnya. Tapi aku siap dengerin—walaupun kamu kaya
susah buat cerita. Tapi—aku siap dengerin apapun yang keluar dari bibir kamu.”
Vanilla menghela nafas sebentar, berat.
“Aku—aku udah tau semuanya—tentang Rega,” katanya. “Rega.. dia.. semenjak dia
pergi buat ngambil beasiswanya, aku merasa ada yang kosong dalam diri aku.
Awalnya aku ngira itu mungkin Cuma kehilangan sahabat yang biasanya aku selalu
sama dia—tapi semenjak seminggu yang lalu—aku nemuin surat Rega—dia—“ Vanilla
diam sebentar, dia kaya udah gak bisa nerusin lagi.
Mungkin dia takut buat nyakitin gue. Tapi gak perlu di jelasin lebih lanjut
lagi gue ngerti maksudnya.
“Aku ngerti maksud kamu, Van.” gue nyoba buat senyum ke dia.
“Maaf, Ka.” Vanilla nundukin mukanya. Merasa bersalah.
“Aku tau kamu gak bisa bilang ini ke aku—jadi aku aja yang bilang ke kamu.” gue
menghela nafas sebentar. “Kita sampai disini aja,”
Vanilla langsung natep muka gue, pandangan bingung sekaligus—senang juga.
“Raka, kamu—“
“Kamu pasti gak enak kan buat mutusin aku? Jadi aku aja yang mutusin kamu.”
kata gue. “Sekarang udah gak ada yang perlu kamu takutin lagi.”
“Kamu—serius?”
“Kapan aku pernah bercanda sama kamu?”
Detik itu juga Vanilla langsung ngehamburin dirinya ke gue. Dia meluk gue,
sebagai tanda terimakasih. Gue Cuma bisa senyum aja. Gue yakin ini keputusan
yang terbaik.
Gue gak bisa egois sama perasaan gue tanpa mikirin perasaan Vanilla. Gue sayang
dia, tentu. Tapi gue mau ngeliat dia bahagia, walau kebahagiannya bukan sama
gue. Gue juga gak mau jadi cowok brengsek yang seakan buta tentang semuanya.
Pura-pura nggak tau perasaan Vanilla tapi sebenernya gue tau.
Vanilla seneng, gue juga seneng.
Dan gue pikir itu keputusan terbaik yang pernah gue ambil setelah keputusan gue
meng-iyakan lamaran Om Ginanjar ke Mama dulu.
“Makasih, Ka. Makasih sekalgi lagi..” bisik Vanilla berulang kali.
“Anytime, Vanilla.”
****
Perasaanku tidak tergambar saat ini—Raka memang terlalu baik—kebaikan malah.
Yang kulakukan setelahnya adalah masuk ke dalam rumah dan baru aku membuka
pintu utama rumah, aku langsung berteriak lantang.
Seakan segala penjuru rumah dan isinya harus tau.
“MA, PA, VANILLA MAU KE LONDON!”
Dua detik setelah aku mengatakan itu, pintu kamar Mama dan Papa langsung
terbuka. Diikuti suara pintu kamar dari atas milik Vandy dan Vika. Juga Bi Inah
tergopoh-gopoh muncul dari arah dapur.
“APA?”
Jawaban mereka semua sama. Tampang mereka semua terkejut. Tidak menyangka, anak
bungsu sekaligus adik bungsunya dengan lantangnya bilang ingin ke London.
Vandy dan Vika nongol dari balkon, “SERIUS?”
“Vanilla mau ke London, Ma, Pa, gimanapun caranya. Vanilla mau ketemu Rega.”
kataku. “Ya siapa tau Vanilla juga ketemu One Direction.”
Butuh waktu tiga hari aku meyakinkan tentang keinginanku yang tiba-tiba pada
kedua orangtuaku. Berbagai alasan kukeluarkan agar mereka memperbolehkanku. Dan
keputusan akhir adalah BOLEH. B O L E H.
Papa langsung menghubungi orangtuanya Rega, dimana ia mengatakan bahwa aku akan
ke London. Tapi buru-buru aku bilang ke Papa, bilang ke Rega nya jangan aku
yang datang. Bilang saja anaknya temannya Papa nya Rega yang ingin jalan-jalan
ke London. Dan Rega harus menjemputnya.
Aku ingin memberikan kejutan untuk Rega.
Jadi, aku tidak mau kalau sebenarnya anak temannya Papa nya Rega itu ya aku,
Vanilla.
Keberangkatanku ke London sekitar dua minggu dari sekarang. Email balasan dari
Rega juga sengaja kubiarkan. Biarkan saja. Di balesnya ntar aja pas ketemu
langsung, pikirku. Dua minggu terakhir ini aku sibuk senyum-senyum sendiri.
Menerka-nerka bagaimana reaksi Rega kalau tiba-tiba aku disana.
Ah, aku tidak sabar bertemu Rega.
“Syal, jaket, sepatu boots, udah?” Mama yang paling repot mengurus kepergianku.
Apalagi musim di sana sedang musin dingin. Jadi segala keperluan agar aku
hangat harus di bawa dan tidak boleh ada yang tertinggal.
“Udah, Ma.” kataku.
“Obat-obatan?”
“Ribet amat, Ma.” sahut Vandy yang baru pulang kuliah.
“Gimana gak ribet? Ini adek kamu mentang-mentang baru masuk kuliah udah minta
pergi ke luar negri—jauh lagi.”
Ifa dan Bagas mendengar kabar bahwa aku akan ke London juga seakan tidak
percaya.
“Lo serius, Van?”
“Lo gak boong, kan?”
“Ngapain sih gue boong.”
Pada akhirnya Ifa dan Bagas sibuk nitip barang yang mereka inginkan untuk aku
bisa membelikannya disana. Alasannya sih biasa, gak ada di Indonesia.
Dan bla bla bla.
****
Setelah menempuh perjalanan lama dan bokongku pegal akibat kelamaan duduk di
pesawat. Akhirnya aku menginjakkan kakiku di London Heathrow Airport. Seperti
orang yang tidak tahu apa-apa, aku celingukkan mencari Rega.
Rasanya deg-degan sekali setelah sekian lama tidak bertemu dengan Rega dan
tiba-tiba akan bertemu kembali. Sambil menarik koper aku berjalan saja ke arah
papan arahan membawaku keluar. Aku hanya berpanduan pada tulisan exit.
Sampai aku bisa melihat dari kejauhan tubuh yang sudah lama aku rindukan berada
sekitar duapuluh meter dari tempatku berdiri.
Rega, dengan jaket jeans yang melekat di tubuhnya berdiri duapuluh meter di
depanku. Tangannya sibuk memegang ponselnya, seperti menelpon seseorang.
Sepertinya dia menelpon Papanya karena si anak temannya lama banget datengnya.
Keliatan dari raut mukanya yang sudah sedikit kesal.
Dengan semangat juga sambil menarik koperku, aku berjalan mendekatinya. Senyum
jelas tergambar di bibirku. Sampa jarakku bersisa sekita lima meter di
belakangnya, aku baru akan menyapanya.
“Re—“ tapi suaraku tertahan di dalam kerongkongan ketika kulihat siapa yang
baru datang dan sekarang berdiri tepat di depan Rega. Catat, berdiri dengan
jarak yang cukup dekat. Aku memerhatikan dengan seksama apa yang mereka
lakukan.
Rega menaruh ponselnya di dalam saku celananya dan sibuk berbicara dengan
perempuan yang di depannya tadi.
Demi alam semesta, selama aku bersahabat dengan Rega belum pernah aku
melihatnya sedekat itu dengan perempuan. Apalagi sampai tertawa seperti itu.
Ada perasaan aneh di dalam hatiku—yang kuyakin itu pasti.. cemburu.
Tiba-tiba yang tadinya aku bersemangat untuk bertemu Rega menjadi tidak lagi
bersemangat. Semuanya seperti jatuh dan hanya menyisakan bulir-bulir kecil.
Sebenarnya siapa perempuan itu? Temannya? Tapi—Rega tidak pernah bercerita
tentang teman perempuan. Bahkan dalam emailnya yang selalu seabad di balasnya.
Sebelum sempat memikirkan semuanya, Rega berbalik untuk menghadap ke belakang.
Dan di saat itulah tatapan kami bertemu.
Bisa kulihat dengan jelas wajahnya yang sangat terkejut melihat keberadaanku.
Dia seperti baru melihat hantu, coba saja kalau sebelumnya aku tidak melihatnya
dengan perempuan itu. Mungkin aku sudah tertawa. Tapi—aku hanya diam saja.
“Vanilla?”
Bagus, lo masih inget nama gue, Ga.
24
By. MRs.M dan Lisha
Detik berikutnya Rega berjalan mendekat ke arahku dan menatap terlebih dahulu
tepat ke dalam mataku, seakan sedang memastikan bahwa yang di depannya
benar-benar aku atau tidak. Detik selanjutnya aku sudah berada dalam
dekapannya. Aku limbung sebentar dengan reaksi cepatnya.
Tapi mencium aroma khas tubuhnya membuatku sadar, aku balas memeluknya. I
really miss this guy for God’s sake. Setelah beberapa bulan tidak bertemu, Rega
tidak banyak berubah. Dia masih sama seperti Rega—ku—yang dulu.
“Gue gak lagi mimpi kan?” gumam Rega bego di dalam dekapannya.
Aku melepaskan pelukannya, “Perlu gue tabok buat mastiin?”
“Nggak, makasih.”
Aku melirik perempuan yang tadi, dari jarak yang cukup dekat aku bisa mengamati
wajahnya. Dia cantik—tipikal perempuan yang mau bersusah payah untuk merawat
diri walaupun dari gayanya tidak norak seperti perempuan kebanyakan. Satu lagi,
kurasa dia bukan bule.
Sadar, bahwa aku melirik perempuan disampingnya buru-buru Rega langsung angkat
bicara.
“Oh iya, Van, kenalin ini Raras, dia dari bandung, dapet beasiswa juga disini.”
kata Rega. “Ini Vanilla, Ras. Yang suka gue ceritain ke lo.”
Kalimat terakhir Rega membuatku senang sekaligus was-was juga. Senang, karena
itu artinya Rega tidak melupakanku. Was-was, karena hubungan apa yang sedang
terjalin di antara mereka sampai-sampai Rega mengatakan bahwa dia suka menceritakan
tentangku ke dia.
“Eh, h-hai.” jawabku ragu.
Raras tersenyum manis, aku saja yang perempuan mengakui kalau dia adalah
makhluk Tuhan yang hampir sempurna. Bagaimana kata laki-laki? Dan, bagaimana
kata Rega?
Pertanyaan yang terakhir segera kubuang jauh-jauh dalam pikiranku.
“Rega sering cerita tentang lo lho.” katanya renyah, dan aku menjadi serba
salah saat ini. Aku ingin—Ingin sekali kesal padanya, tapi sepertinya tidak
bisa. Aura yang Raras bawa membuatku tidak bisa kesal padanya.
Lagipula, untuk apa aku kesal?
Aku sama Rega kan belum ada status. Ya kalian mengertilah maksudnya.
“Ke flat gue aja langsung.” kata Rega.
****
Sejujurnya aku ingin sekali menanyakan perihal tentang Rega yang tiba-tiba
selalu membalas lama email dariku. Juga perihal kenapa dia tidak pernah on
skype. Tapi semuanya lagi-lagi tertahan seiring dengan percakapan antara Rega
dan Raras yang sama sekali tidak ku mengerti. Tadinya percakapan masih bertanya
perihal aku.
“Gue gak nyangka banget kalo ternyata anaknya temen bokap gue itu lo, Van.”
kata Rega sambil menyetir mobil. Aku baru sadar Rega sudah bisa menyetir mobil
di sebelah kiri. Lupakan, itu tidak penting dan tidak nyambung. “You surprised
me.”
You too, Abrega.
Setelah aku sampai di bandara dan melihatnya bersama perempuan yang bahkan
tidak kukenal. Gimana tidak membuatku terkejut?
Sekarang aku hanya duduk manis di samping Rega. Sementara Rega dan Raras sibuk
berbicara entah apa aku tidak mengerti. Raras menyampirkan kedua tangannya di
antara jok yang kududuki juga jok Rega.
Mendengar Rega tertawa dengan orang lain membuat sesuatu dalam diriku ingin
sekali memberontak tapi tidak bisa.
“Laper gak?” tanya Rega.
Aku yang daritadi hanya melihat ke jalanan dari jendela langsung menoleh
refleks, “Apa?”
“Kenapa sih daritadi diem aja? Gue nanya, laper gak?” ulangnya.
“Oh,” nafsuku makanku sudah hilang sejak tadi. “Nggak.”
“Lo Ras? Laper?” Rega menatap ke spion agar tidak perlu susah payah menoleh ke
belakang.
“Banget.”
Jawaban dari Raras memupuskan harapanku. Padahal aku ingin sekali langsung
sampai ke flat dan tidur di kasur. Tapi, yah, mau bagaimana lagi? Tidak mungkin
kan aku egois dan berperilaku seperti anak kecil?
Rega memarkirakn mobilnya di depan McD, aku penasaran juga apa rasanya sama McD
disini sama di Indonesia? Tapi—tadi kan aku bilang tidak lapar. Gengsi banget
kalau tiba-tiba berubah pikiran.
“Bener nih gak mau?” Rega menyodorkan sebuah burger kepadaku.
“Gak.” jawabku kesal. Jelas kesal ini sudah kesekian kalinya dia menawariku,
bahkan yang terakhir ini burgernya padahal sudah mau habis.
“Enak tau, Van burgernya. Beda sama di Indo.” kata Raras. Sekali lagi aku hanya
menggeleng. Padahal perutku sudah nge-rock minta di kasih makan.
Begitu sampai di flat, kukira Raras bakalan pulang. Tapi nyatanya dia masih di
dalam flat nya Rega. Ternyata mereka berdua mau mengerjakan makalah yang di
minta dosen mereka. Dan kerjanya berdua-berdua. Dan pertanyaannya adalah,
kenapa mereka harus berdua? Kenapa Rega gak sama temen laki-lakinya?
Tapi dalam hati aku berpikir juga sih, mungkin itu sudah di tentukan oleh
dosennya. Tapi----ya Tuhan, tidak tau deh.
“Kalo butuh apa-apa, bilang aja ya.” kata Rega sambil mengacak rambutku. How I
miss that moment.
Aku mengangguk mengiyakan. Lalu berjalan ke kamar—tunggu, ini hanya ada satu
kamar? Aku pun langsung berhenti dan berbalik agar bisa melihat Rega.
“Ga, ini Cuma satu kamar?” tanyaku.
“Iya, kenapa?”
“Terus nanti lo tidur dima—“
“Yaudahlah gampang, emang sih pesen Papa suruh lo nginep di hotel. Tapi—nggak
deh, gue gak bisa biarin lo sendirian. Jadi mending lo tidur disini.” jelasnya.
“Ga, gue udah dapet nih berkas-berkasnya.” suara Raras membuat Rega buru-buru
menyudahi pembicaraan kami berdua.
“Yaudah gih lo tidur sana, capek kan duduk mulu di pesawat? Gue ngerjain tugas
dulu.”
Yang kulakukan setelahnya adalah berjalan pelan dan masuk ke dalam kamar.
Menaruh koperku di tempat yang semestinya lalu merebahkan diriku ke atas kasur.
Dari dalam kamar ternyata bisa terdengar walau samar-samar suara di luar sana.
“How stupid you are, Abrega!” suara Raras samar terdengar jelas, kemudian dia
tertawa diiringi dengan gerutuan Rega.
“Dammit.”
Entah apa yang sedang mereka bahas, aku tidak mau tahu lagi. Hari pertama di
London tidak membuatku senang apalagi bahagia. Eh? Sama saja ya? Yaudah. Aku
hanya berharap hari-hari besok tidak seperti ini lagi. Jadi, aku bisa membahas
masalah boneka, mawar, juga surat itu.
Aku memejamkan mataku perlahan,
tak berapa lama kemudian aku sudah terbang ke alam mimpi.
****
Namun harapan hanyalah harapan.
Keesokan harinya saat aku bangun dan mengerjap-ngerjapkan mata. Aku tidak
mendapati Rega diatas sofa seperti tadi malam. Yang kutemukan hanyalah sebuah
kertas kecil di samping kasur.
Pasti baru bangun, kebo dasar,
Gue harus ke kampus pagi-pagi buat nyari buku
yang gue butuhin. Ohiya, udah gue buatin sarapan tuh di atas meja.
PS: Makan yang banyak ya. Awas kalo gak abis!
-R-
Aku hanya tersenyum di buatnya. Kemudian ku usap bagian -R- pada tulisannya.
Tulisan yang sama seperti di surat Rega waktu itu. Mau tidak mau aku tersenyum
lagi. Lalu setelahnya aku melirik ke meja di samping kasur. Ada sebuah roti
berisi omelet isi kornet. Juga ada susu coklat.
Aku bangun dari kasur dan mengambil susu coklat tersebut. Aku mengernyitkan
kening mendapati ada sebuah kertas di sampingnya lagi.
Susunya di minum yang banyak!
Ini kesukaan lo, kan? Rotinya juga abisin!
“Rega bego.” gumamku tanpa kusadari.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, tapi Rega belum juga pulang. Aku
menunggu di atas sofa sembari menonton acara televisi. Tak berapa lama kemudian
suara pintu terbuka. Aku menoleh dan langsung menghampirinya. Itu pasti Rega.
Ternyata memang Rega, tapi dia tidak datang sendirian. Lagi-lagi sama Raras.
“Hai Vanilla.” sapa Raras ceria.
“H-hai.” balasku kikuk.
“Sarapannya udah di makan kan? Nih gue bawain makanan, belom makan siang kan
pasti?” kata Rega.
Aku mengangguk dan menerima tentengan yang berisi makanan itu, “Lo udah—“
“Tadi gue sama Raras udah makan di luar, terus gue sekalian beli buat lo.”
Peganganku pada tentengan itu langsung hampir terjatuh. Refleks tangan Rega
langsung menahan tanganku.
“Gue.. ke kamar dulu.” aku langsung buru-buru berjalan cepat ke kamar dan
menutup pintunya.
Rasanya seperti apa ya? Seperti ada ratusan bahkan ribuan serpihan kaca menusuk
ke hati. Lebay? Emang. Tapi ini fakta. Bisa-bisanya Rega pergi seharian sampai
sore, bahkan aku belum makan siang, dan aku berharap dia pulang sendirian
ternyata sama Raras. Dan parahnya, dia sudah makan terlebih dahulu dengan
Raras.
Ya memang dia membawakanku makanan. But its unfair. Setidaknya dia bisa
membungkus makanannya dan memakan bersama-sama di flat.
Ah sudahlah, ini sudah terjadi. Untuk apa di ungkit-ungkit? Toh kenyataannya
mereka berdua sudah terlanjur makan berdua.
****
Hari ketiga di London aku sudah badmood, badmood parah. Catat itu.
“Udah tiga hari disini tapi lo belom kemana-mana, sori ya buat
kemarin-kemarin.” kata Rega saat sarapan.
“Gapapa.” kataku acuh sambil tetap memakan sarapanku.
“Hari ini kita jalan-jalan deh, mau?”
Aku sudah sangat ingin bilang iya sebelum sesuatu terlintas dipikiranku dan
membuatku tidak bersemangat lagi.
“Mau gak?”
“Sama siapa?”
“Ya lo sama gue lah.”
“Berdua?”
“Van, jangan bolot deh.”
Entah kenapa senyum keluar dari bibirku, “Yaudah mau.”
So, here we go. Westfield Shopping centre.
Salah satu jajaran mall terbesar di dunia. Aku dan Rega hanya melihat-lihat
saja tanpa ada rasa ingin membeli. Lagipula harganya mahal-mahal, mending beli
di Indonesia. Paling hanya beda merk saja.
Setelah bosan hanya berkeliling-keliling mall saja, kami berdua memutuskan
untuk pergi ke sebuah taman bermain. Tempat dimana banyak keluarga juga
pasangan muda-mudi yang menghabiskan waktu disana.
“Di Jakarta mana ada ya taman bagus kaya gini.” kataku.
“Iyalah.” jawab Rega. “Mau es krim?” tawar Rega yang kujawab dengan anggukan.
Rega bangkit berdiri untuk membeli es krim sementara aku masih duduk-duduk
sambil menunggu.
Tiba-tiba sebuah es krim sudah berada tepat di depan wajahku, “Es krim rasa
Vanilla buat Vanilla.” Rega sudah duduk di sampingku.
“Apasih gak lucu.” aku menerima es krim tersebut.
Sampai sore aku menghabiskan waktu bersama Rega. Tanpa ada gangguan sedikit
pun. Setidaknya ini bisa mengobati hari-hari kemarin.
Malamnya hujan tiba-tiba turun mengguyur, aneh sih di musim dingin yang
seharusnya turun salju malah turun hujan. Dan sedari tadi aku tidak bisa tidur
padahal sudah berulang kali untuk mencoba memejamkan mata. Di tambah petir
menambah efek pada usahaku untuk tidur. Aku bukan orang yang takut petir,
tapi—aku hanya memang tidak bisa tidur saja kalau ada petir.
“Gak bisa tidur?” tiba-tiba Rega sudah berdiri di sampingku.
“Nggak.”
Setelah mendengar jawabanku tiba-tiba ia langsung berbalik ke samping kasur dan
merebahkan dirinya ke atas kasur. Aku yang terperanjat kaget langsung terduduk
melihat aksinya.
“Lo ngapain?!” kataku panik.
“Tidur.” jawab Rega santai sambil memejamkan matanya.
“Di—sini?”
“Iya disini, gue juga gak bisa tidur. Lo juga sama kan? Yaudah kali aja orang
yang sama-sama gak bisa tidur di persatukan jadi bisa tidur.”
“Apaan sih, alesan lo gak jelas. Gue tidur di sofa kalo gitu.” baru aku akan
bangkit berdiri agar pindah ke sofa. Tangan Rega menahan tanganku sehingga aku
jatuh terduduk kembali.
“Gue gak bakal ngapa-ngapain, lagian kalo tidur di sofa ntar badan lo
pegel-pegel. Lo gak mau kan?” katanya. “Udah sini cepet tidur.” Rega menepuk
sisi kasur.
Dengan perasaan canggung aku pun mengikuti saja perintahnya. Rega juga pasti
tidak akan macam-macam. Sebelum—
“REGA, WHAT THE FUCK YOU DOING?”
Tangan Rega melingkar di sekitar pinggangku. Sialan, ini nervous banget. Kenapa
Rega kaya gini?
“Gue gak bisa tidur kalo gak ada guling, suruh siapa gulingnya lo ambil.” kata
Rega.
Aku menatap guling yang kupegang, aku juga sama. Tidak bisa tidur kalau tidak
ada guling.
“Tapi iss—“
“Shut up and sleep well, Vanilla.”
Malam itu untuk pertama kalinya aku tidur seranjang dengan Rega. Ya walaupun
tidak ngapa-ngapain tapi aneh aja. Gitu deh. Bye.
****
Pagi-pagi aku bisa mendengar suara gaduh dari luar sana. Aku
mengerjap-ngerjapkan mataku dan berusaha bangun dari acara tidurku. Aku tidak
merasakan sebuah tangan lagi di pinggangku, benar sekali saat aku menoleh Rega
sudah tidak ada.
Di luar sana makin gaduh, itu suara Rega---juga Raras?
Aku membuka pintu kamar dan sedikit terkejut—bahkan sangat terkejut mendapati
wajah Rega dan Raras sudah bersimbah tepung terigu. Aku tidak tahu mereka
sedang apa tapi ku yakin sepertinya mereka ingin membuat kue.
Jelas dari celemek yang mereka gunakan juga.
“Pagi, Vanillaaa.” sapa Raras. “Kita lagi nyoba buat bikin kue nih.”
“Lo tunggu aja ya, bentar lagi jadi kok.” sambung Rega.
Aku memaksakan untuk tersenyum, “Oh.. iya.. gue.. mau.. mandi dulu.” kututup
lagi pintu kamar.
Perasaan kesal menggerogoti hatiku, kemarin padahal sudah menjadi hari yang
cukup indah. Tapi sepertinya hari ini tidak akan. Aku menyenderkan punggungku
pada pintu dan memejamkan mata sebentar.
Gue gak tau mereka ada apa, tapi yang jelas mau gak mau, suka gak suka, gue
harus cepetan nanya ke Rega.
Pikiranku langsung berkecamuk saat itu juga. Bagaimana bisa Raras pagi-pagi
sudah berada di flat Rega? Apa itu sudah kebiasaan? Apa memang mereka sering
melakukannya?
Atau jangan-jangan,
mereka memang ada sebuah hubungan?
Tapi Rega tidak ingin—belum ingin—cerita kepadaku?
Kenapa aku merasa saat-saat ini pernah kulewatkan? Ini semacam deja vu. Aku
mencoba berpikir keras untuk tahu apa sebenarnya. Dan, suatu kekhawatiran
muncul dalam diriku. Tidak salah lagi. Ini sama seperti aku dan Raka dulu.
Mungkin mereka berdua memang tidak mempunyai hubungan,
tapi perasaan siapa yang dapat menahan?
Memikirkan kemungkinan itu membuatku terhenyak saat itu juga. Kalian tahu?
Kalian sudah sangat senang ketika mengetahui suatu hal yang tidak pernah
terpikirkan ada di depan mata kalian dan ketika kalian hendak ingin meraih
suatu hal tersebut tiba-tiba ada suatu hal yang sudah siap menghalangi, kalian
tahu?
Itu sama saja kalian di bawa ke langit ke tujuh lalu di hempaskan begitu saja
tanah bumi. Sakit.
25
By. MRs.M dan Lisha
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi Rega belum juga masuk ke dalam
kamar. Aku yang kebetulan memang sedang tidak bisa tidur akhirnya menyingkap
selimut dan bangkit dari kasur untuk keluar kamar. Di ruang televisi dan dapur
tidak kutemukan Rega.
Lalu langkahku beranjak ke arah balkon. Benar saja, Rega sedang duduk disana.
Dia sedang—melamun? Sejak kapan Rega suka melamun? Malam-malam pula.
“Gak bisa tidur lagi?” tanya Rega yang merasakan kehadiranku.
Aku menggeleng pelan dan duduk di kursi sebelah Rega. Dia menyeringai untuk
beberapa saat, dan sejak kapan Rega jadi suka menyeringai?
“Mau gue temenin lagi?” tanyanya menggoda.
“Never in your wildest dream.” jawabku datar tapi setengah tajam.
“Kalo duduk disini malem-malem enak banget, lo bisa mikirin tentang apa aja.”
katanya.
Aku menoleh ke arahnya, “Apa aja? Termasuk tentang—Raras?” entah refleks
darimana tiba-tiba aku bertanya seperti itu. Sayangnya perkataan dibibir
bukanlah perkataan di sebuah tulisan yang bisa di hapus. Aku tidak bisa lagi
menariknya lagi.
Rega mengernyitkan dahinya sebentar, “Kenapa jadi Raras?” tanyanya memastikan.
“Penasaran aja—Raras tuh orangnya easy going banget ya? Kaya gak pernah sedih
gitu.” jelasku.
Bibir Rega berkedut membentuk sebuah garis senyuman, “Raras emang baik—dia
berjuang banget buat dapetin beasiswa kesini. Karena, dia pengen ngeliat
almarhum bokapnya seneng di atas sana.”
“A-almarhum? Maksudnya—“
“Bokapnya Raras meninggal waktu dia masih SMP, Raras anak pertama dan dia harus
jadi tulang punggung keluarga buat biayain hidup nyokapnya sama dua adek nya,”
cerita Rega. “Gue salut banget sama dia, dia berjuang mati-matian banget buat
hidup.”
Aku terhenyak sesaat, berarti komentarku tentang Raras mengenai tipikal
perempuan yang suka merawat diri salah besar. Bagaimana dia bisa merawat
dirinya sementara ibu dan dua adiknya mengerang kelaparan?
Tiba-tiba aku merasa jadi sangat bersalah pada Raras. Dugaanku di awal benar,
bagaimanapun juga tidak mudah untuk kesal apalagi benci dengan Raras. Dia
terlalu—ceria, menurutku. Kalau aku jadi Raras mungkin aku sudah bunuh diri
kalau dari SMP sudah harus jadi tulang punggung keluarga.
“Gue merasa, gue jadi useless dengernya.” komentarku setelah beberapa saat
diam. “Lo—suka dia?” akhirnya, kalimat inilah yang sudah ku pendam sejak
pertama kali menginjakkan kaki kesini.
Rega diam beberapa saat lalu menghela nafas sebentar, “Mungkin.”
Walaupun jawabannya memang bukan iya, aku merasa dunia tiba-tiba jadi gelap.
Sekarang aku benar-benar merasa—terlambat. Mungkin ini karma yang kudapat
setelah tidak peka dengan Rega. Dan aku harus menerima kenyataan kalau Rega
sudah hampir pindah.
“Kadang gue merasa Raras bisa aja tiba-tiba jatuh, dan gue siap buat nolongin
dia. Kapanpun.”
Sekali lagi kawan, sekali lagi aku merasa benar-benar terlambat. Setelah aku
mengetahui semuanya. Tentang perasaanku, perasaan Rega. Kini fakta berbalik 180
derajat dari yang sudah kuperkirakan. Kukira perjalananku sampai ke London akan
membuahkan hasil. Tapi kenyataannya tidak seperti yang kukira.
“Raras pantes buat lo.” tanggapku akhirnya. Aku menahan nyeri di ulu hatiku
yang terdalam dan sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan butiran airmata. “Gue
bakal dukung lo kalo lo sama dia.”
Tapi setidaknya Rega tidak bersama dengan perempuan yang salah. Setidaknya
Raras tidak seperti perempuan kebanyakan. Setidaknya Raras jauh lebih baik
dariku. Setidaknya Raras tidak manja dan bego sepertiku. Setidaknya Raras lebih
tegar dariku. Yah, akhir cerita tidak semuanya harus bahagia kan? Apalagi ini
realita.
“Terus, lo gimana sama Raka? Masih kan?” tanya Rega kemudian.
Aku tersenyum miris tapi pasti tidak kentara, “Masih, kita.. baik-baik aja.”
dan terpaksa aku berbohong pada Rega. Tidak mungkin kan kalau aku bilang
hubungan kami sudah berakhir? Tidak mungkin kan aku menyebutkan alasannya? Toh
Rega juga sudah hampir pindah, jadi tidak ada gunanya.
“Bagus deh, dia gak pernah macem-macem kan sama lo?”
Aku tersenyum geli, “Nggak, Ga.” jawabku.
“Udah malem banget nih, tidur gih. Nanti lo kedinginan terus sakit lagi.”
Aku tersenyum mendengarnya, mau bersama Rega atau tidak. Yang penting Rega
tetap menjadi sahabatku. Dia tetap peduli terhadapku.
“Lo juga ya.” kataku sambil bangkit dari kursi dan masuk ke dalam kamar.
Berjalan gontai ke kamar dan membuka pintu perlahan. Di balik selimut kemudian
aku menumpahkan semuanya.
Forget me, forget you. I can’t remember what I was so into. When you feel
alone, don’t try to come in anymore cause I outgrew. Your smile, your eyes, you
should know..
You’re not that unforgettable, Abrega Mahardika.
****
Dua hari setelahnya aku memutuskan lebih baik untuk kembali ke Jakarta. Ini
tidak seperti niat awalku untuk berada disini selama dua minggu. Ini baru
seminggu dan aku sudah ingin pulang. Untuk apa berlama-lama disini kalau sudah
mengetahui jawabannya?
“Pa, Vanilla mau pulang ke Jakarta..” itu kalimat keesokan paginya kepada Papa
lewat telpon setelah mengetahui segalanya. Tadinya Papa bingung kenapa aku
ingin cepat pulang. Aku hanya menjawab tidak kuat dengan cuaca disini dan
terkena flu. Papa percaya dan mengiyakannya.
“Tiba-tiba Papa nelpon katanya ada acara keluarga penting, gue juga gak tau
acara apaan.” itu kalimat kepada Rega setelah aku baru selesai menelpon Papa.
Rega dan Raras mengantarku sampai ke bandara. Setengah jam lagi aku sudah boleh
masuk ke dalam pesawat. Raras tidak henti-hentinya bilang kepadaku harusnya aku
bisa lebih lama disini dan dia bisa menunjukkan tempat-tempat bagus. Tapi aku
hanya menjawab nanti saja kalau ada liburan lagi.
“Jadi—ada surprise lagi kah?” tanya Rega saat aku sudah bersiap bangun dari
tempat duduk karena sudah harus masuk pesawat.
“Mau banget?” tanyaku.
Rega mengacak rambutku, “Take care without me, again.”
“I will.”
Setelah mengucapkan kalimat barusan Rega membawaku ke dalam dekapannya. Mungkin
sehabis ini tidak akan lagi pelukan-pelukan seperti ini. Jelas tidak mungkin,
siapa tahu sehabis menyelesaikan kuliahnya Rega langsung melamar Raras.
“Gue seneng banget bisa ketemu sama lo, Ras.” kataku.
“Gue juga!” katanya. Lalu kami berdua pelukan juga. “Kirim-kirim email ya,
jangan lupa.” sambungnya.
Aku ingin sekali bilang jagain Rega ya selama disini. Jangan sampai kesangkut
bule-bule yang genit-genit. Tapi tidak jadi.
Aku melambaikan tanganku untuk terakhir kalinya pada mereka. Sekilas sebelum
aku berjalan menjauh aku melihat ada seberkas kilatan cahaya di mata Rega.
Entah apa, aku tidak tahu.
Aku berjalan dan tidak menoleh ke belakang lagi.
Sampai rumah aku memasang wajah pura-pura senang sehabis liburan. Biar tidak
ada yang tahu. Aku juga tidak memberi tahu Ifa dan Bagas mengenai kepulanganku
yang lebih cepat. Kalau mereka tahu pasti mereka akan bertanya-tanya soal
apakah aku sudah mengatakan semuanya apa belum. Dan aku sedang tidak ingin
membahas masalah itu.
Untuk pertama kalinya aku menulis diary seumur hidupku. Bukan diary juga
sebenarnya. Melainkan sebuah kertas—surat bisa di bilang.
Sekarang gue baru percaya karma itu ada, gue gak nyesel kejadian ini nimpa gue
sekarang. Gue malah bersyukur seenggaknya ini bisa ngebales semua perlakuan gue
ke Rega selama ini. Dan rasanya sakit, itu pasti. Tapi yang bikin gue seneng,
berarti gue sama Rega sama-sama pernah ngerasain.
Ha-ha, gue sama dia emang kayanya udah sehati banget. Oke, sehati dalam konteks
berbeda. Gara-gara ini gue jadi lebih belajar buat ngerti perasaan orang dan
bisa sedikit lebih peka.
Someone said:
“Meeting you was fate, becoming your friend was a choice, but falling in love
with you was beyond my control.”
I’m sorry, Abrega.
I’m falling in love with you.
-V-
Bagian akhir aku mengutip surat Rega waktu itu. Anggap saja aku baru mengikuti
Rega. Setelah menulisnya aku melipat kertas itu lalu membuka laci meja dimana
surat Rega ada di dalam sana. Aku menaruh suratku di sampingnya.
Bukan apa-apa, anggap saja ini semacam benda untuk mengingatkan aku kembali
saat aku sudah mempunyai kehidupan masing-masing.
****
Rega
Gue terpaksa boong sama Vanilla. Gak mungkin banget gue move on secepet itu.
Mungkin kalo gue punya waktu 50 tahun buat hidup. Selama itu pula rasa sayang
gue Cuma buat Vanilla.
Pernah denger yang namanya cinta pertama?
Kata orang first love mean true love, tapi kayaknya itu nggak buat gue. Vanilla
udah seneng sama Raka. Terus gue bisa apa? Gak mungkin gue kaya orang tolol tiba-tiba
bilang gue cinta dia sementara dia taunya kita berdua Cuma sebagai sahabat.
“Harusnya lo bilang tentang semuanya, Ga.” suara Raras memecah lamunan gue.
“Nggak seharusnya lo berlagak akting di depan dia. Gue juga jadi merasa
bersalah soal kemarin-kemarin. Seakan-akan kita tuh ada apa-apa.”
“Gue rasa Vanilla cemburu ngeliat kita waktu itu, lo gak liat dari raut mukanya
yang tiba-tiba berubah?” lanjut Raras.
“Gak mungkin dia cemburu, buat apa dia cemburu?”
“Whatever ya, Ga. Gue sih Cuma ngeluarin pendapat aja.”
Seminggu setelah Vanilla pulang ke Jakarta. Om Hendra nelpon gue. Gue lagi di
perpustakaan dan terpaksa harus keluar gara-gara gak mau ganggu yang lain.
“Makasih ya, Ga. Kamu udah nemenin Vanilla selama seminggu disana. Sayang ya,
Vanilla gak tahan cuaca dingin jadinya dia harus pulang.”
Cuaca dingin?
Tunggu—Vanilla bilang ke gue kalau dia ada acara keluarga. Gue baru mau nanya
maksudnya Om Hendra apa tapi Om Hedra udah lebih dulu ngomong.
“Yaudah ya, Ga. Om mau kerja lagi. Makasih ya sekali lagi.”
“I..ya, Om.”
Dan seharian ini gue mikirin kenapa Vanilla harus bilang ke gue kalau mendadak
ada acara keluarga? Kenapa dia gak bilang yang sebenernya ke gue?
“Gimana sama Vanilla disana?” gue lagi skype-an bertiga sama Ifa, Bagas.
Akhir-akhir ini semenjak Vanilla pulang ke Jakarta dia jadi jarang email gue
lagi kaya waktu dulu. Sekarang malah kebalikan, dia yang balesnya lama.
“Ya gak gimana-gimana.”
“Vanilla udah bilang?” tanya Ifa.
“Bilang apa?” gue balik nanya.
“Bilang—“ Ifa baru mau ngelanjutin tapi Bagas motong.
“Lo sama Vanilla udah jadian, kan? Dua minggu cukup tuh buat ngelepas kangen?”
“Tunggu, gue gak ngerti sama omongan lo semua. Lagian Vanilla disini Cuma
seminggu bukan dua minggu.”
Ifa natep bingung ke gue, “Jadi—dia belum bilang ke lo?”
“Bilang apasi?” gue jadi mulai was-was.
“Tentang semuanya.” kata Ifa, gue makin bingung. “Vanilla udah tau hadiah,
mawar, sama surat lo—“
Gue udah gak bisa dengerin apa-apa lagi. Yang gue lakuin saat itu juga adalah
berdiri dari tempat gue dan langsung mesen tiket pesawat ke Jakarta buat besok.
Gue udah gak peduli apa-apa lagi selain.. Vanilla.
****
Aku memegang dua surat itu di tanganku. Ternyata benar ya kata orang, suara
ombak pantai adalah musik paling indah yang bisa menghangatkan jiwa. Tiba-tiba
aku merasa ingin pergi ke pantai dan langsung meminta Pak Joko untuk membawaku
ke sana.
Sebentar lagi matahari akan terbenam. Memberi tambahan keindahan pantai. Aku
memejamkan mata untuk turut merasakan keindahannya sampai suara yang sangat kukenal
terdengar sampai ke telinga.
“Kenapa putus dari Raka gak bilang-bilang gue?”
Aku cepat menoleh ke arah sumber suara dan mendapati sosok yang selalu
kurindukan berada di depanku.
“Re-ga?” nafasku tertahan di kerongkongan.
“Kalo tau gitu kan gue bisa langsung ngejar lo.” bibirnya terangkat sebelah ke
atas. “Gue udah tau semua, Vanilla.” suaranya berubah jadi lembut.
Aku mengerjapkan mata, ini bukan mimpi kan? Kalau memang ini mimpi, aku mohon
dengan sangat jangan bangunkan aku dari mimpi ini.
“Gue cin—“
“Nggak, nggak. Gue gak mau denger. Gue bisa gak bayangin lo ngucapin itu ke
gue.” kataku memotong. “Gue ngeri.”
Rega mendekat kearahku dan langsung memelukku, “Gue cinta sama lo, mau lo gak
mau denger juga gue tetep bakal bilang dan bakal selalu bilang kalo selamanya
lo di samping gue.” kata Rega pelan di sela-sela pelukannya.
“Raras gimana?” tanyaku.
Rega tertawa sebentar, “Lo jangan ngaco, gak mungkin gue bisa pindah dari lo.”
“Boong.”
“Kalo boong—“
“Ngapain nanya.”
Rega mengacak rambutku sebentar, senyum tergambar jelas di bibirnya. Kemudian
wajahnya berubah menjadi serius. Menghela nafas sebentar lalu---
“Would you be my Vanilla for the rest of my life?”
-THE END-
Epilog
By. MRs.M dan Lisha
Ini sudah hampir setengah jam aku menunggu Rega di depan butik langgananku
dengan keluargaku. Sudah berulang kali juga pelayan butiknya menyuruhku untuk
menungguku di dalam, tapi aku menolak dengan alasan nanti malah tambah lama
kalau Rega harus repot-repot memarkir mobilnya.
Rega tuh kenapa sih? Ini istrinya lagi hamil. H a m i l. Malah di suruh nunggu
lama kaya gini? Janjinya Cuma meeting sebentar, tapi ini? Pokoknya kalau dia
datang jangan harap aku akan ngomong sama dia. Oh ya, juga makan malam, masak
saja dia sendiri atau beli.
Tepat pada saat aku sudah kesal tingkat dewa mobil hitam metalik yang plat
nomernya sudah ku hafal di luar kepala berhenti tepat di depanku. Laki-laki di
dalamnya alias Rega alias sua—Err aneh manggil dia suami, keluar dari mobil.
Kacamata hitam yang di pakainya ia lepas saat menghampiriku.
“Lama ya?” tanyanya.
Udah tau nanya.
“Kamu tuh kenapa sih? Aku udah setengah jam nunggu ya disini—kamu bilang
katanya Cuma sebentar meetingnya? Sebentar dari hongkong.” yang tadinya aku
berniat mendiamkannya aku malah menumpahkan kekesalanku.
“Yah maaf deh, aku tadi di jalan beli—“ ia mengeluarkan sesuatu di balik
pungungnya. “Ini dulu buat kamu.” dan sesuatu itu adalah mawar merah. Mawar
merah yang sama seperti dulu.
Tiba-tiba aku jadi tidak bisa berkata-kata, ingin marah tapi sudah terlanjur
tidak marah lagi gara-gara ini. Rega selalu seperti itu, kalau aku sedang marah
ia pasti akan melakukan hal-hal di luar bayanganku untuk membuatku tidak jadi
marah. Dia sangat unpredictable.
“Sekali ini aja, kalo lagi-lagi kaya gini. Gak ada maaf. Tidur sana di luar
kamar.” aku mengancam Rega dengan menjentikkan telunjukku ke depan dia.
Kemudian mengambil dengan ketus mawar nya.
Melihat reaksiku Rega malah menahan geli dalam senyumannya, “Oke jadi, bisa
kita langsung pulang?”
“Bisa banget.” aku ngeloyor langsung masuk ke dalam mobil. Di luar mobil aku
bisa melihat Rega tersenyum renyah melihat tingkahku. Matanya sedikit menyipit
akibat terkena sinar matahari. Lalu sebelum dia masuk ke mobil dia memakai
kacamata hitamnya kembali.
Sudah hampir tiga tahun lepas dari peristiwa Rega yang menghampiriku setelah
aku menghampirinya ke London. Rega yang sudah tau semuanya—juga tentang aku
putus dengan Raka. Kemudian tanpa banyak berkata-kata dia melontarkan kalimat
yang menurutku paling bermakna selama aku hidup.
“Would you be my Vanilla for the rest of my life?”
Buat apa lagi aku gengsi untuk pura-pura menolaknya terlebih dahulu? Toh kita
berdua sudah sama-sama tahu tentang perasaan masing-masing. Jadi, singkatnya
aku menerimanya.
Jadilah kami sekarang, setahun menikah dengan Rega membuatku—apa ya? Sebenarnya
sama saja seperti dulu. Hanya saja sekarang sudah beda status. Dan Rega jadi
manja. Entah sejak kapan sifat itu muncul.
“Sayang, jas aku yang minggu kemarin baru di beli mana?” suara Rega membuatku
yang sedang menonton tv beranjak dari posisiku.
Tanpa berkata-kata aku berjalan ke arah kamar tanpa memedulikan pandangan Rega
aku membuka lemari. Hanya beberapa detik aku dapat menemukan jas nya.
“Ini apa?” kataku ketus. Rega hanya cengar-cengir. “Kalo nyari tuh tangannya
yang kerja bukan mulutnya.” aku baru akan keluar lagi dari kamar sebelum
sesuatu merengkuh tubuhku dari belakang.
“Yah kalo kaya gitu apa gunanya kamu dong? Kamu kan istri aku, tugas istri
harusnya ngelayanin suaminya.” katanya tepat di samping telinga.
Aku berbalik menghadapnya, “Tapi istri itu bukan pembantu ya. Jangan tega dong
nyama-nyamain istrinya sama pembantu.”
“Aku gak bilang kaya gitu lho tadi.” Rega terkekeh sebentar.
“Tapi kalimat kamu menyiratkan kaya gitu. Udah deh, jangan bikin kesel mulu.
Mau nih ntar anaknya jadi rada-rada kaya orang gila?”
“Apaan sih, orang gila-orang gila. Bapaknya ganteng gini masa anaknya jadi
rada-rada.” katanya.
“Iya iya serah, sana cepetan ganti baju. Ntar telat ke kantor, jangan mentang-mentang
perusahaan keluarga kamu seenaknya masuk.”
“Iya sayang iyaaa.”
****
Untuk ke sekian kalinya aku harus menunggu Rega. Memang sih aku tahu dia
sibuk—banget. Tapi bisakan harusnya ngabarin dulu atau paling tidak jangan
memberi janji-janji palsu. Katanya di awal sudah bilang di awal iya gak akan
telat. Taunya?
Tapi kali ini setengah jam yang lalu Rega memang sudah mengabariku lewat pesan
singkat yang mengatakan ia harus menemui klien, mendadak memang katanya. Tapi
dia bilang tiga puluh menit lagi akan sampai. Tapi—ini? Satu jam.
Aku baru mengambil baju pesananku di butik untuk pergi ke acara pernikahan
teman semasa SMA. Juga mantan semasa SMA. Yah, Raka akan menikah minggu depan.
Bulan lalu aku mendapatkan undangannya dan aku setengah berteriak melihat siapa
mempelai wanitanya. Bahkan Rega sampai tergopoh-gopoh menghampiriku yang berada
di depan pintu.
Raras.
Dia sudah hampir menikah dengan Raka. Aku turut senang mendengarnya. Langsung
saja aku menelpon Raka saat itu juga. Aku meminta penjelasan kenapa dia bisa
bertemu Raras sampai akhirnya mau menikah seperti itu.
Singkatnya, Raka sedang ada tugas keluar kota di Bandung dan kebetulan sekali
Raras baru menyelesaikan kuliahnya di London. Mereka bertemu—nyambung—saling
suka—pacaran—hampir menikah.
Dan sudah tepat satu jam aku menunggu Rega.
Aku menekan dial pada nomer Rega untuk menelponnya. Saat nada sambung
terdengar, sebuah tangan melingkar di pinggangku.
“Lagi nungguin suaminya ya?” suara Rega lembut terdengar di telingaku.
Mendengarnya membuat tanganku hampir menjatuhkan ponselku.
Tapi aku tidak mau terlena dengan itu semua, aku buru-buru melepaskan tangannya
di pinggangku.
“Malem ini kamu tidur di luar.” kataku datar.
“Kok gitu?” Rega memasang tampang innocent nya.
“Aku marah sama kamu.”
“Aku gak bisa tidur kalo gak sama kamu.. jangan marah dong yaa? Janji deh aku
gak kaya gitu lagi. Serius, sumpah.”
Aku mendelik ke arahnya dan meninggalkannya lalu masuk ke dalam mobil. Di dalam
mobil Rega masih bersikeras tidak mau tidur di luar ataupun di kamar lain.
Melihat Rega yang seperti itu mau tidak mau aku luluh juga.
“Iya boleh di tidur di kamar, tapi jangan deket-deket aku tidurnya.” kataku.
“Yaah, aku gak bisa meluk kamu dong?”
“Apaansih Rega udah di kasih hati jangan minta jantung dong.”
Dan Rega hanya bisa mengangguk mengiyakan. Mungkin di pikirannya, daripada
tidur di luar.
****
Resepsi pernikahan Raka dan Raras sama seperti Tante Shalom waktu itu. Mereka
berdua memilih pesta kebun. Mungkin karena kalau di gedung akan terasa pengap
kali ya. Lagipula juga bosan.
Ifa sudah datang dengan Dio—teman sekelas Rega waktu di SMA, mereka sudah
menikah dan di karunia satu anak perempuan. Umurnya baru sekitar lima bulan.
Yang jelas Ifa menikah lebih dahulu daripada aku. Sementara Bagas juga datang
bersama Dita—pacarnya sejak SMA, Bagas memang sepertinya sudah cinta mati sama
Dita, hubungan mereka awet sekali dari SMA. Mereka baru menikah bulan lalu.
Melihat itu semua, aku tersenyum pada diri sendiri. Tidak menyangka mereka
semua sudah menikah. Padahal dulu kami suka bermain ABC lima dasar bersama,
kabur bersama, juga melepas masa-masa putih abu-abu bersama. Dan sebenarnya ini
terasa aneh bagiku. Apalagi Ifa yang notaben benci anak kecil malah sekarang
yang pertama lebih dahulu punya anak.
“Selamat ya.. i’m happy for you both.” kataku saat menghampiri Raka dan Raras.
“Semoga langgeng sama kakek nenek.”
Raka tersenyum, “Thanks, Van. Lo juga ya sama Rega.” Raka melirik Rega.
“Congrats, bro.” kata Rega menyalami Raka. “Raras cewek baik-baik, jangan di
sakitin.”
Buru-buru ku cubit pinggang Rega, Rega mengaduh.
“Apaan sih, Ga. Emang Raka bakalan ngapain Raras sih?”
Raka dan Raras hanya tertawa menanggapinya.
“Gue percaya kok, Raka yang terbaik hehe.” sahut Raras.
Setelah itu kami befoto bersama.
Badanku serasa pegal semua sehabis dari acara pernikahan Raka dan Raras. Entah
mungkin itu efek dari kehamilanku juga kali ya? Padahal biasanya aku tidak
gampang pegal-pegal.
“Capek?” tanya Rega menghampiriku ke samping tempat tidur sambil menyentuh
kepalaku. Aku hanya mengangguk sebagai tanda jawaban.
“Mau aku pijitin?” tanyanya lagi.
“Gak.”
Terakhir kali aku meminta di pijat, Rega bukannya memijat malah—Err tidak usah
di jelaskan kalian pasti mengerti. Maka dari itu, aku tidak pernah mau lagi di
pijat. Never.
“Udah sana ah tidur, aku mau tidur.” kataku.
“Yaudaah.”
****
1 year. 12 months. 365 days. 8760 hours. 525600 minutes. 31536000 seconds
later..
“Siapa cowok paling ganteng di duniaaa?”
Papa.
Yah, aku sudah tau jawaban yang akan di berikan Nathan terhadap pertanyaan Papa
nya barusan. Rega selalu menanyakannya seperti tidak pernah bosan dan Nathan
selalu menjawabnya.
“Papa!”
Benar kan?
“Cowok ganteng kedua siapaa?”
Nathan.
Jawaban itu pun aku sudah tahu. Sebelum Nathan lahir, Rega sudah mempersiapkan
semuanya. Hasil dari dokter katanya anaknya perempuan. Rega sudah membeli
peralatan yang berbau pink-pink. Dan hari dimana aku melahirkan Nathan—semua
orang mendadak diam. Yang keluar ternyata laki-laki.
Rega sudah mempunya niatan untuk membeli peralatan untuk laki-laki dan
menyumbangkan saja peralatan yang berwarna pink-pink. Tapi aku selalu
menentangnya.
“Gimana kalo anak kita nanti jadi agak mirip—cewek?” Rega bergidik
memikirkannya. “Gak, aku gamau.”
“Yaudah si, Ga. Emang ada hubungannya? Sayang-sayang banget udah beli peralatan
sebanyak ini masa mau di sumbangin gitu aja? Gak, aku gamau.”
“Tapi sayang—“
“Nggak, Rega.” dan pada akhirnya dia mengalah. Dia memang selalu mengalah.
Maka dari itu Rega bersikeras mendidik Nathan agar jadi laki-laki banget
walaupun dulu peralatannya sampai kamarnya pun berwarna pink. Tapi—kayanya
bertanya siapa yang paling ganteng kayanya itu tidak nyambung deh. Yaudah lah,
terserah Rega aja.
“Nathan!” suara Nathan terdengar sampai telingaku.
“Tos dulu dong yang sama-sama ganteng.” aku yang mendengarnya menjadi
senyum-senyum sendiri. Cara Rega mendidik anak memang super aneh.
“Kalo cewek yang paling cantik di dunia siapaa?” tanya Rega lagi.
Aku sudah kepedean dengan jawaban yang akan di berikan Nathan. Pasti gue lah,
gue kan emak nya, batinku.
“Nadiaa!”
APA?
Nathan—kayanya kamu sudah tertular virus kekurangajaran Papa mu deh. Nathan
baru masuk sekolah dasar bulan lalu dan aku baru tau kalau ternyata diam-diam
dia sudah suka-sukaan sama perempuan?
Aku langsung beranjak ke depan tv untuk melihat Nathan dan Rega yang sedang
duduk-duduk bareng sambil main mobil-mobilan.
“Siapa tuh Nadia?” tanyaku sambil duduk di sofa.
“Nadia cantik, Ma. Aku suka Nadia.” jawab Nathan tanpa dosa.
Aku mengerjapkan mata sesaat, “Su-ka?” aku melirik Rega, seperti menyalahkan.
“Gara-gara kamu nih.”
“Kok aku?” Rega menatapku dengan tampang tidak bersalah.
“Kamu sih dulu genit sama cewek jadinya anaknya ikutan kan.”
“Sejak kapan aku pernah deket sama cewek selain kamu?”
Iya sih.
“Pokoknya gara-gara kamu.” aku tetap menyalahkan.
Rega berbalik memandang Nathan, “Kalo Papa sih, cewek paling cantik di dunia
jelas Mamanya Nathan laah. Yaa walaupun sering bolot.”
“REGA!” Rega hanya tertawa-tawa menanggapi.
“Oh iya, aku lupa. Iya deh Mama deng yang paling cantik.” Nathan menghentikan
mainan mobil-mobilnya lalu berjalan mendekat ke arahku. “Mama yang paling
cantik di dunia!” Nathan memegang kedua pipiku dengan tangannya yang masih
kecil.
Aku jadi merasa terharu gimana gitu. Ya Tuhan, kenapa anak yang kau berikan
padaku lucu sekali sih?
“NATHAAAAN!” Nathan langsung menoleh ke arah pintu utama. Sepertinya
teman-temannya sudah memanggilnya untuk bermain. “MAIN YUUUK!”
“Ma, Nathan mau main dulu yaa. Boleh kan?” ijinnya kepadaku.
“Iya boleh sayang, jangan kotor-kotoran ya mainannya.”
“Pulangnya jangan kesorean.” sambung Rega.
“Iya Mama cantik. Iya Papa ganteng.” jawabnya. “Dadaaaah!” Nathan berlari-lari
kecil keluar rumah. Aku memandangnya dengan senyuman di wajahku, begitupun juga
Rega.
Rega tiba-tiba sudah duduk di sampingku dan merangkulku, “Nathan kan lagi
main..”
“Terus?”
“Kita bikin adek buat Nathan yuk, kayanya Nathan kesepian deh.”
“REGA AP—“
Belum sempat aku berteriak menjawab aku sudah di bawa Rega menuju ke kamar.
Percuma juga mau memberontak seperti apa. Lagipula, itu sudah menjadi tugas
seorang istrikan untuk melayani suami?
“I hate you so much.” kataku.
“Love you too.”
Kemudian di tutup dengan bibirnya yang menyentuh bibirku.
Selanjutnya-------bye. Itu rahasia.